Paradigma Karbala: Menolak Penindasan

Karbala bukanlah tentang airmata dan darah, tapi upaya menolak tunduk kepada penindasan.


whatislamsay.wordpress.com

Hari ini, kemana penderitaan Husein dicurahkan? Masihkah Yazid dan bala tentaranya? Masihkah kepada anak cucu Muawiyah? Hari ini, kemana kebencian ditujukan? 

Jika di era Khomeini, Karbala diasosiasikan dengan kedurjanaan Reza Shah. Kemudian, kepada ‘setan akbar’, Amerika Serikat dan sekutunya. Sekarang, masihkah di pusaran yang sama? Amerika, adalah keyword utama yang termaktub di benak masyarakat Iran, setidaknya hingga hari ini. Lalu, apakah Trump manifestasi dari embrio Yazid? Bisa jadi iya. Tapi, apakah penderitaan Iran hari ini sudah setara dengan penderitaan Husein? Nanti dulu, kita perlu jeda sejenak menguak hal ini.

Perayaan Karbala sejatinya merayakan sehimpun kemarahan, kebencian, penderitaan, dan segala duka. Sebagai ekspresi, kebencian juga kemarahan bisa saja disetir, diarahkan, diobjektivasi, dan dimanipulasi. Sang pemilik otoritas tentu sangat memegang andil di sini. Kemana kebencian diarahkan tergantung pada telunjuknya. Kebencian mereka adalah busur yang siap meruntuhkan lawan. Lawan politik, lawan ideologi, dan segala lawan. Demikian framing process terjadi pada perayaan Karbala.

Baca juga:  Pemuda Iran Menggugat

Sejarah merekam dengan baik bagaimana momentum Karbala dijadikan pemantik api revolusi, di saat Khomeini dengan retorika apiknya mendoktrin rakyat bahwa Reza Shah adalah reinkarnasi dari Yazid. “Tiap hari adalah Asyura, tiap bulan adalah Muharram, dan tiap tempat adalah Karbala”, teriak Khoemini membakar semangat lautan jiwa. Demikian juga nasib Amerika, yang diklaim mewarisi kebengisan Yazid.

Hari ini, bisa dibenarkan bahwa Iran memang mendapat banyak pukulan dan terjangan dari beberapa negara. Ragam propaganda dan manuver yang dialamatkan ke Iran, mulai dari isu nuklir hingga citra negatif Syi’ah. Di ruang lingkup global, Amerika jelas musuh bebuyutan Iran, di kawasan Timur Tengah, Saudi adalah kompetitor alot.

Kontestasi antara Iran dan Saudi, laiknya kucing dan tikus, tahta penguasa Middle-East menjadi taruhannya. Saling serang kebijakan politik menandai perseteruan mereka. Seperti tertera di laman Parstoday (24/03), tudingan infaktual terhadap Iran sebagai pendukung terorisme terus saja digelinding pihak Saudi. Kebijakan-kebijakan agresif Saudi jelas tak terlepas dari dikte Amerika. Melihat fakta ini, memungkinkan bila Saudi adalah wajah baru ‘kebengisan Yazid’ dan Iran adalah simbol ketertindasan.

Artikel terkait:  Saudi yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang
Hamid Enayat menuturkan, “Husein adalah satu-satunya Imam yang tragedinya dapat berfungsi sebagai unsur mitologi yang positif bagi kelompok Syi’ah mana saja yang militan dan sekaligus sedang ditindas” (Martyrdom, 1989). Kesyahidan Husein adalah kepiluan bagi siapapun yang mengenangnya, kesedihan bagi siapapun yang mengingatnya. Inilah yang mengonstruksi paradigma Karbala, rasa tertindas membangkitkan daya juang rakyat Iran. Sumberdaya politis, sumberdaya kultural, sumberdaya konflik, adalah yang mengitari mitologi Karbala tersebut.

Di atas sudah kami garis bawahi, pemegang otoritas sangat menentukan kemana kebencian dilayangkan. Benar-benar sporadis dan subjektif.Ini juga yang mengakibatkan tragedi yang terjadi pada 680 M itu selalu punya celah untuk direkonstruksi sesuai realita sosial dan politik yang ada. Sidney Tarrow dalam Power in Movement menyatakan bahwa tafsir yang diberikan terhadap realitas didukung oleh partisipan gerakan.

Hal ini juga tidak menutup kemungkinan bagi lawan politik dari dalam negeri. Manuver politik yang diprakarsai Mojahedin misalnya, organisasi yang dibentuk pada 1960 ini adalah rival kubu revolusi asuhan Khomeini. Ketika Mojahedin diserang oleh kelompok Khomeini sontak mereka menyatakan bahwa peristiwa tragis itu sebagai “Asyura Kita”:

Di hari itu kita harus berdiri tegak dan melawan rezim Khomeini yang haus darah dan reaksioner, sekalipun itu berarti mengorbankan hidup kami. Kami harus menempuh jalan menuju Karbala untuk terus mempertahankan ideologi tauhid kami, meneladani Imam Husein, menunaikan misi historis kami kepada rakyat Iran, dan melawan rezim yang haus darah, reaksioner, dan ganas dalam sejarah dunia (Abrahamian, The Iranian Mojahedin).

Dewasa ini, sudah seharusnya tragedi Karbala diberi sentuhan paradigma alternatif, mendatangkan pendekatan yang lebih rasional dan humanis. Karena hakikatnya, perjuangan Husein adalah perjuangan luhur atas kemanusiaan. Karbala bukanlah tentang airmata dan darah, tapi upaya menolak tunduk kepada penindasan.  

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Mahmud Wafi

Mahmud Wafi, adalah seorang pekerja sosial, juga merangkap sebagai santri Senin malam di Nitipuran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals