Kejanggalan Dasar Penetapan Idul Fitri 1441 H: Hilal Syar’i VS Hilal Astronomis?

Penetapan awal bulan Kamariah, khususnya dan ilmu falak pada umumnya merupakan contoh model integrasi sains dan agama yang sangat nyata.


Gambar: mediaumat.news

Kalau tanggal 1 Ramadan 1441 H itu jatuh pada 24 April 2020, maka tanggal 29-nya jatuh pada hari Jum’at, 22 Mei 2020. Secara syar’i, untuk penentuan 1 Syawal, rukyatul hilal (ru’yah al-hilal) dilakukan pada tanggal 29 Ramadan, demikian kesimpulan jumhur ulama terhadap hadis-hadis rukyat, seperti sabda Rasulullah saw. berikut:

الشهر تسع وعشرون ليلة، فلا تصوموا حتى تروه، فان غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين (رواه البخاري)

Bulan itu ada 29 malam, maka jangan berpuasa kamu sekalian sampai melihat hilal, jika tertutup atas kamu, maka sempurnakan jumlah hari menjadi 30” (HR. Al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra. Hadis Nomor 1907)

Hadis lain misalnya:

انما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه، ولا تفطروا حتى تروه، فان غم عليكم فاقدروا له (رواه مسلم عن ابن عمر رضي الله عنه)

Dalam hadis tersebut disebutkan فاكملواالعدة ثلاثين. Kalimat itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan ikmal atau istikmal, yakni menggenapkan jumlah hari menjadi 30. Kalimat tersebut sekaligus menjadi bayan (penjelas) bagi kalimat فاقدروا له (maka perkirakanlah) dalam hadis riwayat Muslim di atas, artinya “perkirakanlah atau sempurnakanlah menjadi 30 hari”. Demikian penjelasan singkat mengenai kapan dilakukan rukyat menurut fukaha (ulama Fikih).

Baca juga: Peredaran Bulan dalam Al-Qur’an

Pemerintah RI melalui Kementerian Agama pun juga akan menyelenggarakan rukyat dan Sidang Itsbat pada Jum’at, 22 Mei 2020. Demikian juga, ormas-ormas Islam, seperti NU juga melaksanakan rukyat pada tanggal yang sama.

Namun, terdapat permasalahan ilmiah (artinya perlu dikaji) jika melihat data hisab pada tanggal 22 dan 23 Mei 2020, terutama kalau dikaitkan dengan release BMKG terkait penetapan Idul Fitri 1441 H.

Data hisab 22 Mei 2020 menunjukkan: ketika matahari terbenam, tinggi hilal masih minus, yaitu -4,03• dan yang paling penting adalah belum terjadi ijtima’ (konjungsi) pada tanggal itu, karena ijtima’ baru terjadi pada 23 Mei 2020 pukul 00:39 WIB (dengan lokasi pengamatan Parangtritis Yogyakarta S 8:1:49,20, E 110:17:30,60).

Untuk tanggal 22 Mei 2020, jelas belum masuk kriteria MABIMS (termasuk Pemerintah RI), NU, dan Muhammadiyah. Artinya, dipastikan istikmal, sehingga Sabtu, 23 Mei 2020 sebagai tanggal 30 Ramadan, dan 1 Syawal jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020.

Kalaupun ada kesaksian hilal, pasti ditolak, meskipun bagi penganut paham rukyat, kegiatan rukyat tetap dilaksanakan untuk menggugurkan kewajiban (suquthul qadha’) karena rukyat ditakar sebagai ibadah wajib yang ghairu ma’qulil ma’na. Ru’yatul Hilal merupakan sarana atau sebab kewajiban mulainya puasa Ramadan dan buka puasa 1 Syawal, sebagaimana kaidah:

للوساءل حكم المقاصد
ما لا يتم الواجب الا به فهو واجب

“Semua sarana suatu perbuatan hukumnya sama dengan tujuannya ( perbuatan trersebut);
Tidak sempurnalah suatu kewajiban kecuali dengannya maka (mengunakanya) menjadi wajib.”

Baca juga: Metodologi Pemahaman Hadis dalam Ranah Fiqh al-Hadis

Namun, ada yang janggal di sini, yaitu dalam release BMKG menyebutkan bahwa rukyat akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Mei 2020 bagi penganut rukyat dengan dasar ijtimak terjadi pada tanggal tersebut.

Secara astronomik memang dapat dimaklumi karena yang namanya bulan baru (new month) itu ditandai dengan lahirnya bulan baru (new moon) setelah conjungtion (ijtimak). Jadi ijtimak menjadi patokan utamanya. Sementara kenyataannya, para penganut rukyat akan melakukan rukyat pada hari Jum’at, 22 Mei 2020 dengan alasan karena hari itu adalah tanggal 29 Ramadan.

Dalam simpulan nomor 2 release BMKG menyebutkan:
“2. Secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Syawal 1441 H bagi yang
menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam tanggal
23 Mei 2020. Sementara bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Syawal 1441
H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 23 Mei 2020
tersebut.”

Dalam hal ini nampak sekali perspektif BMKG adalah astronomis an sich, tidak melihat fakta syar’i-nya. Sebagaimana diketahui, fakta syar’i-nya adalah 1 Ramadan 1441 H itu jatuh pada 24 April 2020, sehingga 29 Ramadan jatuh pada hari Jum’at, 22 Mei 2020, dan secara syar’i, rukyat itu dilakukan pada tanggal 29-nya.

Sehingga, jika rukyat pada hari Sabtu, 23 Mei 2020 itu gagal, maka akan ditempuh istikmal, sehingga Ahad, 24 Mei 2020 menjadi tanggal 31 Ramadahn 1441, sedangkan 1 Syawal 1441 jatuh pada hari Senin, 25 Mei 2020. Sementara, bilangan 31 hari dalam satu bulan tidak dikenal dalam Kalender Islam atau Qamariyyah atau Hijriiah. Yang ada hanyalah 29 hari atau 30 hari. Dasarnya adalah hadis-hadis Nabi Muahmamd saw. yang jumlahnya ratusan, termasuk hadis di atas. Jika BMKG dalam mengawali Ramadan afirmasi terhadap Itsbat Pemerintah, yakni 24 April 2020 di sinilah problem ilmiahnya.

Di samping itu, pada hari Sabtu, 23 Mei 2020, dimungkinkan sudah tidak ada lagi yang melakukan rukyat, kecuali BMKG jika melaksanakannya. Jika BMKG konsisten dengan perspektifnya, yaitu scientific astronomy, maka yang namanya rukyat tetap saja ada potensi gagal dengan tinggi hilal 6,34• pada tanggal 23 Mei 2020, lebih-lebih kalau menggunakan standar visibilitas secara global.

Baca juga: Gairah Islamisasi dan Kemunduran Sains dalam Islam

Jika rukyat gagal, maka pasti akan menjadi isu yang sangat seksi yang sedikit-banyak berdampak juga kepada reputasi BMKG dan kesadaran perlunya refkeksi ilmiah mengenai kriteria visibilitas hilal dan pendukungnya sebagai dasar penetapan awal bulan hijirah.

Dalam hal ini, BMKG dapat dipahami karena menjalankan tanggungjawabnya secara ilmiah sesuai dengan bidang keilmuannya atau menyediakan data hisab. Tentu bukan kapasitasnya untuk menetapkan aspek syar’i-nya. Tetapi, ketika mengatakan bahwa penganut rukyat akan melakukan rukyat pada hari Sabtu, 23 Mei itu yang menjadi masalah.

Karena hal ini berkaitan dengan hukum Syari’at, yaitu penentuan waktu ibadah bagi umat Islam, maka perlunya kompromi ilmiah dan kordinasi secara institusional dengan aspek syar’inya, sehingga bisa terbangun integrasi antara agama dan ilmu pengetahuan atau “ilmiah cum doktriner”, meminjam istilahnya Prof. Mukti Ali atau kompromi antara hilal syar’i dan hilal astronomis, karena penetapan awal bulan Kamariah, khususnya dan ilmu falak pada umumnya merupakan contoh model integrasi sains dan agama yang sangat nyata. []

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Dr. Abdul Mughits, S.Ag., M.Ag.
Dr. Abdul Mughits, S.Ag., M.Ag. adalah Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah), Fakultas Syari'ah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals