Memaknai Puisi Sama dengan Memaknai Kehidupan

Nilai-nilai dalam puisi mayoritas tersirat maknanya. Puisi yang indah adalah puisi yang membuat pembaca berfikir lalu dapat menghujam ke dalam hati


Kita seringkali dibingungkan oleh penulis puisi dengan puisi-puisinya yang menggunakan berribu kiasan, metafora, ataupun ungkapan. Tak hanya isi puisinya, dari setiap kata pun juga sungguh membingungkan. Karena banyak kata-kata yang terlihat asing di telinga kita. Mungkin itu karena minimnya literatur kita. Dari situ kita memahami bahwasanya kekayaan bahasa itu tak dapat diragukan lagi. Serta kekayaan literatur atau banyaknya bahan bacaan serta penghayatan penulis puisi tersebut sehingga dapat menyusun kata demi kata, bait demi bait menjadi sebuah karya puisi yang indah.

Nilai-nilai dalam puisi mayoritas tersirat maknanya. Puisi yang indah adalah puisi yang membuat pembaca berpikir lalu dapat menghujam ke dalam hati. Dengan kata lain dari otak turun ke hati lalu berjalan pada realisasi kehidupan nyata. Banyak penulis puisi legendaris seperti Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, dll. tersebut menuliskan puisi-puisi fenomenal hingga sekarang. Karya mereka seakan abadi sebab mereka menuliskan dengan demokrasi hati. Dari hati, untuk hati, dan oleh hati.

Seperti itulah kiranya pula kita memaknai kehidupan. Gary Zukav, seorang penulis asal negeri Barat pernah mengatakan “Bahwa kita semua menjalani kehidupan dalam sebuah dunia makna. Kehidupan dunia menjelma sekolah kehidupan, sebuah arena fisikal mengenai pengalaman personal dan kolektif kita. Kita semua adalah murid kehidupan, sementara pengalaman kita menjadi kurikulumnya”.

Sebagaimana manusia yang dikaruniai akal pikiran dan hati nurani, pemaknaan memang sangatlah penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Sesuatu yang tanpa makna pasti akan sia-sia.

Kehidupan juga melewati banyak inca-binca atau kerancuan. Sebab itulah yang dinamakan dualisme atau dalam Islam disebut dengan sunnatullah. Di saat kita mengalami fase rendah. Di situ kita diuji seberapa tangguh kita. Tetapi fakta yang terjadi pada dewasa kini, semakin berat diuji maka semakin membuktikan pula keangkuhan manusia. Semisal, seseorang yang kaya raya lalu tiba-tiba bangkrut, pelampiasan mereka ada yang dengan bunuh diri, minum minuman keras, menyerah dan pasrah tanpa usaha sedikitpun untuk bangkit.

Hal itu merupakan suatu keangkuhan karena mereka sudah diberi sebuah energi positif berupa kesempatan hidup, pemikiran matang serta hati yang suci namun tidak serta merta digunakan sebaik mungkin untuk mendapatkan solusi bagaimana dirinya harus bangkit dari sebuah keterpurukan. Seperti dalam film Ayat-ayat Cinta 2, ada sebuah kata-kata yang memiliki makna sangat dalam yakni, “Terkadang kita harus mundur ke belakang agar dapat melompat ke depan lebih jauh”.

Di saat kita mendapat suatu kebahagiaan ataupun suatu nikmat, terkadang manusia juga merasa lemah di sana. Sebab, mereka terlena dengan kenikmatan atau kebahagiaan yang diberikan Tuhan hingga lupa bagaimana cara memaknai kebahagiaan tersebut agar kebahagiaan itu tak datang dengan sesaat. Banyak sekali saat kehidupan manusia di bawah, mereka memohon-mohon pada Sang Kuasa. Pada saat sudah di atas, mereka lupa. Bahkan, terkesan tak mengingat bagaimana perjuangan mereka saat menduduki fase di titik bawah.

Memang kehidupan itu sulit untuk ditebak dan dimaknai. Sama halnya seperti puisi. Pesan, hikmah, dan kebijaksanaan yang dapat dipetik selalu tersirat. Kita perlu berpikir dan merenung untuk dapat mengambil pesan moral dalam setiap peristiwa kehidupan. Dengan itu, maka libatkanlah Tuhan dalam setiap peristiwa kehidupan. Sama halnya puisi, libatkan selalu perasaan dalam setiap kata-katanya. Terutama perasaan penulis saat menyusun huruf demi huruf menjadi bait sehingga menjelma menjadi sebuah puisi bernyawa.

Oleh karena itu, sejatinya puisi adalah miniatur kehidupan. Apa pun kategori puisinya, semua memerlukan perenungan agar kita dapat menemukan makna tersirat di dalamnya. Dalam kehidupan juga begitu halnya. Jika kita selalu merasa biasa-biasa saja berarti kita tak pernah merenungkan setiap skenario dari Tuhan. Sebab, Tuhan selalu menyelipkan makna yang tersirat pada setiap fase kehidupan manusia dan Tuhan maha pemberi metafora pada seluk beluk kehidupan.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Ainu Rizqi

Seorang lelaki kelahiran kediri 3 April 2000. Pernah nyantri di kala dulu, kini, esok hari dan lusa nanti hinga nyawa sudah mati. kini sedang berkecimpung di dunia kampus putih, kampus pergerakan, kampus rakyat (semoga saja). yang selalu dalam hati yakni Darul 'Ulum

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals