Paradigma Filsafat Hindu tentang Perdamaian

Sesama manusia maka kita harus merasa memiliki satu sama lain. Sebab dengan rasa memiliki satu sama lain akan menimbulkan kasih sayang antar manusia.


perdamaian-filsafat-hindu
Sumber gambar: suarainqilabi.com

Keinginan hidup damai merupakan bagian dari fitrah manusia. Tidak ada manusia yang tidak ingin hidup damai. Namun, terkadang dalam kenyataannya fitrah manusia untuk hidup dalam damai selalu dikotori oleh manusia sendiri dengan konflik dan pertumpahan darah. Baik disebabkan oleh kepentingan politik, ekonomi, ideologi, agama, dan lain sebagainya. Karena itu tidak sedikit perang terjadi di antara bangsa-bangsa besar, bahkan banyak pula peperangan terjadi yang melibatkan pemeluk agama-agama besar dunia.

Untuk saat ini, perang secara fisik yang melibatkan persenjataan memang tidak terlihat secara formal atau mungkin bisa dikatakan tidak ada. Tapi benih-benih konflik mungkin saja masih terpendam dalam diri manusia yang suatu saat bisa saja muncul ke permukaan. Sebab pada dasarnya manusia itu diciptakan dengan membawa tanggung jawab besar di dunia ini, yakni: pertama, sebagai tokoh perdamaian. Kedua, sebagai pelaku konflik atau perang. Hal ini sama seperti seseorang ketika menafsirkan ajaran suatu agama. Ada yang menafsirkan secara baik dan benar, ada yang menafsirkan secara liar dan demi kepentingan kelompoknya.

Dalam konteks beragama, kekerasan, perang dan konflik memang bukan sesuatu yang baru adanya, walaupun mungkin tidak seorang pun yang sepakat bahwa agama adalah sumber dari segala bentuk kekerasan, konflik, dan perang yang terjadi. Namun yang cukup menyedihkan dan sangat memprihatinkan ialah para pelaku kekerasan atau konflik itu tidak jarang mengatasnamakan suatu agama atau legitimasi agama, bahkan mengatasnamakan Tuhan. Padahal latar belakang konflik atau perangnya akibat masalah politik dan ekonomi.

Baca Juga: Israel, Palestina, dan Proxy War

Menggunakan nama Tuhan memang selalu memiliki kekuatan yang dahsyat dalam melakukan tindak kekerasan dan konflik, maka tidak heran jika seorang George Bush Presiden Amerika Serikat ke-41 mengatakan bahwa; “saya sedang melakukan sabda Tuhan untuk menyerang Irak dan Afghanistan. Itu sudah saya lakukan. Tuhan bersabda lagi kepada saya, ‘George, pergi dan hentikan ditaktor di Irak.’ Itu juga sudah saya lakukan” (Rofiq, 2012). Tentu kenyataan ini sangat memprihantinkan. Mungkin George Bush hanya satu dari sekian banyak orang atau oknum-oknum tertentu yang juga melakukan hal sama demi kepentingannya.

Oleh karena itu, dalam hal ini diperlukan upaya serius dalam membangun perdamaian yang lebih adil, baik, dan bermanfaat bagi sesama. Salah satunya adalah melihat secara utuh beberapa nilai di dalam agama Hindu. Mengapa Hindu? Sebab saya meyakini bahwa setiap agama memiliki sistem nilai luhur yang diajarkan kepada manusia agar mereka hidup bahagia dan damai. Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk jadi pembunuh yang menciptakan peperangan. Melainkan mengajarkan kepada umatnya untuk saling mengasihi.

Dalam konsep Hindu untuk mewujudkan kedamaian, keharmonisan, keselarasan, dan kerukunan sesama umat manusia adalah berpedoman pada ajaran Tat Twam Asi. Ajaran ini merupakan pedoman esensial mengenai cara umat manusia untuk hidup rukun dan damai. Ajaran ini bersumber dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran umat Hindu yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam Kitab Candayoga Upanisad disebutkan bahwa Tat Twam Asi merupakan filsafat Hindu. Kata Tat berarti itu atau dia. Twam berarti engkau, dan Asi berarti adalah atau juga. Jadi Tat Twam Asi berarti; “dia atau itu adalah engkau juga”. Atau “dia adalah kamu, saya adalah kamu, dan semua makhluk adalah sama”.

Konsep Tat Twam Asi sendiri merupakan ajaran yang dalam Kitab Upanisad mengisahkan bahwa ada seorang anak bernama Svetaketu yang merupakan murid sekaligus putra dari Uddalaka yang merasa sombong dan menganggap dirinya paling hebat karena telah merasa mengenal Tuhan. Pada akhirnya Svetaketu disadarkan oleh ayahnya bahwa realitas itu tunggal adanya dan tidak terpisah-pisah. Begitu pula dengan manusia dan alam yang juga merupakan satu kesatuan dengan Tuhan. Tat Twam Asi merupakan intisari dari ajaran Upanisad yang menjelaskan bahwa manusia bukanlah suatu entitas yang terpisah dengan Tuhan dan alam semesta, namun satu kesatuan (Tika, 2019).

Di dalam filsafat Hindu dijelaskan bahwa Tat Twam Asi adalah ajaran kesusilaan yang tanpa batas, yang identik dengan perikemanusiaan. Artinya memahami sesama manusia adalah bentuk persaudaraan, sebagai sesama manusia maka kita harus merasa memiliki satu sama lain. Sebab dengan rasa memiliki satu sama lain akan menimbulkan kasih sayang antar manusia (Yoniartini, 2020).

Tat Twam Asi selalu mengamalkan cinta kasih kepada sesama, sebagaimana disebutkan bahwa: “Hyang amati, mati wang tan padosa, haywa anglarani sarwa prani, haywa kita tan masih ring wang nista”. Artinya janganlah menyakiti mahkluk hidup, janganlah tidak menaruh belas kasihan terhadap orang miskin atau orang yang ditimpa kemalangan. Cinta kasih sejati ditandai dengan cinta kepada kebenaran dan kebaikan, maka menjadi kewajiban setiap orang untuk berbuat baik dan benar (Tika, 2019).

Baca Juga: Mahatma Gandhi Sang Jiwa Agung Melawan tanpa Kekerasan

Prinsip dasar Tat Twam Asi ini di dalam kehidupan, khususnya adat Bali diberi pengertian ke dalam beberapa asas seperti: (Winowod, 2020).

A). Asas suka dan duka, artinya senang dan susah, gembira dan sedih dirasakan bersama. B). Asas paras poros yang artinya bahwa orang lain adalah bagian dari diri sendiri dan diri sendiri adalah bagian dari orang lain. C). Asas salunglung sabayantaka, artinya baik buruk, hidup mati ditanggung bersama. D). Asas saling asih, saling asah, dan saling asuh, yang artinya saling mencintai, menyayangi, dan tolong menolong.

Ajaran Tat Twam Asi mengajak setiap manusia atau pemeluk agama untuk turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Bertindak tanpa menyakiti, ikut merasakan kebahagiaan dan kesedihan bersama. Dan dapat membina hubungan yang saling asih, asah, dan asuh. Konsep Tat Twam Asi ini pun sama dengan perkataan Johan Galtung seorang aktivis perdamaian yang mengatakan bahwa; tuntutan etika pun berkembang, bukan lagi etika individual yang cenderung egoistik, tetapi makro-etika yang menuntut tanggung jawab seluruh masyarakat dan semua bangsa (Windhu, 1992).

Dari konsep Tat Twam Asi di atas dapat dikatakan bahwa setiap agama selalu mengajarkan kebaikan dan kedamaian tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial. Bahwa setiap makhluk berhak hidup tenang, damai, dan harmonis. Adapun perang dan konflik yang dilegitimasi agama sebagaimana yang dilakukan oleh George Bush bukanlah “wajah agama” sesungguhnya. Ini pulalah yang menjadi dasar dari perdamaian yang menjadi cita-cita bersama, yakni meskipun tidak terjadi kekerasan secara langsung (perang) suatu masyarakat tidak bisa dikatakan damai ketika masih banyak orang yang menderita kelaparan.

Sehingga tujuan dari Tat Twam Asi adalah memperbaiki kualitas kehidupan setiap individu yang termasuk di dalamnya kesetaraan sosial, solidaritas dan seperti arti Tat Twam Asi itu sendiri yakni perikemanusiaan yang sudah dengan jelas tercantum dalam Pancasila, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab.

Daftar Pustaka

Rofiq, A. (2012). Tafsir Resolusi Konflik Perspektif al-Quran dan Piagam Madinah. Malang: UIN-Maliki Press.

Tika, P. D. (2019). Tat Twam Asi dan Solusi Masalah Studi Chandogya Upanisad . Jurnal Yoga dan Kesehatan Universitas Hindu Negeri Denpasar .

Windhu, M. (1992). Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Winowod, S. K. (2020). Suatu Pendekatan Dialogis Melalui Teori Tat Twam Asi Agama Hindu Dengan Hukum Kasih Dalam Matius 22:34-40. Jurnal Teologi Kristen IAKN Manado .

Yoniartini, D. M. (2020). Konsep Tri Hita Karana Pada Anak Usia Dini. Malang: Literasi Nusantara.

Editor: Ainu Rizqi
 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals