Haji: Status Sosial atau Spiritual Journey?

Haji tak dapat dipandang sebagai fenomena spiritual belaka. Di dalamnya terdapat konstruksi sosial bagi pelakunya sehingga berpengaruh pada status sosialnya di masyarakat.4 min


Ilustrasi ibadah haji | (pexels/taha-elahi)

Belakangan, anemo masyarakat untuk menunaikan haji sebagai rukun Islam kelima meningkat. Entah apa yang melatarbelakangi masyarakat demikian bersemangat walaupun antri puluhan tahun baru bisa berangkat. Biaya yang dikeluarkan terbilang cukup mahal, namun justru ibadah haji kian diminati. Bukan semata gelar “Haji” di depan nama yang diperoleh selepas menunaikannya. Walaupun seseorang berhaji berkali-kali, gelar “Haji” cukup sekali ditulis. Itu juga terkadang ada orang yang harus ditulis lengkap nama dan gelar “Haji”, tanpa gelar “Haji” di depan nama, ia tidak berkenan.

Dahulu, asal muasal gelar HAJI merupakan pemberian pihak kolonial kepada warga Muslim nusantara yang baru pulang berhaji. Rasulullah SAW dan para sahabat tidak menggunakan gelar “Haji”.

Pengalaman melaksanakan ibadah haji bagi tiap orang akan berbeda. Tidak mustahil, muncul rasa ‘gumunan’, seolah tidak percaya bisa menunaikan ibadah haji, karena pada awalnya ia hanya berangan-angan, lambat laun Allah Swt mengabulkan keinginannya. Bagi kalangan menengah ke bawah, ibadah haji merupakan sesuatu yang mewah. Mungkin butuh waktu panjang untuk menabung dan memantapkan diri hingga datang panggilan Allah Swt, karena sejatinya Ia memampukan yang dipanggil, bukan memanggil yang mampu.

Baca Juga: Berhaji di Era Digital

Islam tidak mengenal kasta, demikian juga dengan haji. Berapa banyak orang yang sebenarnya mampu secara finansial, tetapi oleh Allah Swt belum dimampukan berkunjung ke Baitullah. Sebaliknya, justru secara finansial biasa-biasa saja, tetapi Allah Swt malah mengundang mereka. Logika Sang Khalik dengan makhluk berbeda. Sehingga ibadah haji adalah ibadah yang istimewa dan melibatkan campur tangan Dzat yang maha berkehendak.

Fenomena Haji di Indonesia

Indonesia memiliki jamaah haji terbanyak di dunia. Dua ratus ribu orang tiap tahun berangkat ke tanah suci. Haji menjadi simbol perjalanan spiritual luar biasa. Seseorang yang berhaji sesungguhnya ia harus mampu menangkap isyarat-isyarat ketuhanan baik aspek ritual maupun simbolik yang melekat di dalamnya. Tuntutan berhaji tidak hanya mengutamakan ibadah fisik saja, melainkan juga harus memberikan pengalaman batin yang mendalam. Ibadah haji bila hanya mengejar kesempurnaan rukun dan syarat semata justru tidak akan memberikan bekas (atsar) yang bagus dan hanya menggugurkan kewajiban saja.

Allah Swt menggambarkan ibadah haji sebagai ibadah yang berkonsekuensi transendental. Dalam aspek lain, syariat haji itu merupakan aklamasi kesanggupan dan ketaatan umat Islam terhadap perintah Allah Swt sebagaimana termaktub dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 96-97. Visualisasi kata Makkah atau Bakkah dalam ayat tersebut menyiratkan perintah Allah Swt untuk melaksanakan perjalanan suci (spiritual journey) ke suatu tempat yang diberkahi, yang di dalamnya ada pengajaran dan pelajaran agar manusia tidak lupa diri.

Siapa pun ia, entah seorang raja, pejabat, bahkan presiden sekalipun kedudukannya sama dalam pandangan Tuhan. Ia di posisi sebagai ciptaan dan menghamba kepada dzat yang maha Esa, memasrahakan segala urusan hanya kepada Allah Swt. Suatu saat juga akan kembali pada dzat-Nya dengan memenuhi sebenar-benarnya panggilan, yakni menghadap Allah Swt dengan tidak membawa apa-apa melainkan amal saleh.

Pemaknaan Ibadah Haji

Pemaknaan haji tidak bisa dilihat parsial. Ada sebagian masyarakat masih tertuju pada pola tradisional, yakni secara otomatis bila seseorang pulang melaksanakan ibadah haji, ia digelari dengan predikat “Haji” sebagaimana terdeskripsikan di atas. Oleh karena itu, asumsinya orang tersebut ada peningkatan ibadah dari sebelum menunaikan haji. Terkadang haji juga dikontestasikan sebagai arena untuk meraih derajat sosial elit di masyarakat. Kultur Nusantara jaman dulu menggambarkan haji sebagai suatu tradisi kesederhanaan yang sebagian dilaksanakan oleh kelompok-kelompok kecil masyarakat.

Konteks kesederhanaan di sini adalah model mereka dalam mengaktulisasikan haji sebagai perangkat untuk membebaskan diri dari ketidakadilan kolonial. Walaupun ada juga yang berangkat menunaikan ibadah haji secara terang-terangan. Kelompok ini cenderung dari kalangan priyayi yang mendapatkan privilege dari pihak kolonial. Situasi ini terjadi sekitar abad ke-16 hingga berlanjut ke abad-17. Sedangkan kelompok lain berinisiatif menunaikan haji karena ingin menimba ilmu ke tanah suci.

Para pedagang dan santri (penuntut ilmu) setelah selesai berhaji, mereka tidak langsung pulang ke Nusantara, tetapi menetap agak lama beberapa bulan, bahkan ada yang sampai tahunan di tanah suci. Bisa dibayangkan, ibadah haji kala itu memakan waktu enam bulan (pulang-pergi). Hal ini dilakukan untuk memperkuat modal sosial dan kapital. Di sisi lain, pihak kolonial, dalam hal ini Pemerintah Hindia Belanda, lagi-lagi berkepentingan dalam urusan haji, mereka berupaya memanfaatkannya untuk memperkaya devisa domestik negaranya dengan menyediakan transportasi pemberangkatan setiap tahun dengan kapal laut.

Baca Juga: Haji Backpacker

Status “Haji” merupakan achieved status, ini berbeda dengan ascribed status yang diperoleh berdasarkan keturunan seperti gelar sultan dan raja (darah biru). Achieved status sifatnya terbuka dan dimungkinkan bagi siapa saja yang “berusaha” pasti mendapatkannya. Dalam sebagian kultur masyarakat kita, keinginan untuk berhaji terkadang “paitan” atau bermodal dengan menjual tanah dan sawah. Sebuah usaha yang istimewa untuk bisa bertamu ke Baitullah.

Kultur di Jawa, dipahami juga oleh Martin Van Bruinessen, orang-orang Jawa belum bisa meninggalkan sakralitas atau kepercayaan yang mengandung nilai-nilai spiritualitas tinggi. Kepercayaan itu kemudian melembaga secara turun temurun dan kerap menyandingkan pengalaman kosmis di Makkah dengan tempat-tempat di Nusantara yang konon berpahala sama bila dilakukan.

Perspektif etnografik yang penulis peroleh, sebut saja seperti keyakinan bila tidak mampu berhaji bisa diganti dengan mendaki sekian kali ke gunung tertentu dan mendatangi suatu tempat di daerah tertentu, pahalanya sama dengan naik haji ke Makkah. Bagi masyarakat Muslim kebanyakan, tentu saja cara seperti ini di luar nalar beragama dan tidak dibenarkan, bahkan sesat.

Haji dan Pergeseran Identitas

Ruang-ruang kesadaran masyarakat dalam memperlakukan haji sebagai religious experience (pengalaman keagamaan) sejatinya berpeluang menampilkan pergeseran identitas sosial dan ekonomi yang telah berubah. Simbol-simbol khusus haji melekat di masyarakat, seperti sebutan “Pak Haji” dan “Bu Haji”, selain itu, masyarakat kerap menyandingkan bila sehabis berhaji, identitas surban dan kopiah haji menjadi sesuatu yang harus dikenakan. Ketaatan dan kepatuhan yang selama ini dicari mungkin saja hadir seusai berhaji, bahkan bisa juga, predikat haji ini menjadikan si empunya berperilaku lebih terpuji di tengah masyarakat.

Transisi ekosistem berhaji masyarakat di era klasik dan kontemporer tentu tidak seragam. Hal itu tidak bisa dipisahkan dari human construction yang dipengaruhi oleh situasi politik, ekonomi dan sosial yang begitu dinamis. Ibadah haji ini memuat algoritma-algoritma ketuhanan yang belum tentu bisa dipecahkan logikanya. Runtutan haji, mulai proses pemberangkatan hingga pemulangan menyiratkan suatu gambaran betapa beratnya rangkaian haji, ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi.

Sebagian juga berpandangan jika ibadah haji adalah jihad yang juga harus mengorbankan fisik dan jiwa sepenuh hati. Oleh karena itu, di masyarakat kita melakukan pamitan haji. Calon haji sudah memasrahkan keluarga dan situasi kepada Allah Swt, apapun yang terjadi semua atas kehendak Allah Swt, sekalipun jika ditakdirkan wafat di tanah suci.

Makkah dan Madinah dianggap sebagai miniatur akhirat, maka, ketika seseorang berangkat haji bila ia “banyak dosa”, balasan di tanah suci akan diperolehnya dan bila ia memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk sebelum berangkat, oleh Allah Swt ditampakkan di tanah suci. Cerita-cerita demikian santer beredar di masyarakat, akibatnya untuk kondisi sekarang, masyarakat kita benar-benar mempersiapkan berangkat ke tanah suci baik mental maupun finansial.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
l_u_k_i_s

Master

Penulis merupakan peminat isu-isu kritis yang sedang mengemuka dan menyukai kajian-kajian lintas disiplin keilmuan, baik agama maupun sosial. Penulis menyelesaikan jenjang Pascasarjana baik Magister dan Doktoral di dalam negeri. Kebetulan diraih dengan predikat Cumlaude. Di samping itu, penulis pernah berkesempatan memperluas wawasan dan jejaring pengetahuan dengan mengikuti short course dan presentasi akademik di beberapa negara seperti di Singapura, Thailand, Philipina, Malaysia dan Amerika.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals