Republik Sertifikat

Orang yang telah memiliki sertifikat dianggap memiliki kemampuan tertentu sesuai sertifikat yang ia pegang. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah asumsi ini benar?


Ilustrasi: Alex Jenkins (vice.com)

Kita hidup dalam sebuah mesin raksasa yang bernama birokrasi. Di dalamnya, setiap orang adalah bagian dari roda sistem yang bergerak secara otomatis dan gigantis. Setiap orang tak hanya tubuh, darah, dan pikiran, melainkan juga nomor. Di dalam hirupan nafas dan detak jantung kita, kertas dan angka selalu siap melukiskan apa yang terjadi.

Ketika pertama kali melihat dunia, kita dicatat di dalam selembar kertas, yang bernama akte kelahiran. Hembusan nafas kita ditandai dengan nomor urut. Tangisan pertama kita ditandai dengan guratan kata di atas kertas bernama sertifikat. Tatapan perdana kita atas dunia juga berbarengan dengan terjunnya kita ke dalam sistem birokrasi raksasa, yang bernama ‘masyarakat’.

Tak lama, waktu berselang. Ketika mendapatkan suntikan pertama dalam hidup kita, kita diberi nomor, dan sertifikat. Hal yang sama berlangsung selama beberapa tahun, sampai kita mendapat sertifikat berikutnya, yang menandakan, bahwa kita sehat. Masuk taman kanak-kanak selama kurang lebih dua tahun, selesai, dan kita mendapat sertifikat.

Baca juga: Kujamu Seribu Penjajah (Mengikis Perang, Memupuk Kompetisi)

Lulus ujian yang dilalui seringkali dengan tangis air mata juga ditandai dengan sertifikat. Menempuh pendidikan di luar sekolah diakhiri juga dengan sertifikat. Menikah, punya anak, bekerja, laporan setiap tahun, semuanya selalu dikepung oleh benda yang bernama sertifikat. Hembusan nafas terakhir kita di dunia pun, selain diikuti oleh tangis keluarga dan sahabat, juga ditandai dengan satu simbol yang terus menghantui kita sepanjang hidup; sertifikat.

Ada apa dengan sertifikat? Apa arti sertifikat? Mengapa kita hidup dalam bayangannya terus menerus? Apakah sertifikat harus terus menghantui hidup kita?

Sertifikat dan Asumsi

Sertifikat adalah suatu simbol yang menandakan, bahwa kita telah melewati satu tahap tertentu dalam hidup kita, dan berhak untuk melakukan serta mendapatkan sesuatu dengan berpijak pada tahap yang telah kita lewati tersebut. Ada satu asumsi yang bersembunyi di balik selembar kertas yang bernama sertifikat, yakni kemampuan. Orang yang telah memiliki sertifikat dianggap memiliki kemampuan tertentu, sesuai dengan sertifikat yang ia pegang. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah asumsi ini benar?

Baca juga: Menakar Pedagogi Kritis Giroux untuk Pendidikan Indonesia yang Lebih Baik

Sebuah sertifikat dikeluarkan oleh sebuah sistem tertentu. Rumah sakit (sistem kesehatan masyarakat) mengeluarkan sertifikat sehat. Sekolah (sistem pendidikan) mengeluarkan sertifikat pendidikan, yang menandakan kemampuan seseorang. Sistem-sistem lainnya mengeluarkan bukti serupa, yakni sertifikat, untuk menandakan, bahwa seseorang berhak untuk melakukan atau mendapatkan hak-hak tertentu.

Kekuatan sertifikat terletak pada kekuatan dari sistem yang mengeluarkannya. Artinya, jika sistem kesehatan sebuah masyarakat bobrok, maka sertifikat kesehatan yang dikeluarkan oleh sistem kesehatan tersebut tak ada artinya. Jika sistem pendidikan sebuah masyarakat bobrok, maka sertifikat pendidikan yang dikeluarkan pun tak ada artinya lagi. Logika sederhana ini bisa kita tarik lebih jauh ke dalam sistem-sistem lainnya.

Bagaimana dengan sistem kita?

Pertanyaan kritis di sini adalah, apa artinya, jika kita mengatakan, bahwa sebuah sistem itu bobrok? Sistem yang bobrok, pada hemat saya, adalah sistem yang memiliki jurang yang menganga antara kata dan kenyataan. Jurang tersebut adalah simbol kebohongan. Apa yang tertulis di dalam sertifikat sama sekali berbeda dari apa yang ada di dalam kenyataan.

Baca juga: Korupsi Berjamaah

Jika jurang ini menganga besar, maka asumsi yang mendasari seluruh konsep sertifikat pun juga gagal. Sebaliknya, sistem yang sehat selalu berusaha menjembatani kata dan kenyataan. Kedua konsep itu, yakni kata dan kenyataan, tak pernah sungguh sama, namun jaraknya bisa diperkecil. Di dalam sistem yang sehat, jurang yang ada amat sempit, nyaris tak terlihat, sehingga apa yang tertulis di sertifikat bisa sungguh dipertanggungjawabkan.

Roda dekonstruksi, yakni kemampuan untuk menunda dan memecah kepastian hidup, harus bergulir untuk memecah asumsi sertifikat di masyarakat kita. Asumsi harus digoyang dan dipertanyakan. Namun, asumsi harus disadari terlebih dahulu, sebelum diolah. Kesadaran akan asumsi yang bergerak di balik kesadaran masyarakat kita inilah yang, menurut saya, amat kurang di Indonesia.

Membangun Kesadaran

Jurang menganga yang tertulis di dalam sertifikat antara kata dan kenyataan sebenarnya berakar pada masalah filosofis yang lebih mendalam, yakni masalah bahasa. Bahasa tak pernah sungguh dapat mewakili realitas, baik realitas di dalam diri maupun di luar diri kita. Bahasa adalah rumusan, dan selalu ada jarak yang cukup jauh dan mendalam antara rumusan dengan kenyataan.

Baca juga: Meneguhkan Pendidikan Berbasis Budaya

Ini terlihat sederhana, namun dampaknya amat luas di dalam hidup sehari-hari kita, mulai dari salah paham di antara teman yang melahirkan konflik, ataupun salah paham antara para pemimpin negara yang membawa perang dan penderitaan. Kesadaran akan “apa yang tak dapat ditangkap dalam bahasa” ini tidak boleh menjadi alasan untuk kebohongan, tetapi perlu digunakan secara bijak untuk memahami kelemahan manusia di dalam memahami dunianya.

Di dalam masyarakat modern yang amat rumit, kehadiran sertifikat tak bisa dihilangkan. Sertifikat adalah simbol hak dan kemampuan seseorang. Yang perlu terus disadari adalah kekuatan dan kredibilitas dari sistem yang melahirkan sertifkat tersebut, dan kelemahan bahasa manusia yang tak mampu melukiskan kenyataan dan perasaan secara sempurna dalam kata-kata yang tertulis di atas sertifikat. Hanya dengan begitu, sertifikat tidak lagi menjadi simbol kebohongan, melainkan simbol kepercayaan. []

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals