Berbakti Kepada Ibu dalam Perspektif Rasulullah

Ibu adalah guardian angel terbaik yang akan mengerahkan segala kemampuannya untuk melindungi anak-anaknya


Dalam hadisnya, Rasulullah bersabda:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ مِثْلَهُ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’i telah menceritakan kepada kami Jarir dari ‘Umarah bin Al Qa’qa bin Syubrumah dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” Ibnu Syubrumah dan Yahya bin Ayyub berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah hadis seperti di atas.” [H.R. Bukhari]

Hadis di atas membahas tentang siapa yang berhak digauli dengan baik. Seperti riwayat-riwayat lain yang mengisahkan sifat baginda Nabi yang menginspirasi umatnya termasuk saya sendiri. Salah satunya adalah melalui hadis di atas.

Dari hadis di atas, terlihat jelas betapa Rasul sangat menghargai perempuan terutama yang berstatus sebagai ibu. Sifat Rasul tersebut sangat patut untuk dijadikan sebagai panutan. Karena tidak sedikit kita menemukan banyaknya kasus seorang anak yang durhaka terhadap ibunya. Betapa banyak anak di luaran sana yang memilih untuk mengabaikan perintah sang ibu, dan betepa banyak di zaman modern ini yang memilih untuk mengabaikan telepon dari ibu saat sedang berada di tongkrongan dengan alasan malu untuk dicap sebagai ‘anak mami’

Padahal dibanding dengan kita, Rasulullah tentu jauh lebih mulia dari pada kita, yang keberadaannya jauh lebih penting dari pada kita namun begitu memuliakan seorang ibu dan menetapkan derajatnya tiga tingkat dibanding ayah. Meskipun seperti yang kita ketahui kisah Rasul, Rasul hanya sebentar dapat merasakan kebersamaan dengan ibunda beliau. Saat masih bayi beliau sudah dititipkan pada ibu asuhnya dan pada umur enam tahun beliau ditinggal sang ibu untuk selamanya dari dunia.

Melihat bagaimana Nabi yang statusnya telah ditinggal ibu sejak usia belia namun begitu menjunjung derajat ibu, sudah sepatutnya kita-kita yang mengaku sebagai umatnya menjadikan beliau sebagai pedoman, termasuk saya pribadi  yang hingga saat ini masih mendapatkan kesempatan bersama ibu dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk berbuat hal-hal baik kepada ibu, menunjukkan bakti kepada ibu.

Salah satu langkah awal menunjukkan bakti kepada ibu adalah dengan melaksanakan perintah dari ibu yang terkadang kita anggap sepele, hingga tidak jarang mengabaikan. Jujur, saya juga kadang seperti itu. Padahal kita tentu tahu betul tidak ada ibu yang berniat untuk memperbudak anaknya sendiri dengan memerintah anaknya. Tak sedikitpun ibu pernah berniat untuk menyusahkan anak-anaknya. Namun terkadang kita sebagai anak, merasa terbebani dan merasa bahwa perintah ibu itu menyusahkan dan membuang waktu.

Namun setelah direnungkan, waktu yang kita habiskan untuk sekedar mengabdikan bakti pada ibu hanyalah sebagian kecil dari banyaknya waktu untuk kepentingan kita sendiri, namun seakan begitu sulit untuk melakukan hal tersebut.

Sangat wajar dan tepat jika baginda Nabi Saw. Menempatkan derajat ibu tiga tingkat di atas ayah. Karena, meskipun saya belum mengalaminya, akan tetapi, saya tahu dengan pasti, bahwa menjadi ibu itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Tidak perlu ambil contoh yang jauh, cukup dengan memperhatikan atau mengingat apa-apa saja yang selalu dikerjakan ibu untuk suami dan anak-anaknya.

Seorang ibu, di samping mempunyai kewajiban untuk berbakti kepada suami juga harus mengerjakan banyak pekerjaan lainnya. Entah itu mengurus rumah, mengatur keuangan keluarga, merawat dan  mendidik anak-anaknya, menjamin keluarganya mendapatkan asupan nutrisi yang lezat untuk keluarganya, bahkan tidak jarang ibu-ibu di zaman modern ini juga berstatus sebagai wanita karir yang dituntut untuk bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaannya hingga dia sendiri terkadang mengabaikan kepentingan pribadinya.

Cara pandang atau perspektif baginda Nabi tentang ibu memang sudah selayaknya untuk dijadikan contoh di zaman modern ini, zaman yang membuat manusia terkadang terlena dengan segala gemerlap dan hingar bingar dunia. Segala perkembangan dan kemajuan yang mau tak mau memaksa manusia untuk mengikuti, hingga bagi sebagian orang yang rela mengabdikan dirinya pada kemajuan tersebut, manusia menjadi workaholic, pengabdi teknologi, meningalkan norma-norma yang seharusnya terus dipertahankan dalam diri setiap manusia.

Padahal dibanding itu semua, ada hal yang jauh lebih penting untuk kita jadikan sebagai tempat pengabdian diri. Yang tentu saja yang paling utama adalah bakti kita kepada Yang Kuasa Allah Swt dan juga terhadap ibu kita karena seperti yang kita tahu bahwa ridha seorang ibu juga akan menjadi ridha Allah.

Jika sudah jelas begitu, sudah semestinya ibu menjadi prioritas selama itu tidak menyalahi aturan agama dan utamanya apabila seorang anak itu masih berada dalam ampuan ibunya dalam artian belum terikat pernikahan, khususnya bagi anak perempuan. Karena setelah menikah bakti seorang perempuan akan beralih ke suaminya.

Namun, dengan adanya ikatan pernikahan, tidak berarti memutuskan bakti seorang anak kepada ibunya. Justru dengan pernikahan itu seorang masih dapat menunjukkan baktinya kepada ibu dengan berbakti dengan baik kepada suaminya. Karena seorang perempuan yang taat kepada suaminya akan menjadi ladang pahala juga bagi orang tuanya.

Baginda Nabi tidak pernah bertindak atau berkata tanpa dasar yang jelas tentang pengutamaan ibu tiga kali dibanding ayah. Ini bukan berarti baginda Nabi memandang sebelah mata peran serta kedudukan ayah. Karena baginda Nabi sendiri pun adalah seorang ayah.

Ini dikarenakan terdapat peranan ibu yang tidak bisa digantikan oleh ayah. Di antaranya adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Karena mengandung, menyusui, dan melahirkan itu merupakan kodrat seorang wanita. Merupakan karunia sekaligus amanah dari Allah Swt. yang bahkan tidak semua wanita diberikan kesempatan itu apalagi bagi laki-laki sekalipun laki-laki itu transgender sekalipun.

Mengandung, melahirkan, dan menyusui itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Hampir rata-rata perempuan yang awalnya memiliki badan ideal mau tidak mau harus merelakan bentuk badannya berubah drastis setelah hamil ditambah melahirkan, tidak lagi sama seperti saat masih gadis.

Puncaknya adalah saat proses persalinan, seorang ibu harus bertahan antara hidup dan mati demi untuk mengeluarkan buah hatinya, memberikan kesempatan sang buah hati yang telah dijaganya selama sembilan bulan dalam kandungan untuk melihat dan menikmati indahnya dunia.

Kemudian menyusui, sebenarnya ibu bisa saja memberi anaknya susu formula tanpa harus repot-repot menyusui anaknya yang berarti memberi sebagian nutrisi yang dia miliki kepada anaknya, meskipun sekarang banyak perempuan yang menolak untuk menyusui anaknya dengan alasan sibuk, tapi masih sangat banyak juga ibu yang rela dan ikhlas sepenuh hati dalam melakukan pekerjaan itu, bahkan harus kekurangan istirahat ang cukup demi memastikan sang buah hati tidak kelaparan dan nutrisinya terpenuhi.

Bahkan ibu tidak meminta bayaran kepada ayah karena telah menyusukan anaknya. Walaupun dalam syariat memperbolehkan seorang istri meminta bayaran kepada suaminya karena telah menyusukan anaknya.

Tugas ibu memang berat, maka dari itu sangat pantas jika baginda Nabi memuliakan kedudukan seorang ibu. Namun anehnya, di zaman modern seperti sekarang justru banyak perempuan yang menganggap tugas sebagai ibu bukanlah hal yang mulia dan pantas untuk dibanggakan. Banyak perempuan yang merasa rugi jika sudah sekolah tinggi-tinggi dan mendapatkan banyak prestasi justru berakhir menjadi ibu rumah tangga yang hanya bertugas mengurus rumah, suami, dan anak.

Bagi mereka kesukesan itu apabila telah mendapatkan posisi yang mereka impikan dalam pekerjaan, dapat menikmati quality time untuk memanjakan diri dan bersenang-senang sampai tak jarang mengabaikan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Untuk itulah, saya berbangga kepada ibu saya, karena ibu saya dapat memposisikan dirinya dan membagi waktu antara mengurus rumah, suami, anak-anaknya, karirnya, bahkan masih sempat untuk menuntut ilmu, melanjutkan pendidikannya di universitas. Terlebih pekerjaan ibu saya adalah sebagai seorang pendidik. Ibu saya tidak hanya dapat mendidik saya dan saudara saya namun juga mendidik anak orang lain.

Sementara ayah juga tidak semerta-merta kita abaikan. Ibu memiliki tiga tingkat derajat dibanding ayah bukan menjadi alasan untuk kita mengabaikan keberadaan seorang ayah. Ayah juga mempunyai peranan penting dalam kehidupan anak-anaknya. Ayah sebagai tulang punggung utama dalam suatu rumah tangga. Ayah akan berusaha menjadi pelindung agar anak-anaknya merasa aman.

Meskipun ibu mempunyai predikat sebagai madrasah awal bagi anak-anaknya, bukan berarti ayah juga tidak turut andil dalam pendidikan anak-anaknya. Ayah juga punya cara tersendiri dalam menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Walau terkadang ayah terlihat keras dalam mendidik anak-anaknya dan tidak selemah lembut ibu dalam memperlakukan anak-anak nya.

Semua perempuan patutlah berbangga diri, karena perempuanlah yang diberi posisi mulia untuk menjadi seorang ibu. Tentunya, untuk berada di posisi itu ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Karena seperti yang kita tahu bahwa nasib suatu bangsa ada di tangan generasi penerusnya. Menanggapi hal ini, tentu ibu mempunyai andil besar di dalamnya.

Sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, ibu dituntut agar bisa mendidik dan menjadi figur yang patut dijadikan pedoman bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, jauh sebelum seorang perempuan menjadi ibu, ada banyak hal perlu dipersiapkan oleh seorang perempuan.

Perlu banyak ilmu yang harus dipelajari sebagai bekal seorang perempuan untuk menjadi seorang ibu. Karena ditetapkannya ibu memiliki tiga tingkat derajatnya bagi anak-anak dibanding ayah juga merupakan suatu tanggung jawab besar. Di tangannya calon generasi penerus dan penentu nasib bangsa ke depannya, akan ditempa, akan di arahkan. Tentunya jika  ingin generasi penerus itu terbentuk sesuai harapan yang kita cita-citakan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah di mulai dari penempaan ibu itu sendiri.

Ibu adalah seorang pahlawan yang rela mempertaruhkan nyawa demi melahirkan anak-anaknya. Ibu adalah guardian angel terbaik yang akan mengerahkan segala kemampuannya untuk melindungi anak-anaknya. Ibu adalah guru terbaik yang sabar dalam mendidik anak-anaknya tanpa mengharapkan balasan apapun.

Ibu adalah alarm terbaik yang selalu setia membangunkan anak-anaknya yang memiliki kadar malas luar biasa di pagi hari. Ibu adalah reminder yang paling setia mengingatkan anak-anaknya dari perbuatan atau jalan yang salah. Ibu adalah diary terbaik yang siap menampung segala keluh kesah anaknya meskipun dia sebenarnya mempunyai masalah yang lebih banyak.

Baginda Nabi Muhammad Saw adalah teladan dari segala teladan yang patut untuk dijadikan acuan bagi setiap muslim dalam berperilaku. Untuk itu, seorang ibu  yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anaknya patut meneladani sikap baginda Nabi. Baginda Nabi adalah seorang yang pemimpin yang dipatuhi rakyatnya, seorang tangguh jika berda dalam medan perang, namun di saat bersamaan, baginda Nabi juga adalah seorang yang lemah lembut dan penyayang jika berhadapan dengan anak-anak.

Sebagai seorang perempuan yang memiliki sifat dasar lemah lembut, patutnya merasa malu jika tidak dapat memperlakukan anak-anaknya seperti apa yang dilakukan  baginda Nabi Saw.

Demikianlah sosok baginda Nabi dengan segala pengajaran dan keteladanan beliau yang meginspirasi saya melalui hadis tentang pergaulan kepada ibu. Mengagumi sosok Nabi Saw tidak akan ada habisnya.

Masih begitu banyak lagi kisah-kisah baginda Nabi yang menginspirasi dan patut dijadikan patokan dalam bertingkah atau berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Satu hal yang saya simpulkan tentang ibu dari hadis Nabi ini adalah, ibu adalah sosok yang luar biasa. Saya bahagia karena hingga saat ini masih dapat merasakan kasih sayang ibu. Masih lebih beruntung dari sekian banyaknya anak di dunia ini yang sudah tidak dapat merasakan kasih sayang seorang ibu, atau bahkan yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu atau bahkan yang tidak tau rupa ibunya seperti apa.

Akhir kata, penulis hanya ingin menyampaikan, berbaktilah kepada ibu kapanpun dan di mana pun selagi kita masih diberi kesempatan untuk menunaikan bakti itu. Berbakti kepada Ibu bukan hari raya yang hanya diberi hadiah, ucapan “selamat hari ibu”, atau perlakuan istimewa sekali setahun. Buatlah setiap hari dalam hembusan nafas dan detak jantung adalah momen untuk berbakti kepada ibu.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Utamanya bagi penulis pribadi. Amin ya Rabb.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Annisa Ayu

Warrior

Alumni dari MAN 1 Polewali Mandar. Saat ini sedang menempuh pendidikan strata 1 dengan program studi Hukum Bisnis Syariah di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals