Belajar Saling Memahami

"Daun pun akan berguguran pada waktunya, dan menghilang ditelan tanah. Begitu juga dengan manusia, jika tak ingin dilupakan jadilah pribadi yang memahami"


Sumber gambar: Fizdi.com

Hidup di dunia ini memang penuh lika-likunya. Ada begitu banyak ujian dan cobaan menghampiri, baik ujian kesusahan maupun kesenangan. Tak kan mudah menjalani kehidupan ini, jika kita banyak mengeluh, apalagi sering negative thinking pada Tuhan.

Dalam sebuah pertemanan atau persahabatan, antara ibu dan anak, antara suami dan istri, dan segala hubungan manusia di dunia ini dengan sesama manusia, jika tidak saling memahami dan menghargai yang terjadi adalah pertengkaran semata, ketidaksalingsukaan, dan saling memendam amarah.

Ini terjadi karena kita lebih suka mendahulukan ego kita dibandingkan mendengarkan orang lain. Kita lebih suka meyakini diri kita yang paling benar, dan yang lain salah. Kita lebih suka meluapkan amarah daripada menahan amarah. Padahal Rasululullah mengatakan: ”orang yang paling kuat bukanlah orang hebat bergulat, namun orang yang mampu menahan amarah”. (Muttafaqun alaihi)

Rasulullah menjuluki kita orang yang kuat jika kita mampu menahan amarah. Namun sayang, kita sering menolak julukan itu, dan lebih suka memamerkan amarah. Rasanya tidak mengapa jika kita memamerkan kebaikan kita agar orang lain menirunya, dan ini bukan kebaikan yang dipamerkan melainkan keburukan, dan merasa bangga lagi, merasa hebat karena berani meluapkan amarah.

Ini bukanlah sebuah keberaniaan, tapi nafsu setan belaka. Selain itu, tidakkah kita malu dipandang sebagai manusia pemarah. Islam tidak seperti itu, Islam itu penuh dengan suasana kelembutan, baik dalam keadaan tegang, senang, susah, bahagia dan menderita yang ditampilkan hanyalah kelembutan.

Kita suka menegur orang lain, namun tidak suka ditegur. Kita suka mengkritik tapi marah saat dikritik. Kita suka meminta tapi tak suka memberi. Bukankah pilihan kita sendiri yang membuat kita berada dalam kegelisahan. Bukankah pilihan kita sendiri yang membuat diri kita  berada dalam kesusahan.

Dalam bermusyawarah kita suka mengatasnamakan kemaslahatan sosial, pendapat yang banyak atau yang mayoritas menjadi titik acuan, dan itu yang dianggap paling benar. Namun sayang, kita lupa dan mengabaikan alasan yang minoritas karena berpatokan atas pendapat yang mayoritas.

Padahal ada alasan yang jelas kenapa yang minoritas tak bisa menerima pendapat mayoritas, dan kadang kita tidak peduli dengan itu. Bagi kita kemaslahatan adalah pendapat yang mayoritas. Apakah benar itu yang dinamakan kemaslahatan. Jika itu memang kemaslahatan, begitu mudah dan enteng sekali menciptakan sebuah kemaslahatan, hanya melihat pendapat yang mayoritas saja, dan melupakan serta mengabaikan pendapat yang minoritas.

Kemaslahatan dalam bermusyawarah itu adalah mencarikan solusi yang terbaik untuk setiap anggota yang ikut dalam musyawarah itu. Dengan demikian, tidak akan ada yang merasa tersakiti. Meskipun dalam bermusyawarah itu memang ditemukan pendapat yang mayoritas dan itu menjadi acuan, manusia harus ingat juga akan yang minoritas dan mencarikan win solution untuk kemaslahatannya.

Jika demikian, hidup ini akan terasa indah karena semuanya saling bijaksana, memahami, menghargai, dan menghormati. Pikirkanlah, renungkanlah jika kita yang selama ini suka menegur, tapi tak suka ditegur, suka mengkritik tapi tak suka dikritik, suka meminta tapi tak suka memberi. Maka cepat-cepatlah istighfar, muhasabah diri kita, sentil diri kita, dan mohonkan kepada Allah agar membuka hati kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Jangan berputus asa pada rahmat Tuhan, karena seburuk-buruk apapun pribadi kita. Jika di dalam hati kita masih tersimpan sedikit rasa untuk menjadi lebih baik lagi. Maka, tidak akan mustahil kita akan menjadi makhluk kesayangan Tuhan Allah SWT. Jadi, mulai sekarang belajar untuk mendengarkan orang lain, belajar untuk menerima krtikan dan teguran orang lain, serta belajarlah untuk saling memahami. Maka akan terciptalah lingkungan yang rahmatan lil ‘alamin. Semoga kita selalu dirahmati Allah SWT.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Endrika Widdia Putri
Endrika Widdia Putri, S.Ag. adalah mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Aqidah dan Filsafat Islam tahun 2018.

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals