Lailatulqadar, Kemuliaan Malam Seribu Bulan Hanya di Bulan Ramadan

Berbicara tentang salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya malam yang dikenal dengan malam Lailatul Qadar.


Sumber gambar: Republika.co.id

Berbicara tentang salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya malam yang dikenal dengan malam Lailatul Qadar. Hal ini setidaknya kualitas ibadah dalam waktu tersebut menyamai 1000 bulan atau 84 tahun. Tentu, malam ini sangat ditunggu-tunggu seluruh umat Islam. Dengan demikian, momentum inilah yang dijadikan manusia untuk meningkatkan kuantitas ibadahnya.

Untuk  mendapatkan malam tersebut bukanlah suatu yang mudah. Hal ini setidaknya tidak dijelaskan secara sharih dalam beberapa dalil baik dalam al-Qur’an maupun hadis. Nabi Muhammad saw hanya menjelaskan bahwa sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan adalah waktu yang disebut mulia ini hadir. Dengan demikian, melalui ajaran Islam ini menjadikan seluruh umat Islam selalu sungguh-sungguh mendapatkannya.

Setidaknya malam Lailatul Qadar yang nyata dan diperoleh secara jelas  adalah pada masa turunnya Al-Qur’an. Hal ini terjadi 14 abad silam di saat Muhammad saw menerima wahyu pertama Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan di malam Lailatul Qadar. Sehingga secara tegas, Lailatul Qadar pertama kali muncul pada saat bersamaan dengan turunnya wahyu pertama. Dengan demikian, turunnya sumber ajaran Islam adalah di malam yang mulia.

Kedatangan malam mulia ini sebagaimana di atas dalam tahun berikutnya tidak dijelaskan. Hal ini setidaknya Nabi saw hanya memberikan contoh untuk berbuat ibadah yang lebih sungguh-sungguh serta mengajak keluarganya untuk mendapatkan malam yang mulia. Dengan demikian, keutamaan ini akan sempurna didapatkan seorang yang sungguh dalam menjalankan ibadah di dalam bulan ini.

Kebiasaan ibadah adalah habit yang menjadikan sebuah pengabdian yang sesungguhnya. Hal ini dilakulan secara terus menerus dengan ibadah sejak dari awal Ramadhan dan melakulan pengisian di dalamnya dengan beragam kegiatan mulia seperti tadarus dan pemanfaatan waktu lainnya dengan mengkaji agama Islam seperti belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab keagamaan lainnya.

Untuk mendapatkan malam tersebut dapat dilakukan dengan ibadah sungguh-sungguh di malam hari. Hal ini setidaknya ditemukan dalam malam-malam ganjil yakni malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29. Lima hari di malam ganjil inilah menentukan kebaikan seseorang. Dengan demikian, melalui malam tersebut harus lebih sungguh-sungguh dalam beribadah.

Ulama membuat prediksi malam ganjil di atas dalam setiap bulan Ramadhan. Hal tersebut sebagaimana dikatakan Imam al-Ghazali (w. 1111 H.) yang menjelaskan permulaan hari di awalnya. Sehingga jika Ramadhan dimulai pada Senin maka jatuhnya lailatul Qadar pada malam ke-21. Demikian juga jika awal ramadhan dimulai hari Ahad atau Rabu maka jatuhnya malam Lailatul Qadar adalah tanggal 29. Dengan demikian, walau secara teks dalam hadis tidak disebutkan namun amaliah ulama menjadikan prediksi Lailatul Qadar tidak jauh berbeda.

Kenyataan di atas merupakan amalan ulama dalam memuliakannya. Hal ini setidaknya pendapat Abu Hasan al-Syazili menjelaskan tidak pernah lepas dari hitungan yang diungkap Imam al-Ghazali di atas. Dengan demikian, sebagai umat Islam bisa mengikuti prediksi ini dan tetap menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh selama lima hari di malam ganjil.

Malam ganjil yang dikenal dengan Lailatul Qadar sebaiknya diisi dengan banyak memohon ampunan. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw yang menjelaskan amaliah di dalamnya yakni dengan memohon ampunan sebagaimana yang diucapkan bilal di antara saalat Tarawih. Doa itu adalah “allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa wa’fu anni”.

Doa tersebut adalah doa untuk dimaafkan atas segala dosa setelah memuji Allah swt sebagai Tuhan yang Maha Pemaaf dan Senang Memaafkan, kemudian diikuti permintaan maaf. Dengan demikian, melalui doa ini pengampunan Allah swt atas dosa yang dilakukan manusia dapat diampuni semuanya.

Mari berdoa dan beribadah dalam bulan Ramadan ini semoga dimudahkan Allah swt mendapatkan malam Lailatul Qadar. Sehingga melalui malam ini mendapatkan keberkahan hidup yang dapat mengantarkan kedamaian di antara manusia yang lain. Dengan demikian, selain melakulan ibadah puasa Ramadan maka mendapatkan kedamaian hidup dan harus selalu dijaga menuju harmonisasi kemanusian secara utuh di era kekinian. (MAS)

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals