Menggagas Generasi Ūlul Albâb: 12 Acuan Kepribadian Intelektual Muslim dalam Mewujudkan Masyarakat Madani

sosok-sosok pribadi ulul albab adalah pribadi-pribadi yang selalu terpanggil hatinya tampil di masyarakat untuk memperbaiki ketidakberesan yang terjadi di masyarakat


Gambar: knpi Semarang

Ersnest Gellner, dalam Condition of Liberty, Civil Society and It’s Rival (1994), mengemukakan bahwa masyarakat madani (civil society) merujuk kepada masyarakat yang terdiri atas berbagai institusi non pemerintah yang otonom dan cukup kuat mengimbangi negara. Mengimbangi, artinya bahwa kelompok ini memiliki kemampuan untuk menghalangi atau membendung negara dalam mendominasi kehidupan masyarakat.

Gellner selanjutnya mengatakan bahwa konsep civil society ini bukan dalam arti mengingkari kegiatan negara dalam menjalankan perannya sebagai peace-keeper dan peran negara sebagai wasit di antara konflik kepentingan besar yang dapat menghancurkan tatanan sosial dan politik keseluruhan.

Gellner menjelaskan posisi individu sebagai aktor sosial yang yang bebas sebagai manusia moduler, yaitu sosok individual yang tidak hanya menerapkan sifat otonominya terhadap negara, namun dalam konteks internal ia juga merupakan institusi yang menghargai keniscayaan perlunya menghargai otonomi individual.

Baca juga: Kemerdekaan dalam Perspektif Al-Qur’an

Selanjutnya ia menegaskan bahwa peranan agama di Eropa zaman pertengahan yang kemudian diruntuhkan oleh gerakan pencerahan adalah bukti yang menandai kegagalan Barat memecahkan ketegangan antara arus magis dan rasio, latar sejarah inilah yang merupakan faktor obyektif yang mempengaruhi perkembangan masyarakat madani (civil society).

Pertanyaannya adalah bagaimana peran generasi muslim dalam membangun peradaban masyarakat madani (civil society)? Adakah konsekuensi logis yang dituntut pada diri pemuda muslim agar dapat berpikir analitis dan kritis? Adakah pengaruh yang ditimbulkan antara kebijakan pengembangan sumber daya manusia yang digulirkan dan dilaksanakan pemerintah dengan pendidikan generasi muslim sebagai generasi ulul albab?

Strategi Pengembangan Kualitas Generasi Muslim 

Jika ada pertanyaan mengenai bagaimana corak manusia dan masyarakat baru yang dapat dipandang sanggup menyongsong era modern sekarang ini? Maka salah satu jawaban yang bisa dihadirkan adalah bahwa generasi muslim harus “melek” ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology literacy); artinya bahwa segenap bangsa ini harus memiliki pengetahuan dan kemampuan dasar dalam sains dan teknologi. Karena sifat sains dan teknologi yang dinamis maka dituntut konsekuensi untuk senantiasa menjaga ghiroh, semangat kemampuan belajar (learning capability) agar senantiasa tetap terjaga.

Abdus Salam pemenang Nobel 1979 dalam ilmu Fisika yang bersama Weinberg dan Glashow mengembangkan teori “Teori Medan Gabungan” (unified field theory) mengatakan : “Tafakur adalah berefleksi, berpikir tentang dan menemukan hukum- hukum alam (sains); tasyakur adalah memperoleh penguasaan atas alam (dengan teknologi). Keduanya sepanjang zaman, merupakan dorongan-dorongan terpadu seluruh umat manusia. Adalah keagungan Islam bahwa Al-Qur’an dengan perintah yang diulang berkali-kali mengandung suruhan untuk bertafakur dan bertasyakur (mengejar sains dan teknologi) sebagai kewajiban atas masyarakat muslim- terutama para generasi muslim pada khususnya”.

Baca juga: Gairah Islamisasi dan Kemunduran Sains dalam Islam

Melihat kenyataan di atas maka diperlukan rangkaian kebijakan dan aksi yang harus diupayakan dalam membangun generasi muslim Indonesia yang berkarakter, di antaranya menggagas revitalisasi dan revivalisasi dunia pendidikan dan pengajaran;

Pertama, pengembangan kualitas sumber daya manusia-generasi muslim- diusahakan agar tidak terlepas dari lingkungan sosio-kultural dan ekologi, diperlukan penanganan-penanganan khusus terhadap pemetaan kebijakan pengembangan sumber daya manusia pada daerah terpencil dan kota-kota besar.

Dengan adanya kebijakan pengembangan pendidikan ini diharapkan adanya budaya kearifan lokal yang unik, pada masing-masing daerah yang menjadi karakteristik sumber daya manusia yang dimilikinya. Jangan sampai terjadi kebijakan dalam pendidikan meminggirkan potensi-potensi budaya lokal yang merupakan produk kearifan lokal (local wisdom).

Kedua, pengembangan potensi sumber daya manusia, dalam hal ini generasi muda tidak hanya dilihat sebagai suatu “proyek”. Pembangunan sumber daya manusia pada hakekatnya berinteraksi dan berurusan dengan membangun ruh kejiwaan suatu bangsa yang dapat berwatak multi-dimensi, diperlukan sikap empati, kesetaraan (egaliter) dan persaudaraan dalam menumbuhkan potensi sumber daya manusia dengan penekanan pada indikator kualitas sikap dan mental individu.

Hal lainnya yang patut mendapat penekanan adalah bagaimana mengembangkan potensi-potensi kreatifitas pada generasi muda tanpa harus meminggirkan mereka, memasung potensi kritis dan analitis mereka dengan bahasa kekuasaan pendidikan.

Ketiga, quo vadis posisi pranata pendidikan dan pelatihan sebagai wahana pengembangan kualitas sumber daya manusia di Indonesia dan karena adanya disparitas mutu lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia.

Keadaan ini secara tidak langsung berakibat pada disparitas mutu pendidikan yang tidak merata di masyarakat kita, hal ini diperparah dengan munculnya budaya domestikasi dan komersialisasi dalam dunia pendidikan. Stigma lembaga pendidikan “negeri” dan “swasta” kian menguatkan adanya friksi, kegamangan dunia pendidikan kita yang berimbas pada kelancaran alokasi anggaran pemerintah untuk dunia pendidikan.

Baca juga: Realitas Desentralisasi Pendidikan Indonesia

Keempat, membentuk pribadi-pribadi yang independen untuk memenangi persaingan di era globalisasi sekarang ini. Inilah yang menjadi tugas berat generasi intelektual, generasi ilmuwan untuk membangun citra diri sebagai sosok moduler sebagaimana yang dikutip oleh Gellner (1994), yaitu sebagai pribadi-pribadi otonom, independen terhadap –kebijakan- negara yang tidak berpihak kepada kepentingan umat.

Pendidikan yang bermartabat tentunya tidak mengharapkan adanya kualitas manusia yang memiliki “ketergantungan” yang tinggi. Manusia-manusia yang dependen hanya akan menjadi beban dan kendala besar dalam memasuki persaingan era modern dan pembangunan masyarakat madani. Selain itu yang perlu diingat adalah pribadi-pribadi yang dependen akan senantiasa merelakan nilai dan prinsip-prinsip kemuliaan pribadi hanya untuk kesenangan sesaat.

Bertrand Rusell menyebut pribadi-pribadi dependen dengan sebutan“orang-orang sakit” yang senantiasa menjajah dan mengambil keuntungan dari masyarakat yang sakit. Orang-orang sakit ini menurut Bertrand Rusell -cenderung- didominasi oleh orang- orang pemerintah yang senantiasa ingin melestarikan keadaan status quo, berjuang mati-matian demi kelestarian diri dan habitat lingkungannya sendiri. Mereka adalah sosok-sosok apatis-akut yang –hanya- berjuang demi kepentingan pribadi dan kelompoknya tanpa pernah mau mencoba menjadi alternatif solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat.

Pribadi independen tidak berarti bahwa sumber daya manusia yang mandiri tersebut tidak memiliki kemampuan untuk menggalang kemitraan dan kerjasama. Pribadi independen memiliki kemampuan menggalang dan mensinergikan kemitraan dan kerjasama secara positif dan konstruktif, menyadari ketergantungannya dengan pihak lain tanpa harus melakukan perilaku yang menggadaikan keyakinan dan nilai prinsip kebenaran yang diyakininya.

Profil Intelektual Muslim

Menurut Al-Qur’an, ulul albab adalah sekelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Di antara keistimewaannya ialah mereka diberi “hikmah”, kebijaksanaan dan pengetahuan, selain pengetahuan empiris yang telah mereka peroleh.“Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh tetlah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul albab”. (QS 2: 269). Pada surat lain disebutkan;“Mereka adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia”. (QS 12: 111)

Padanan kata ulul albab dalam bahasa Indonesia –sering dinisbatkan- dengan kaum intelektual, kaum intelektual bukan hanya orang-orang yang concern terhadap ilmu pengetahuan saja tetapi juga mereka adalah sekelompok orang-orang yang terpanggil untuk memperbaiki keadaan masyarakat; mengaspirasinya; merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang; menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah yang terjadi di masyarakat.

Baca juga: ‘Menjaga Akal’ dalam Diskursus Tafsir Maqashidi

Dalam konsep masyarakat Islam seorang “intelektual” bukan saja memahami sejarah bangsanya tetapi juga sanggup melahirkan gagasan-gagasan analitis dan normatif, memiliki kedalaman ilmu agama sejarah Islam.

Karakteristik yang menonjol dari generasi ulul albab ini adalah mereka bersedia menampilkan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki keadaan masyarakatnya; bersedia memberikan peryataan kepada masyarakat dan pemerintah; diancamnya masyarakat, pemerintah diperingatkan olehnya kalau terjadi penyimpangan, dan diprotesnya kalau terjadi ketidak-adilan. Dengan kata lain sosok-sosok pribadi ulul albab adalah pribadi-pribadi yang selalu terpanggil hatinya tampil di masyarakat untuk memperbaiki ketidak-beresan, ketidak-mapanan, ketidak-adilan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Ibn Jama’ah dalam bukunya Tazkirah al- Sami’ wal  Mutakkalimun fi Adab al- A’lim wal Mutta’alim (1354 H) memberikan gambaran tentang rangkaian etika akademis yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan. Beliau menempatkan dua belas poin penting yang dapat dijadikan acuan kepribadian untuk menjadi ilmuwan dan intelektual yang baik, yaitu :

Pertama, ilmuwan harus senantiasa dekat dengan Tuhannya, sendirian ataupun bersama orang lain. Mampu memelihara kepatuhan kepada Tuhan dalam setiap gerakan dan diam, perbuatan dan perkataan, ia juga dituntut untuk memelihara amanah ilmu pengetahuan dan kecerdasan, serta pemahaman yang diberikan kepadanya.

Kedua, ilmuwan harus memelihara ilmu pengetahuan. Ilmuwan tidak boleh merendahkan ilmu pengetahuan dengan pergi kepada orang yang bukan ahli ilmu tanpa kebutuhan yang mendesak. Ilmuwan tidak lazim mendatangi orang yang ingin belajar darinya meskipun orang tersebut pembesar yang berkuasa.

Ilmuwan sebagai kelompok khusus tak semestinya berbaur dengan kalangan awam, terlebih mereka yang materialistik. Ibn Jama’ah meletakkan ini semata menjaga ilmu pengetahuan dan memelihara kesucian motivasi yang terkait dengan ilmu pengetahuan.

Ketiga, ilmuwan harus zuhud dan menghindari kekayaan yang berlebihan. Ia butuh materi sekedar memungkinkan keluarga hidup nyaman, sederhana, tidak diganggu persoalan nafkah sehingga ia dapat mencurahkan perhatiannya pada kegiatan ilmiah. Ibn Jama’ah menekankan bahwa ilmuwan semestinya paham, harta hanya beban yang memberatkan, ia juga penuh dengan fitnah dan sirna. Ilmuwan tidak merelakan diri terikat dengan harta, dan senantiasa mementingkan pengembangan intelektual.

Keempat, ilmuwan tidak menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai tujuan dunia seperti kemuliaan, kekayaan, ketenaran atau bersaing dengan orang lain. Secara spesifik ilmuwan tidak boleh mengharapkan muridnya menghormati melalui pemberian harta benda atau bantuan lain.

Kelima, ilmuwan harus terhindar dari tindakan tercela atau kurang pantas, baik agama maupun adat, dan ia juga hendaknya menghindari tempat-tempat yang citranya kurang baik walaupun tidak melakukan perbuatan terlarang.

Keenam, ilmuwan harus melaksanakan ajaran agama dan mendukung syiar.

Ketujuh, ilmuwan harus dapat memelihara amalan- amalan sunnah baik perkataan maupun perbuatan.

Kedelapan, ilmuwan harus memperlakukan masyarakat dengan akhlak mulia, memiliki kemampuan untuk mengupayakan perbaikan keadaan di masyarakat dengan lemah lembut, pendekatan persuasif-dialogis sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Landasan Islam Tentang Masyarakat Tanpa-Kekerasan

Kesembilan, ilmuwan membersihkan diri dari akhlak buruk dan menumbuhkan akhlak terpuji.

Kesepuluh, ilmuwan memperdalam ilmu pengetahuan terus- menerus. Ibn Jama’ah menekankan keseriusan, keuletan dan konsistensi sebagai prasyarat keberhasilan keilmuwan. Sepanjang hidup ilmuwan dituntut mengkombinasikan kegiatan ilmiah dan ibadah.

Kesebelas, ilmuwan tidak boleh segan belajar dari yang lebih rendah jabatan, keturunan dan usia. Ilmu atau hikmah bisa saja ada dimana saja dan bisa diperoleh dari siapa saja. Sikap yang benar adalah menganggap ilmu pengetahuan sebagai barang hilang yang akan diambil kembali.

Keduabelas, ilmuwan mentradisikan menulis dalam bidang yang ditekuni dan dikuasai, Menulis menjadi bagian penting kegiatan ilmuwan selain membaca, meneliti dan merenung (Asari, 2008: 41-51).

Walaupun perhatian Ibn Jama’ah lebih menitik-beratkan pada ilmuwan yang bergerak di bidang pengajaran agama tapi setidaknya apa yang beliau terangkan pada ulasan di atas patut direnungkan kembali bagi guru sebagai ilmuwan, intelektual dalam mempersiapkan diri pribadi yang memiliki tanggungjawab moral untuk merubah perilaku, moralitas dan tentunya intelektualitas para siswanya.

Menilik uraian Ibn Jama’ah kita dapat menjumpai bahwa beliau ingin agar ilmuwan atau guru dapat mengabdikan hidup secara total kepada kegiatan ilmiah. Setidaknya dari beberapa aspek rangkaian kepribadian akademik diatas mensyaratkan pada diri guru untuk senantiasa berimprovisasi, berkreasi, dalam mewujudkan pembelajaran yang interaktif sekaligus menyenangkan yang mendorong tumbuh-kembang minat dan bakat peserta didik.

Guru sebagai fasilitator pembelajaran, hendaknya memberikan metode inkuiri atau belajar menemukan (discovery learning) oleh karenanya guru dituntut untuk merubah paradigma berpikir dalam mengajar, dan hal terpenting guru perlu menyediakan ragam kegiatan pembelajaran yang berimplikasi pada banyaknya ragam pengalaman belajar sehingga siswa mampu meningkatkan daya analitis-kritis, siswa mampu mengembangkan kompetensinya.

Upaya untuk menghadirkan kondisi pembelajaran yang representatif dan kondusif, guru di antaranya menggunakan pendekatan konsep PAKEM, yaitu; Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan dalam proses belajar-mengajar.

Guru seringkali terjebak pada pemahaman kemampuan daya serap siswa terletak pada PBM (Proses Belajar Mengajar) di dalam kelas. Kenyataanya bisa jadi kemampuan serap siswa justru sebagian besar tergantung pada unsur- unsur diluar proses belajar mengajar didalam kelas, disebut dengan PTSDL; Prasyarat Materi Belajar, Keterampilan Belajar, Sarana Belajar, Diri Pribadi Siswa, Lingkungan Belajar dan Lingkungan Emosional (MGMP BK, 2001: 2)

Baca juga: Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM): Hantu dalam Dunia Pendidikan di Indonesia

Hal yang perlu digarisbawahi adalah walaupun kekuatan dominasi unsur proses belajar mengajar (PBM) di dalam kelas, apabila unsur PTSDL-nya lemah maka kemampuan siswa merosot, sebaliknya apabila faktor PTSDL dominan dan kuat tetapi proses belajar mengajarnya kurang memadai maka kemampuan daya serap beransur-angsur dapat ditingkatkan.

Hal ini dikarenakan PTSDL merupakan faktor penentu keberhasilan dalam proses belajar mengajar, dan yang perlu diingat adalah realitas tinggi rendahnya daya serap siswa, adanya disparitas persebaran grafik kemampuan akademik siswa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor PTSDL saja tetapi ada faktor-faktor ekstern dan intern dari siswa yang bersangkutan.

Adalah tugas dan tanggungjawab seorang guru untuk memiliki pemahaman yang komprehensif tentang hakekat pembelajaran, dan bagaimana menciptakan pembelajaran yang interaktif, analitis kritis yang dapat menumbuhkembangkan potensi-potensi yang ada pada siswa dapat terakomodasi dengan baik. Jika itu telah terpenuhi pada setiap jiwa guru maka bukan tidak mungkin pendidikan mampu mencetak pribadi-pribadi yang independen yang mampu mewujudkan masyarakat madani (civil society). []

Referensi
Ernest Gellner, Conditions of Liberty; Civil Society and Its Rivals, London: Pinguin Book, 1994
Hasan Asari, Etika Akademis dalam Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008
Badruddin Ibn Jama’ah, Tazkirah al- Sami’ wal  Mutakkalimun fi Adab al- A’lim wal Mutta’alim, Hyderabad: Dairah al- Maarif al Utsmaniyah, 1354 H
MGMP BK, Laporan Hasil Pelatihan Guru Pembimbing Kota Tegal, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Propinsi Jawa Tengah, 2001

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Saya suka tulisannya panjenengan. Namun sayang, inkonsistensi dalam penulisan imbuhan ‘di’ masih ditemukan. Pada bagian pembahasan ‘Profil Intelektual Muslim’ saya kurang setuju apabila istilah itu hanya disematkan pada seorang guru. Pasalnya, dalam sejarah peradaban Islam terminologi intelektual muslim lebih bersifat mujmal dan kapabilitas. Sebagai contohnya, dalam Islam seorang ilmuwan juga bisa sekaligus sebagai fuqaha, muhaditsin, mutakalim, filosof, ustadz, kiyai, dokter, dosen dan lain sebagainya. Dan spesifikasi intelektual muslim diartikan sebagai seorang guru adalah salah satu tupoksinya saja.
    Terimakasih. Mohon maaf dan dimaklumi, jikalau si pandir yang papa ini banyak berkomentar tidak mengena.
    Salam kenal dari saya. 🙏

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals