Makna Shalat: Memuja Allah Hasilnya Adalah Menebarkan Damai, Rahmat dan Berkat-Nya

“..Mengamalkan agama itu untuk mensyukuri rahmat Allah yang tidak terbatas dan mewujudkan rahma-Nya dalam kehidupan bersama..”


Dalam agama pasti ada  ritual (upacara) peribadatan untuk memuja Tuhan. Ritual ini menjadi salah satu esensi agama. Ia menjadi esensi bukan semata-mata karena   mengekspresikan keimanan, tapi juga karena maknanya dalam kehidupan. Tuhan yang dipuja dalam ritual adalah Tuhan yang ditaati dalam kehidupan. Karena itu ritual menggambarkan pola perilaku yang sesuai dengan kehendak Tuhan yang idealnya dilaksanakan oleh orang-orang yang memuja-Nya.

Telah diketahui bahwa ritual peribadatan pokok dalam Islam adalah shalat. Sebagai ritual, shalat dimaksudkan untuk mengekspresikan keimanan yang diikrarkan melalui syahadat, sekaligus juga untuk menggambarkan pola perilaku umat yang sesuai dengan kehendak Allah yang mereka puja.

Hubungan antara pemujaan kepada Allah dengan pola perilaku yang diharapkan diikuti umat tergambarsangat jelas dalam shalat. Gambaran ini terdapat dalam bacaan dan gerakan untuk mengawali dan mengakhiri shalat.

Takbiratul Ihram

Shalat diawali dengan membaca takbir yang disertai gerakan mengangkat tangan dan bersedekap. Bacaan dan gerakan tangan ini menggambarkan bahwa pemujaan kepada Allah harus dilakukan dengan  perbuatan-perbuatan berikut:

Pertama, memuji Allah. Memuji Allah dilakukan dengan melantunkan puji-pujian berupa bacaan kalimat-kalimat untuk memuliakan dan mengagungkan-Nya. Puji-pujian itu berupa takbir, tahmid, tasbih, tahlil, istighfar dan lain-lain. Untuk mengawali shalat pujian yang dibaca adalah takbir, bacaan “Allahu Akbar” yang disebut Takbiratul Ihram. Allahu Akbar artinya Allah Mahabesar. Pujian ini ditetapkan sebagai awal shalat bisa diyakini berhubungan dengan pengertiannya. Dia Mahabesar mengandung pengertian bahwa rahma atau cinta-kasih dan kekuasaan-Nya itu tak tertandingi, melampaui cinta-kasih dan kekuasaan yang dimiliki selain-Nya.

Kedua, mengangkat kedua tangan. Ketika membaca takbir dalam shalat, orang mengangkat kedua tangannya. Mengangkat tangan dalam  masyarakat sudah diketahui sebagai gerakan untuk menunjukkan ketundukan dan penyerahan diri. Maknanya dalam shalat pun juga demikian. Jadi gerakan ini menunjukkan bahwa memuja Allah itu dilakukan dengan tunduk kepada semua kehendak-Nya yang diungkapkan dalam ayat-ayat-Nya sesuai dengan rahma yang menjadi inti sifat-Nya sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. al-An’am (6): 12.

Ketiga, bersedekap. Bersedekap dalam shalat merupakan rangkaian dari gerakan mengangkat tangan. Bersedekap meletakkan kedua tangan di dada bermakna taat dengan sungguh-sungguh. Rangkaian itu menunjukkan bahwa ketundukan itu diikuti dengan menaati. Orang yang tunduk pasti menaati orang yang menaklukkannya. Dengan demikian memuja Allah itu dilakukan dengan menaati semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya yang sudah barang tentu diberikan juga dengan rahma-Nya.

Membaca Salam

Membaca salam merupakan rukun terakhir shalat yang dilakukan untuk mengakhirinya. Dalam hadis yang shahih bacaan salam itu lengkapnya adalah as-salamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh (semoga damai dilimpahkan kepada kamu sekalian, juga rahmat dan berkat-Nya). Membaca salam dalam shalat dilakukan dengan menengok ke kanan dan ke kiri. Karena shalat itu merupakan rangkain yang utuh dari awal sampai akhir, maka bacaan dan gerakan salam ini berarti bahwa memuja Allah itu hasilnya adalah menebarkan damai, rahmat dan berkat-Nya kepada semua yang ada di muka bumi. Hasil ini selaras dengan keimanan kepada Allah yang inti sifat-Nya adalah rahma yang telah disebutkan di atas. Sifat ini  diekspresikan dengan deklarasi diri-Nya sebagai Maha-Rahman dan Rahim dalam dalam ayat pertama surat al-Fatihah yang membacanya juga menjadi rukun shalat.

Menebarkan damai sangat tepat menjadi hasil memuja Allah. Hal ini secara teologis sesuai dengan Ketuhanan-Nya Yang Maha Rahman dan Rahim yang menghendaki kebaikan hidup manusia. Kebaikan hidup manusia tidak mungkin diwujudkan tanpa perdamaian di antara mereka. Karena itu menebarkan damai menjadi misi dari para nabi yang diutus untuk menghindarkan konflik di antara manusia (QS. al-Baqarah [2]: 213). Nabi Muhammad sebagai salah seorang rasul sangat menghayati misi ini sehingga dia memerintahkan untuk menebarkan damai melalui saling memberi salam (ifsya’ as-salam) dan melarang banyak hal yang mengancam dan mengganggu terwujudnya perdamaian, seperti kedengkian, kebencian dan ketidakadilan.

Kemudian menebarkan rahmat Allah sudah seharusnya menjadi hasil memuja-Nya. Dia Yang Maha Rahman dan Rahim memberi rahmat anugerah tidak terbatas. Manusia yang memuja-Nya harus ambil bagian dalam menebarkan rahmat itu untuk mengekspresikan imannya. Nabi sangat menghayati hal ini. Karena itu dalam sebuah hadis dia menyatakan bahwa iman seseorang itu tidak sempurna sampai dia senang kebaikan yang dialaminya juga dialami oleh orang lain.

Terakhir menebarkan berkat juga sudah seharusnya menjadi hasil dari memuja Allah. Berkat adalah kebaikan yang ada dalam segala sesuatu. Orang yang memuja-Nya harus menebarkan berkat itu untuk mewujudkan rahmat-Nya yang tidak terbatas. Dalam menebarkannya dia harus menggali kebaikan dari segala hal, termasuk yang secara moral tidak baik. Dengan kata lain dia harus dapat menemukan hikmah dari segala sesuatu. Nabi sangat menghayati ini sehingga dalam sebuah hadis menyatakan bahwa hikmah itu barang hilangnya orang beriman, di mana pun dia menemukannya, dia harus mengambilnya, meskipun berada di mulut babi hutan.

Menuju Harapan

Sudah diketahui bahwa umat Islam sebagai pribadi maupun kelompok pada umumnya belum bisa mewujudkan hasil yang diharapkan dari memuja Allah yang digambarkan dalam shalat itu. Hal ini tidak terlepas dari keberagamaan mereka yang masih cenderung  formalistik-ritualistik. Dengan keberagamaan ini mereka mengamalkan agama dengan menekankan pada bentuk dan sekedar untuk mendapatkan pahala dan menghindari dosa. Keberagamaan demikian bila terus dipertahankan akan membuat peradaban mereka terpuruk, termasuk peradaban kemanusiaannya.

Karena itu tidak bisa tidak umat harus mengembangkan keberagamaan yang sesuai dengan harapan itu, yakni keberagamaan etis. Mengamalkan agama itu untuk mensyukuri rahmat Allah yang tidak terbatas dan mewujudkan rahma-Nya dalam kehidupan bersama. Keberagamaan ini merupakan kebaragamaan otentik yang diajarkan Nabi. Dalam sebuah hadis dia bersabda, “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya” (HR Tirmidzi).

Untuk menuju harapan itu bisa dimulai dari shalat. Shalat dilaksanakan tidak dengan penghayatan mencari pahala atau sekedar melaksanakan kewajiban, tapi dengan penghayatan menghadap (apel) di hadapan-Nya, memuji-Nya dan berikrar untuk menebarkan damai, rahmat dan berkat-Nya. Wallahu a’lam bis shawab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hamim Ilyas

Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag. adalah dosen di Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (UMY) Yogyakarta, dan Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogaykarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals