Karya Cipta Untuk Cinta

Kenapa juga Kau hadirkan rumus fisika? Jika gravitasi dan massa tidak mempengaruhi jatuhnya cinta. Lantas, Untuk apa ini semua?


Foto oleh Karin S dari Pexels

Karya Tuhan

Kun fayakun! kau ada.
Menghias relung-relung dunia
Menjadi simbol keindahan.

Pesona, kilau, cahaya akan hadirmu
Ingin kucumbu dengan doa-doaku.

Kasih,
Wajahmu ingin kulukis di depan pintu,
Tubuhmu ingin kucoret di dinding-dinding,
Dan senyummu, ingin kupaku di atas atap.
Lalu kubangun rumah megah
Dengan kau menjadi meterial-material keindahan, dan aku penghuninya.
Iya, kita berdua.

Kau ada, aku ada
Di rumah ini kau bertanya, dan aku menjawab.
Simpel saja.
"Siapa aku?" tanyamu kala itu,
Yang spontan ingin kujawab bahwa kau adalah karya Tuhan yang sedang ingin ku bahagiakan.

Jogja, 09 Maret 2020

Satu Kata

Tatkala kubenamkan satu kata dalam hamparan samudera
Surut semua
Samudera haus
Kering tandus

Tatkala kuteriakkan satu kata ke atas langit
Runtuh seketika
Langit Terkapar
Tak mampu mendengar

Tatkala kubisikkan satu kata pada bunga-bunga,
Layu sudah
Mereka membusuk,
Malu, dan tertunduk

Pada seluruh alam, tepat hari ini aku deklarasikan
Tentang rasa yang tak pernah basi
Tentang cinta yang tak akan mati
Dan pada kata yang mengeringkan samudera, meruntuhkan langit, membusukkan bunga-bunga.
Kasih, kata itu namamu.

Gresik, 21 Maret 2020

Baca juga puisi: Najis Itu Aku (Dan Beberapa Puisi Prosa)

Tadi, Saat ini, dan Nanti

Tadi,
Kau tersenyum.
Mekar bak bunga mawar,
Sekilas namun membekas,
Tipis tapi manis.

Saat ini,
Aku ingin mengenalmu, lebih jauh.
Agar kita lebih dekat
Lebih dari kata “lebih” itu sendiri
Ya, aku ingin lebih.

Nanti,
Aku ingin bersua
Seperti dulu pertemuan pertama
Kau tawarkan aku senyuman, dan kubalas dengan tatapan.
Lalu kita, saling kata, dalam satu kota, Jogja.

Tadi, saat ini, dan nanti
Merupakan waktu
Yang di mana cintaku padamu tak mengenal itu
Sungguh.

Gresik, 22 Maret 2020

Baca juga artikel: Cantik itu Ada Standarnya?

Beda Tapi  Cinta

Dik,
Setelah mataku terlelap
Mahameru bergetarrr
Samudera menghantam, badai membabi-buta
Mereka cemburu, mendengar bibirku bersyair tentangmu.

Sungguh,
Kau pernah memintaku bersyair untukmu
Namun itu tak perlu,
Sebab sejak saat itu kau telah resmi menjadi ibu
Bagi setiap kata-kataku.

Aku,
Berbeda denganmu
Kau adalah cinta dalam bentuk kata
Tokoh utama dalam cerita kita
Cuilan surga di dunia
Sedang aku, sekedar "hanya".

Mencintaimu
Tak perlu bukti, tak perlu saksi
Mahameru, samudera, juga badai telah mewakili.
Dan di awal bait-bait ini telah kugambarkan,
Bahwa;
Dik, sungguh aku mencintaimu

Jogja, 16 Maret 2020

Baca juga: Dari Tuhan Untuk Manusia

Untuk Apa?

Di balik semua keramaian itu, aku ada.
Namun fana.
Di balik semua yang fana itu, Engkau ada, entah dimana.
Katanya ''Engkau ada tanpa diadakan, awal tanpa permulaan, akhir tanpa akhiran.''
Itu katanya, dan aku percaya.

Yaa Khaaliq,
Yang Maha Pencipta.
Izinkan hambamu bertanya.

Langit dan bumi, air dan api
Jarak dan waktu, rindu dan temu
Aku dan dia, benci dan cinta.
Apa maksud Kau ciptakan itu semua?

Buat apa Kau ciptakan rumus matematika?
Jika jarak dibagi waktu adalah rindu.
Kenapa juga Kau hadirkan rumus fisika?
Jika gravitasi dan massa tidak mempengaruhi jatuhnya cinta.
Lantas,
Untuk apa ini semua?

Gresik, 6 November 2019

Sampah ini tercipta karna setetes senyummu selalu mengusik pejam mataku dik. Aduh.[]

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
8
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
13
Suka
Ngakak Ngakak
2
Ngakak
Wooow Wooow
5
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
3
Terkejut

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Puisi

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals