Masa Depan Persatuan: HUT ke-74 RI

Kukuhkan persatuan dan kemaslahatan, abaikan ego sektarian dan golongan. Demikian kita merayakan kemerdekaan. Dirgahayu RI.


Bangsa Indonesia sudah memasuki 74 tahun kemerdekaannya. Setidaknya dengan usia yang sudah tidak muda lagi, Indonesia menjadi bangsa yang maju dan memiliki peran yang besar dalam kehidupan internasional. Hal tersebut menjadi penting dalam rangka menuju Indonesia maju dalam setiap bidang kehidupan.

Kedewasaan sebagai  warga negara perlu terus ditingkatkan. Meredam potensi disintegrasi yang sempat meruncing  saat dan pascapilpres dan pilkada sebagai akibat berbedanya pilihan dalam kontestasi yang ada. Beragam narasi kebencian menjadi bagian yang takterhindarkan dalam kampanye di lingkaran simpatisan. Karenanya, disintegrasi menjadi hal yang harus diwaspadai demi persatuan di antara komponen bangsa.

Salah satu kunci utama adalah merawat persatuan, tanpa melihat perbedaan golongan dan keyakinan. Kebhinekaan alamiah terjadi di antara manusia. Hal inilah menjadikan mereka harus saling memahami agar tidak melahirkan potensi yang berlawanan dengan semangat Pancasila. Setidaknya dari bahasa, suku, dan agama serta kebiasaan lainnya. Dengan demikian, semangat kebersamaan dan solidaritas mesti terus dipupuk. Umpama tubuh yang satu, jika satu organ merasakan sakit, maka yang lain turut merasakan. Hendaknya, antara komponen bangsa mampu merajut persatuan, dan mengenyampingkan ego sektoral.

Kenyataan di atas sudah dibuktikan dalam perjalanan sejarah kemerdekaan. Di mana tanpa persatuan mustahil kemerdekaan diraih. Gerombolan penjajah dapat dengan mudah dienyahkan lewat komitmen persatuan yang dirajut oleh setiap organ-organ bangsa. Jadilah tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan di bulan Ramadhan pada waktu itu sebagai hari paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Merdeka semerdeka-merdekanya.

Merawat kemerdekaan menjadi penting bagi segenap  warga negara Indonesia hari ini. Hal tersebut setidaknya sebagai bentuk  rasa syukur generasi sekarang atas jerih payah founding father’s bangsa Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan. Hal lain adalah sebagai bentuk memperjuangkan posisi bangsa Indonesia di kancah dunia internasional. Sehingga, Indonesia mampu setara dengan negara-negara maju lainnya, terutama di sektor ekonomi dan pendidikan.

Daya saing bangsa Indonesia di dunia internasional masih rendah. Hal tersebut terlihat setidaknya di tingkat Asean yang masih berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sehingga potensi tersebut tidak cukup untuk bersaing di tingkat internasional. Kenyataan ini harus diakui dan terus diupayakan menjadi lebih baik dan cemerlang. Di antaranya peningkatan mutu sektor pendidikan. Masih jarangnya penduduk Indonesia yang dapat kuliah di Perguruan Tinggi (PT) adalah indikasinya. Oleh karena itu, menguatkan kesadaran akan pendidikan setidaknya mampu mempercepat Indonesia menuju bangsa yang terdepan dan terbilang.

Pendidikan di Indonesia dan negara lain sudah disetarakan lulusannya. Hal tersebut tertuang dalam dokumen kurikulum di PT.  Seluruh pendidikan Indonesia baik di jalur kementerian maupun di luarnya sudah disetarakan dan seharusnya memudahkan persaingan di aras global. Maka tidak ada lagi sikap pesimis dan mengeluh jika banyak tenaga kerja asing masuk Indonesia. Dengan demikian, kunci utama adalah pendidikan yang berkualitas untuk menjadikan bangsa  Indonesia maju.

Generasi muda kita sebenarnya memiliki kemampuan akademik dan daya kompetitif yang tinggi, prestasi di kancah internasional terus saja diukir. Baru-baru ini beberapa generasi muda Indonesia mampu unggul di bidang riset ilmiah, melampaui perwakilan negara maju lainnya. Mereka adalah anak SMA di Kalimantan yang mampu melakukan riset tentang  khasiat Bajaka, sebuah akar tumbuhan yang hanya tumbuh di Indoneisa sebagai obat kanker. Mereka ini harus didukung untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Sehingga, mampu mendongkrak mutu pendidikan dan inovasi sains di Indonesia, serta akan bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak. 

Umat Islam sebagai komponen bangsa yang besar harus juga mampu membawa nama baik bangsa dan negara. Ilmu agama harus mampu dikembangkan dengan keilmuan lain sehingga ajaran agama mampu menjadi bagian perekat bangsa Indonesia. Hal tersebut tentunya sesuai dengan semangat yang ada dalam ajaran Islam, yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan keseharian.

Dengan demikian, beragam potensi harus dimanfaatkan secara penuh dan teguh dalam mengisi kemerdekaan menuju Indonesia yang bermartabat dan maju. Beginilah cara kita membalas jasa para pejuang bangsa ini. Dirgahayu RI. 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga

Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat  https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals