Khotbah Nabi sebagai Alasan Berbahagia dengan Kehadiran Ramadan

Satu dari sekian alasan mengapa kita mesti berbahagia dengan kehadiran bulan suci Ramadan adalah khotbah yang disampaikan Nabi saw pada hari terakhir bulan Syakban.


Gambar: KateID

Kendati sekarang kita sedang dilanda bencana pandemi, kehadiran Ramadan mesti tetap kita sambut dengan kesyukuran dan penuh suka cita. Sebab, kesempatan dipertemukan kembali dengan bulan ini termasuk nikmat tiada tara. Mengingat terdapat gelimangan fadilah dan keberkahan di dalamnya yang sayang untuk terlewatkan begitu saja.

Sebagai halnya ungkapan familier yang disitir dan dianggap hadis oleh Syekh ‘Utsmân bin Hasan bin Ahmad al-Syâkir al-Khubâwi (w. 1241 H) dalam karya fenomenalnya berjudul Durratun Nâshihîn.

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

Siapa saja yang berbahagia dengan kehadiran bulan Ramadan, niscaya Allah menjamin jasadnya dari jilatan api neraka.

Terlepas dari kesangsian sebagian cendekiawan Islam menyangkut kesahihan hadis di atas, setidaknya memang tidak ada alasan bagi setiap muslim untuk tidak merasa senang dengan kehadiran bulan Ramadan.

Baca juga: Membaca Hadis Nabi saw dalam Persepektif Agama dan Budaya

Satu dari sekian alasan mengapa kita umat muslim haruslah berbahagia dengan kehadiran bulan Ramadan adalah sebuah riwayat yang dituturkan oleh Salmân al-Fârisî (w. 36 H). Riwayat ini ditulis apik oleh Imam Abû Hâmid al-Ghazalî (w. 505 H) dalam Mukâsyafatul Qulûb. Salmân al-Fârisî menuturkan bahwa pada hari terakhir bulan Syakban, Nabi saw menyampaikan khotbah di depan khalayak sahabat.

Berikut isi khotbah tersebut selengkapnya:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ

Wahai sekalian manusia, suatu bulan yang agung sungguh telah membayangi kalian.

فِيْهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang punya keutamaan melebihi seribu bulan.

Baca juga: Lailatulqadar, Kemuliaan Malam Seribu Bulan Hanya di Bulan Ramadan

جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا

Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai sebuah kewajiban, sedangkan menghidupkan malamnya dengan beribadah (qiamulail) sebagai sebuah kesunnahan.

مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ

Siapa saja yang bertakarub (mendekatkan diri kepada Allah) dengan seuntai kebaikan pada bulan itu, maka ia sama seperti orang yang melaksanakan kewajiban di luar bulan itu.

وَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ

Dan lagi barang siapa yang menunaikan satu kewajiban di bulan itu, sama halnya dengan orang yang melakukan tujuh puluh kewajiban pada bulan selainnya.

وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ

Bulan itu merupakan bulan kesabaran, sementara ganjaran sabar adalah surga.

وَهُوَ شَهْرُ الْمُوَاسَاةِ

Bulan itu juga merupakan bulan pertolongan.

وَهُوَ شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ

Dialah bulan di mana rezeki orang mukmin ditambahkan.

مَنْ فَطَّرَ فِيْهِ صَائِمًا كَانَ لَهُ عِتْقُ رَقَبَةٍ وَمَغْفِرَةٌ لِذُنُوْبِهِ

Siapa saja yang memberi bukaan (makanan untuk berbuka) kepada orang yang berpuasa, maka ganjaran pahalanya sama dengan pahala memerdekakan budak sekaligus dosa-dosa (kecil)-nya juga akan diampuni.

Baca juga: Bacaan Doa Buka Puasa Rasulullah dalam Kitab al-Adzkar Karya Imam al-Nawawi

Selepas menyimak khotbah baginda Nabi saw tadi, para sahabat sama berujar, “Duhai Rasulullah, tiada seorang pun di antara kami yang mendapati sesuatu untuk dibuat bukaan bagi orang yang berpuasa.”

Lantas, Rasulullah saw menimpalinya dengan melanjutkan khotbah beliau:

يُعْطِى اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ يُفَطِّرُ صَائِمًا مَذِقَةَ لَبَنٍ أَوْ شُرْبَةَ مَاءٍ أَوْ تَمْرَةً

Allah memberikan pahala tersebut kepada sesiapa yang memberi bukaan bagi orang yang berpuasa, entah itu sekadar susu tidak murni (yang sudah dicampur dengan air), atau air barang seteguk maupun hanya berupa sebutir kurma.

وَمَنْ أَشْبَعَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مَغْفِرَةٌ لِذُنُوْبِهِ وَسَقَاهُ رَبُّهُ مِنْ حَوْضِيْ شُرْبَةً لَا يَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا

Dan lagi siapa pun yang mengenyangkan orang yang berpuasa, dosanya akan Allah ampuni. Selain itu, Allah pun akan memberinya minum dari telaga saya (Telaga al-Kautsar di hari kiamat kelak) sehingga membuatnya tidak akan pernah merasa haus sesudahnya untuk selama-lamanya.

وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ

Ditambah pula, ia akan memperoleh pahala yang sepadan dengan pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa berkurang sedikit pun pahalanya orang yang berpuasa tadi.

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Itulah bulan yang bagian awalnya dipenuhi rahmat, pertengahannya penuh dengan ampunan, dan bagian akhirnya mengandung pembebasan dari neraka.

وَمَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فِيْهِ أَعْتَقَهُ اللهُ مِنَ النَّارِ

Selain itu, barang siapa yang membebaskan budak belian miliknya, niscaya Allah juga akan membebaskannya dari neraka.

Baca juga: Rahasia Puasa dalam Pandangan al-Ghazali

فَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ

Oleh karena itu, pada bulan itu hendaklah kalian memperbanyak empat perkara.

خَصْلَتَيْنِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ وَخَصْلَتَيْنِ لَا غِنًى لَكُمْ عَنْهُمَا

Terhadap dua perkara yang pertama kalian merelakan hati ke hadirat Tuhan kalian, dan terhadap dua perkara sisanya kalian senantiasa membutuhkan keduanya.

أَمَّا الْخَصْلَتَانِ الَّلتَانِ لَا غِنًى لَكُمْ عَنْهُمَا تَسْئَلُوْنَ رَبَّكُمُ الْجَنَّةَ وَتَتَعَوَّذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ

Adapun dua perkara yang pertama adalah syahadat tauhid (persaksian dan pengakuan kalian terhadap keesaaan Allah swt) dan ampunan-Nya. Sedangkan dua perkara sisanya adalah kalian senantiasa meminta surga kepada Allah dan tidak putus-putusnya kalian berlindung kepada-Nya dari siksa neraka.

Demikianlah penggambaran Nabi tentang keagungan Ramadan dalam khotbah beliau tadi. Walakhir, penulis berharap khotbah Nabi tersebut mampu menggugah perasaan bahagia kita akan kehadiran bulan bertabur berkah ini. Tentu rasa bahagia yang seterusnya dapat melecutkan semangat kita meningkatkan intensitas dan kualitas ibadah. Ya, sekalipun bulan suci Ramadan kali ini berlangsung di tengah pandemi virus korona sehingga mengharuskan kita beribadah terbatas di rumah saja.

Semoga saja. []

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Rijalul Fikri
Pelajar di Pascasarjana Universitas Ibrahimy dan Ma'had Aly Situbondo Jawa Timur

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals