Berjilbab tapi Lupa Menutup Aurat

Perekembangan teknologi dan gaya hidup islami di kalangan perempuan saat ini telah merubah fungsi jilbab sebagai penutup aurat menjadi budaya hidup yang buka-bukaan


Perkembangan Muslim dalam cara tata busana fashion di Indonesia dalam beberapa tahun ini semakin meningkat. Meningkatnya  busana atau fashion sangat berkaitan erat dengan semakin majunya teknologi dan digitialisasi di dalam media sosial. Sehingga minat masyarakat akan muslim-fashion semakin hari semakin meningkat seiring dengan meningkatnya minat para desainer pakaian muslim dalam mendesain pakaian dan jilbab  modern yang di populerkan melalui media sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir, jilbab telah menjadi busana yang trend di kalangan para wanita muslim. Hal ini tidak lain karena dilatarbelakangi oleh tampilan gaya artis yang trend dengan gaya islami. Seperti Shireen Sungkar, awalnya ia tidak berjilbab dan bergaya islami seperti sekarang, namun setelah ia menikah dengan Teuku Wisnu maka dengan perlahan Shireen berpenampilan gaya islami. Alyssa Soebandono juga berpenampilan islami  dan “berjilbab” setelah ia menikah dengan Dude Harlino. Keduanya adalah contoh artis yang mempopulerkan istilah hijrah dengan cara berpakaian menggunakan jilbab.

Banyak arti dari kata jilbab yang sebenarnya merupakan kosa kata bahasa Arab. ‘Jilbab’ merupakan bentuk jamak dari jalaabiib yang artinya pakaian yang luas. Artinya adalah pakaian yang lapang dan dapat menutupi aurat wanita kecuali muka dan telapak tangan hingga pergelangan tangan saja yang ditampakkan. Jilbab dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kerudung lebar yang dipakai muslimah untuk menutupi kepala dan leher hingga dada.

Jilbab di Indonesia sendiri awalnya lebih dikenal dengan sebutan kerudung yaitu kain untuk menutupi kepala, namun masih memperlihatkan leher dan sebagian rambut.

Dalam perkembangannya jilbab bukan sebatas dipahami sebagai sebuah kewajiban agama. Namun meluas menjadi gaya hidup sebagaian perempuan. Ditambah dengan gaya artis yang populer dengan istilah ijrah yang dinisbatkan pada jilbab. Jilbab akhirnya tidak hanya sebuah perwujudan kesalehan sebagaimana yang diharapkan perintah agama. Jilbab disisi lain merupakan manifetasi dari fenomena sosial. Hal ini diperkuat dengan maraknya penggunaan jilbab pada sebagian masyarakat karena alasan politik, hukum, dan lainnya. Beragama alasan yang melatarbelakangi penggunaan jilbab di kalangan muslimah.

Permasalahan pewajiban penggunaan jilbab bagi perempuan ini tidak lantas berhenti pada satu kesepakatan. Pembahasan mengenai masalah ini juga sama permasalahan aurat perempuan. Sampai pada cakupan yang cukup luas itulah jilbab menjadi bahan perdebatan, diskusi, hingga tolak ukur keimanan seseorang. Persoalan jilbab memang bukan hal baru, namun belakangan ini permasalahan tentang jilbab kembali mencuat.

Dalam hal ini, bukan masalah wajib tidaknya jilbab yang ingin dikemukakan di sini, melainkan fenomena pemakaian jilbab oleh perempuan di masyarakatlah yang ingin dibahas. Agar diharapkan fenomena jilbab ini dapat dilihat tidak hanya dari segi normatif agama saja, tapi pada ranah lain yang lebih luas seperti psikologi sebagai salah satu dari bagian cabang ilmu sosial. Dengan banyak sudut padang, diharapkan hal tersebut dapat diketahui pula alasan-alasan perempuan yang memilih mengenakan atau tidak mengenakan jilbab.

Melihat kondisi sekarang perempuan muslimah yang berjilbab tidaklah seideal, seanggun, apa yang digambarkan sebagai muslimah taat. Shibab menyatakan ada perempuan-perempuan yang memakai jilbab namun tingkah lakunya tidak sejalan dengan tuntunan agama dan budaya masyarakat Islam. Perempuan berjilbab bisa berdansa dengan lelaki yang bukan muhrimnya. Jilbab dalam konteks ini disebut oleh Shihab sebagai mode berpakaian yang merambah kemana-mana dan bukan sebagai tuntunan agama.

Kemudian muncul pertanyaan bagaimana dengan perempuan muslim yang tidak berjilbab. Benarkah mereka bukan perempuan yang taat dalam beragama, yang bisa dengan sembarang memamerkan tubuh mereka? Atau bahkan bagaimana dengan perempuan yang melepas jilbabnya setelah mereka dengan kukuh mempertahankan jilbabnya?

Saya mempunyai pandangan bahwa memaknai jilbab adalah sebagai produk budaya yang diperkuat dengan anjuran Agama dengan alasan untuk perlindungan atau kemashlahatan, namun dalam hal ini, saya tidak sependapat jika jilbab dijadikan sebagai titik tolak tingkat kereligiusan seorang perempuan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai jilbab adalah perempuan shalehah, dan sebaliknya perempuan yang tidak memakai jilbab bukan perempuan salehah. Hal ini karena jilbab tidak identik dengan kesalehan dan ketakwaan seseorang, konstruksi  masyarakatlah yang memberikan “label” pada jilbab yang mempunyai makna wanita salehah.

Sehingga dalam tulisan ini, saya menutup dengan kesimpulan bahwa kesalehan seorang perempuan bukan dilihat dari penampilannya yang menggunakan jilbab, namun lebih pada sikap dan tuturkata yang baik kepada semua orang. Lebihnya, kehindahan seorang perempuan dapat dilihat dari akhlak dan ketaatanya kepada Allah swt bukan dari penampilan semata.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals