Belajar Hidup Dari Monyet di Tengah Pandemi Covid-19

Nampaknya dalam hal ini kita perlu belajar dari monyet yang sering dibuat meme maupun lelucon.


Sumber gambar: www.monkeyworlds.com

Di masa wabah Covid-19 yang melanda dunia, kita sebagai manusia dituntut untuk bertahan hidup. Dalam survive nya, manusia mengalami problamtika yang kompleks. Kita diharuskan bertahan untuk hidup dengan tidak mengesampingkan kebutuhan ekonomi.

Dalam kenyataanya, banyak yang kewalahan menghadapi semua ini. Ada yang meninggal karena terinfeksi virus ini, dan ada pula yang ekonominya hancur karena di PHK, dagangan tidak laku, bangkrut dan lain-lain.

Akhirnya mereka pun kalah dengan keadaan. Menghadapi hidup di tengah pandemi ini bak seperti kata pepatah kuno ‘seperti makan buah simalakama’.

Jika mereka harus bekerja maka mereka harus bersiap terinfeksi virus. Jika tidak bekerja, maka mereka akan mati kelaparan. Semua menjadi serba salah.

Nampaknya dalam hal ini kita perlu belajar dari monyet yang sering dibuat meme maupun lelucon.

Lihatlah bagaimana monyet mempertahankan hidupnya. Tidaklah salah kalau kita mengambil pelajaran dari mereka selagi itu masih baik. Monyet sepertinya tidak pernah menyerah dalam menghadapi hidup yang keras. Mulai dari penghancuran habitat oleh manusia serakah dan bejat dengan menebang hutan secara masif.

Alih-alih manusia sebagai penguasa bumi, mereka lupa bahwa ada hak-hak makhluk lain yang mereka rampas.

Lihatlah contoh terdekat bagaimana hutan di Indonesia berkurang secara drastis bahkan kehilangan jutaan hektar hutan tiap tahunnya. Sebagaimana dilansir dari Kompas, dalam kurun waktu 2013-2017 kehilangan tutupan hutan di Indonesia mencapai rata-rata 1,47 juta hektar per tahunnya.

Baca juga: Bijak Menyikapi Alam

Jumlah tersebut belum diakumulasikan dengan tahun-tahun sebelumya. Kita sudah tahu hutan menjadi habitat monyet dan hewan lainnya. Dalam hal lain monyet juga harus bisa mempertahankan diri dari perbururan manusia yang ingin memanfaatkan jasa mereka seperti atraksi seni, memanjat kelapa, dipelihara dan lain-lain.

Mengapa harus mengambil pelajaran dari monyet? Menurut saya monyet adalah hewan yang adaptif. Mereka masih bisa hidup beradaptasi walaupun rumah mereka ‘digusur’.

Kita mungkin pernah mendengar bagaimana serbuan monyet ke kebun warga. Apakah kita hanya menyalahkan dengan alasan sikap naluriah hewan saja? Tidak! Penyebab utama peristiwa tersebut tidak lain adalah mereka kehilangan sumber makanan sehingga mencari makanan yang lain yang masih ada, kebun timun dan cabe warga misalnya.

Saya bahkan hampir menangis melihat secara langsung bagaimana kepala monyet-monyet tersebut disenapan oleh warga. Dimana rasa kasih dan sayang kita terhadap sesama makhluk hidup terutama hewan?

Hal lain yang membuat saya kagum dengan hewan ini adalah ketahanan mereka walaupun mempunyai fisik yang kecil. Di saat hewan lain seperti harimau, kijang, kancil bahkan gajah pun punah karena eksplorasi manusia terhadap hutan, habitat monyet masih terbilang banyak.

Sungguh benar-benar menakjubkan. Kita bisa mengambil pelajaran di sini adalah yang tetap eksis bukanlah yang mempunyai badan besar seperti gajah, ataupun yang mempunyai taring kuat dan kekuasaan seperti harimau, atau lagi yang bisa berlari lincah seperti rusa dan kancil.

Tetapi yang tetap hidup adalah yang cerdik dan bisa beradaptasi. Dengan memakan apa yang ada, monyet tetap hidup dan ‘kebutuhan ekonominya’ tetap terpenuhi.

Bahkan seperti yang dilansir dari Okezone.com, populasi monyet ekor Panjang di Kawasan konservasi Taman Hutan Rakyat (Tahura) di Jawa Barat mengalami overpopulasi (kelebihan populasi) hingga mencapai lebih dari 600 ekor. Akibatnya mereka keluar dari habitatnya kemudian mencari makan di pemukiman warga.

Maksud penulis disini bukan kagum atas giatnya mereka dalam bereproduksi atau menambah keturunan. Akan tetapi dari peristiwa ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa monyet saja tetap survive di saat luasnya hutan makin berkurang. Mereka tidak berpasrah diri dengan tetap berdiam menghadapi realita, akan tetapi tetap looking forward (bergerak kedepan) untuk bertahan hidup.

Kita bisa mengimplementasikan sikap monyet tersebut terhadap keadaan saat ini. Jika yang biasanya berjualan dengan menggelar lapak kini bisa dengan mempromosikan lapaknya di ECommerce, yang biasanya pergi ke kantor dan ke sekolah kini bisa dengan mengandalkan gadget-nya dengan menggelar meeting maupun sekolah secara virtual atau daring.

Ingin penulis tegaskan di sini adalah kita bukan mencontoh monyet dengan mancaplok apa yang bukan milik kita. Tetapi yang perlu dicontoh adalah bisa beradaptasi dengan keadaan sesulit apapun.

Baca juga: Bangkit dari Bencana

Segala sesuatu pasti ada positif dan negatifnya, begitupun Covid-19. Dengan keberadaan pandemi ini kita masyarakat awam bisa sedikit melek teknologi. Yang sebelumnya belum mengenal aplikasi tatap muka sepeeti Zoom, Google Meet, dan semacamnya kini sudah mengenalnya.

Kita adalah makhluk yang diberikan akal oleh Tuhan dan seyogyanya kita menggunakan akal itu untuk menghadapi pandemi ini.

Tetap berpikiran positif dan optimis adalah salah satu ikhtiar kita. Meskipun melakukan prokes dengan ketat tapi pikiran masih dipenuhi stigma negatif bisa saja menjadi sebab dari virus ini. Hal ini karena mindset bisa memengaruhi imunitas seseorang.

Jika imun turun, virus menjadi mudah masuk dan berkembang biak. Akhirnya penulis ingin menyampaikan bahwa kita harus bisa beradaptasi dengan keadaan sesulit apapun terutama pandemi Covid-19. Apakah kita mau kalah beradaptasi dengan monyet? Tentu tidak.

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rizki
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals