Kehadiran Binatang dalam Kisah para Sufi

Bahkan kita tidak pernah tahu, bisa saja binatang yang kita beri perlakuan baik padanya menjadi wasilah energi untuk mendaki tangga surga-Nya kelak.


gambar: santrinulis.com

Beberapa emosi dan ingatan keberagamaan di antara kita sempat terusik dengan peristiwa masuknya seekor anjing ke dalam masjid. Peristiwa yang diabadikan melalui video dan diviralkan lewat media sosial ini menuai banyak reaksi. Ada yang memberikan respon dengan nada yang sangat reaktif namun ada juga yang mencoba meredam dengan mengetengahkan berbagai referensi keislaman yang memiliki keterkaitan dengan isu tersebut. Semua argumentasi menawarkan jalan penyikapan masing-masing, tinggal kita yang menentukan untuk mengambil mana argumentasi yang sesuai dengan nalar dan kalkulasi hati yang kita punya.

Baca juga artikel terkait: Masjid dan Anjing

Dalam literatur tasawuf ada beberapa kisah sufi dengan animal atau binatang. Bahkan termasuk di dalamnya ada kisah bersama anjing. Uniknya kisah-kisah tersebut kerap memiliki sudut pandang yang berbeda dengan nuansa yang sangat cair bahkan sampai menggelitik nalar.

Dalam kitab al-Mawaizh al-‘Ushfuriyah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abu Bakar al-‘Ushfuriy, ada kisah menarik tentang kedamaian alam kubur yang diperoleh seorang sahabat Nabi sekaligus figur lelakon tasawuf Umar bin Khattab. Apa yang menyebabkan khalifah dengan gelar Amirul Mukminin ini mendapat nikmat yang demikian besar? Dikisahkan Umar bin Khattab memperoleh nikmat tersebut karena pernah suatu ketika ia sedang berjalan-jalan lalu melihat burung pipit yang dimain-mainkan oleh seorang anak kecil. Tak tega melihat itu Umar lalu membeli burung itu dan melepaskannya ke udara.

Hal yang serupa terjadi degan sufi agung bernama Abu Bakar asy-Syibli. Murid Imam Junaid al-Baghdadi ini memperoleh nikmat yang sangat besar setelah ia wafat dan beristirahat dalam kubur. Dinukil dari kitab Nashoihul ‘Ibad bahwa ada seseorang bermimpi melihat keadaan Imam asy-Syibli yang demikian. Terjadilah percakapan antara ia dengan Tuhan perihal penyebab mengapa ia beroleh kenikmatan yang besar itu. Imam as-Syibli mencoba menerkanya mulai dari lantaran amal shalehnya, ibadahnya  sampai usaha kerasnya mendulang pengetahuan ruhani. Namun jawaban itu tidak diiyakan oleh Tuhan. Penyebabnya adalah karena As-Syibli pernah menyelamatkan seekor kucing yang kedinginan pada suatu malam yang dingin di lorong-lorong kota Baghdad kata Tuhan.

Terkait dengan binatang bernama anjing, ada kisah yang sangat menarik antara sufi besar Abu Yazid Al-Bustami dengan hewan yang satu ini. Kisah ini juga dinukil oleh Fariduddin Athar dalam kitabnya yang berjudul Tadzkiratul Auliya. Suatu ketika Abu Yazid berpapasan dengan seekor anjing, sontak saja ia mengangkat jubahnya saat anjing mulai mendekat. Lalu anjing itu berkata kepada Abu Yazid bahwa bila dirinya dalam keadaan kering tidak ada yang terjadi antara mereka berdua. Namun bila dirinya basah, najis yang disebabkannya hanya tinggal dibasuh dengan air dan campuran tanah. Tapi untuk menghilangkan najis yang melekat di hati Abu Yazid karena hal ini tidak akan cukup dibasuh hanya dengan air dan campuran tanah bahkan tujuh samudera sekalipun. Walhasil Abu Yazid dari fenomena ini menyadari kehinaan dan kekeliruan dirinya.

Lebih khusus dalam salah satu naskah peninggalan Maulana Syaikh Abdurrahman al-Khalidi an-Naqsyabandi Payakumbuh ada mozaik pemikiran unik perihal anjing dan Tasawuf. Sufi yang juga seorang hafiz al-Qur’an dan ahli Qiraat ini menulis pesan sufi besar Hasan al-Bashri tentang anjing.

Manusia tidak boleh kalah dari anjing kata Hasan al-Bashri. Bila anjing lebih baik darinya maka seharusnya ia sedih karenanya. Mengapa demikian? Hasan al-Bashri mengetengahkan beberapa argumen perihal itu. Di antaranya adalah bahwa pertama anjing selalu sabar saat rasa lapar datang dan demikian adalah sifat orang-orang yang saleh. Kedua anjing kerap begadang sepanjang malam dan ini adalah sifat para mujtahidin (orang yang bersungguh-sungguh). Ketiga meskipun berkali-kali anjing dicoba untuk dikeluarkan dari tempatnya dia akan selalu setia bersama rumah majikannya, sifat yang demikian itu adalah sifatnya para shadiqin.

Dari kisah-kisah di atas kita bisa belajar bahwa dari makhluk-makhluk seperti binatang pun kita banyak beroleh hikmah untuk menyemai tangkal kebijaksanaan diri. Bahkan dari mereka pula ada kans turunnya rahmat Tuhan yang berlimpah. Kita harus memahami bahwa tidak serta merta semua binatang bisa diperlakukan kasar bila dengan perlakuan baik tidak mengusik kehidupan kita. Bahkan kita tidak pernah tahu, bisa saja binatang yang kita beri perlakuan baik padanya menjadi wasilah energi untuk mendaki tangga surga-Nya kelak.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Cecep Jaenudin

Cecep Jaenudin lahir di Majalengka, 2 Juli 1993. menyelesaikan studi magister pendidikan bahasa arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anggota di GESTURE (Global Institute for Humanity and Culture). Saat ini aktif menimba sekaligus menyemai pengetahuan di Al-Azhar Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals