Kujamu Seribu Penjajah (Mengikis Perang, Memupuk Kompetisi)

Maka penjajahan bagi kami bukan kehinaan, melainkan adalah segenap penghormatan negeri ini yang tak terperi.


Sumber gambar: wanita.me

Buta Sejarah atau Kemalasan Bersejarah yang dimaksud bukan berarti lantas tidak adanya bendera yang berkibar. Terus jalanan sepi. Tak ada pawai-pawai Agustusan yang orkestratif. Bukan itu. Seribu bendera diterbitkan ke sepanjang trotoar-trotoar Nusantara menyambut gemilang pesta ulang tahun negeri ini, tapi isinya ternyata kepalsuan-kepalsuan. Buta Sejarah yang dimaksud adalah tentang kemerosotan harga diri. Tiada pernah kita merasa hina pada keadaan harga diri yang benar-benar hina. Kita ditakdirkan sebagai Garuda dengan tanpa pernah memahami siapa itu Garuda sehingga kita tersesat pada level seekor Emprit.

Mental itu terbentuk dan bercokol di bangsa ini secara bertahap. Dimulai dari kemerdekaan bangsa ini dari penjajah Eropa, invasi Portugis, Inggris, dan Belanda ratusan tahun kemudian sekian tahun dialihkuasai oleh Jepang, untuk akhirnya proklamasi mengkontruksi semacam “benteng tak terlihat” agar kita merdeka dan punya sistem proteksi dari serangan langsung penjajah luar. Dan karena tak ada yang menjajah negeri kita lagi maka kita sepi dari stock jajahan, sebab sudah terlalu lama dijajah sekian ratus tahun, akhirnya kita kangen dengan “penjajahan” itu sehingga kita memutuskan untuk menjajah diri kita sendiri.

Baca juga: Perlindungan Sosial Untuk Indinesia Berkemajuan

Kujajah diri sendiri. Kujajah negeri ini dengan berbagai cara jajahan. Karena kecerdikan kita sendiri berkuasa atas tanah ini, maka kita punya seribu langkah cara untuk menjajah tanah air kita sendiri. Untuk memenuhi keinginan akan penjajahan, kita buka gerbang sangat lebar bagi kalian yang ingin menjajah tanah ini. Tenang, kita negeri yang baik dan murah hati, kok. Kita tidak akan marah kalau kita kalian jajah. Kami sudah terbiasa dan nyaman untuk lebih suka terjajah, bergelimang hidup melarat, sangat nyaman kondisi kita jadi babu-kuli, daripada berdaulat dengan kemandirian, memperjuangkan kehormatan jati diri, mengusung independensi dan tegakan busungan kewibawaan.

Bahkan saking telalu baiknya kita, toh andai detik ini juga ada sejumlah negara-negara dunia, bergabung, dan secara kolaboratif ingin menjajah tanah Indonesia ini, ya monggo saja, kita persilakan dengan suka cita, kita gelar karpet-karpet merah, kita bakal gelar dengan pekikan selamat datang, kita adakan acara selametan besar-besaran atas misi penjajahan mulia itu, kita sambut dengan keplakan terbang dan Thola’al Badru, kita jamui dengan piring-piring dengan buah pisang tropis kami yang ranum-ranum.

Silakan… silakan menjajah kami. Belanda? Jepang? Eropa? Barat? China? Mau gaya jajah apa? Teknologi? Bisnis? Reklamasi? Investasi besar-besaran? Monggo, dengan senang hati kami menyambutnya. Ini juga demi keberlangsungan hidup kan? Maka kami negara berkembang yang punya tingkat ketidaktegaan yang tinggi, kujajakan diri ini. Toh kalau negeri ini terjajah itu berarti ada simbolisme “akreditasi” bahwa memang negeri ini kaya raya. Pengakuan simbolik bahwa kita ini Zamrud Khatulistiwa.

Maka penjajahan bagi kami bukan kehinaan, melainkan adalah segenap penghormatan negeri ini yang tak terperi. Asal dengan syarat: kalian yang mau menjajah dan menginjak negeri ini jangan sampai bawa senjata, cara invasi lama kalian ganti cara baru yang “bis sirri”, jangan sampai terlihat oleh kami, mengendap dan diam-diam saja, penuhi taktik serangan kalian dengan serangan kamuflase yang tak kan mungkin kami tebak, sehingga kami tak sadar bahwa negeri ini sedang dijajah kalian.

Belum urusan kita dijajah dari luar, tak sadar malah kita jajah juga negeri ini melewati kepentingan-kepentingan diri kita sendiri. Maka jadi pemimpin di Indonesia harus telaten, Kawan. Pemimpin yang mengayomi “negeri seribu jajahan” ini harus punya ekstra kesabaran revolusioner. Pemimpin Indonesia harus ampuh. Dia jangan sampai bisa untuk “didikte” oleh kepentingan-kepentingan dari sejumlah negara maju di luar sana sekaligus para pebisnis MNC serta yang menjadi jamur di negeri ini: kelompok-kelompok kepentingan dalam negeri yang kian membentuk “Lingkaran Setan”. Termasuk pemburu rente, lihat “proyek E-KTP”, yang kelebat-kelebut secara kolutif antar aktor: birokrasi, pemerintahan, parlemen dan praktisi-praktisi bisnis.

Termasuk panah-panah media yang bertebaran di dunia informasi yang sangat cepat sekarang ini. Kita sekarang berada pada suhu politik yang sedang hangat dan tidak ada permusuhan sebenarnya. Tapi lihatlah sejumlah televisi mem-framing bahwa dua figur itu bermusuhan. Dan itulah yang membuat masyarakat akar rumput akan selau bertengkar. Masalah lain misalnya, banyak juga yang mengatasnamakan Pancasila tapi selalu atas dasar kepentingan, meski memang dalam seluruh perjalanan sejarah pasca kemerdekaan pun, rezim manapun hanya sanggup mentransformasikan Pancasila secara adhoic. Pancasila hanya menjadi slogan dalam kebijakan dan debat “politicking”.

Banyak sekali kalian bisa lihat dan teropongi satu-satu mental “penjajahan” itu dari sejumlah segmen kehidupan bersosial dalam bernegara ini, entah dari perseorangan atau kelompok, dari indigenos ataukah pihak luar, tak ubahnya seperti gejala sistem imun yang semakin hari semakin tak sadar menyerang tubuh sendiri. Dan itu terjadi tak hanya sekali, bahkan tak henti-henti sepanjang tahun. Tidak ada kompetisi sehat yang tumbuh, yang ada adalah situasi perang. Sekian lama ini yang terbentuk adalah “budaya perang kolot” dalam dan di luar yang kita bisa sadari.

Kalian bisa lihat di segala bentangan aspek: politik praktis; pertikaian yang samar antar parpol-parpol, drama “sinetron” di kalangan pejabat yang tak kunjung usai dan tamat, permasalahan ekonomi dan tangan-tangan pengusaha, pejabat elit dan pebisnis pemburu rente; artinya ngajak perang dengan ekonomi yang berpihak pada rakyat, juga rakyat sendiri yang tak sadar ini dia lagi ikut berpolitik, ataukah mengalami “slip brain” karena terpolitisasi pikirannya hingga tiap hari selalu melakukan agitasi yang provokatif, belum lagi agama dengan perdebatan klasik yang super kompleks. Segala hal dari berat hingga urusan rumah tangga, yang debatable, memuat keuntungan pribadi, selalu terkotori peperangan. Hampir tidak ada kompetisi yang fresh kulihat, sementara yang ada adalah pertempuran-pertempuran rivalitas-konfrontatif busuk.

Jelas beda jauh antara apa yang disebut “perang”, dengan apa yang disebut “kompetisi”. Puluhan negara yang kaya raya, Kawanku, utamanya sumber daya alamnya, entah kalian bisa nilai dari gas, minyak bumi, emas, atau apapun, negaranya bisa super kaya karenanya, tapi karena sumber daya manusianya yang penuh konflik, ribut tak berkesudahan, lalu jatuh miskin dan jadi “Negara Gembel” karena perang.

Ratusan triliun dana kas negara digelontorkan secara jor-joran hanya untuk pasokan dan kebutuhan perang. Kalian minta contohnya? Irak dan Syiria contoh paling riil di depan mata. Mau contoh lagi? Libya dan Saudi tak Gembel-gembel amat karena SDA yang melimpah, tapi secara data yang dihimpun, banyak juga mereka terpaksa kuras uang habis-habisan untuk “ngongkosi” perang negara-negara sekutunya. Dan bahkan detik ini, ekonomi Turki juga pesakitan karena terlibat perang global dengan Amerika Serikat.

Itulah perang. Beda lagi dengan kompetisi. Jikalau mereka-mereka memilih jalan perang, menghunus pedang permusuhan, menebar konflik dengan senjata api, meriuhkan ledakan bom, yang targetnya pasti adalah “menghancurkan”. Maka kompetisi targetnya adalah “membangun”. Sederhananya lihatlah kompetisi-kompetisi olahraga, semacam Piala Dunia, Asian Games, atau juga Piala AFF yang sedang gembira-gembiranya. Masing-masing delegasi dari tiap negara menunjukkan perwakilannya agar bisa membuktikan keunggulannya secara transparan dan terukur. Sehingga akhirnya melahirkan prestasi-prestasi. Coba, yang mereka maunya ribut terus, bikin kacau ruang publik, tebar cacian di medsos, prestasi dan keunggulan apa yang mau ditunjukan? Jadi Ketua Saracen Lingkar Indonesia?

Arsyad Ibad
Sekargandha,
12 Agustus 2018 10:11

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
A. Irsyadul Ibad
A. Irsyadul Ibad atau Arsyad Ibad melakukan restorasi humanisme, arketipe ketauhidan dan cara pandang interpretasi.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals