Model-model Seseorang dalam Berinteraksi dengan Al-Quran, Kamu yang Mana?

Di satu sisi tidak selamanya kita mencintai al-Quran tanpa membuktikan rasa cinta dan kepantasan al-Quran untuk dicintai.


Al-Quran pada prinsipnya merupakan sebuah objek kajian dikalangan pemikir atau peneliti, bahkan orientasinya bukan hanya dikalangan sarjana muslim melainkan dari dunia luar islam pun ada yang mengkajinya, mengapa? Karena memang al-Quran sendiri menyimpan beberapa pesan rahasia dan mengandung makna yang penuh dengan estetika bahkan ada yang memberi metafora bahwa al-Quran itu ibarat pengantin wanita, yang memiliki keindahan ketika tersingkap oleh seorang pengantin pria. Begitulah al-Quran dengan seluk beluknya yang penuh kemuliaan, salah satunya juga karena al-Quran merupakan Kalam Ilahi (kalam suci).

Di dalam buku Samudera al-Quran, Farid Esack membagi beberapa tingkatan para pembaca, pengagum maupun pengkaji al-Quran terkait bagaimana al-Quran diposisikan, atau bagaimana seorang berinteraksi dengan al-Quran; Yang pertama adalah tingkatan yang sudah lumrah kita temukan atau bisa jadi kita juga termasuk yakni muslim yang awam, pada perlakuannya terhadap al-Quran mereka hanya mencintai atau mengagumi al-Quran tetapi tidak memiliki sikap mengkritisi apa isinya dan sebagainya.

Dalam buku ini kalangan yang pertama ini, diibaratkan sebagai pecinta buta yakni seorang lelaki yang mencintai wanita tapi tidak melihat isi hati wanita tersebut, yang kedua adalah tingkatan pecinta yang terpelajar yakni ingin mengungkapkan kepada orang lain bahwa al-Quran adalah kalam ilahi yang mulia, yang ketiga adalah Pecinta yang kritis disamping ia mengagumi al-Quran disatu sisi tingkatan ini tentu akan menanyakan mengenai al-Quran itu sendiri bagaimana isinya, hakikat asal usulnya dan bahasanya. Hal inilah yang bisa kita lihat dikalangan ulama-ulama pemikir kontemporer yang mencoba memberikan nuansa baru dalam pengkajian al-Qur’an, semisal Nashr Hamd Abu Zaid, Fazlur Rahman dan lain sebagainya.

Berinteraksi dengan al-Quran tentu tidak selamanya menimbulkan keyakinan bagi para pembacanya atau pengagumnya bahwa al-Quran sejatinya hanya objek otoritas yang harus di Imani, hal inilah yang ditunjukkan bagi para pengamat dari luar (out sider) yang terkesan nyaris (baca:mirip) dengan tingkatan orang yang mengkritisinya (tingkatan sebelumnya). Dalam hal Farid Esack membagi kepada tiga jenis, yang pertama, pengamat yang meyakini bahwa al-Quran memiliki sebuah kemukjizatan (pecinta) di satu sisi mereka tidak meragukannya.

Kemudian yang kedua adalah tingkatan yang diibaratkan sebagai pengelana, kategori ini tidak merasakan tanggung jawab dan mengklaim hanya mencari fakta-fakta yang ada pada al-Quran saja, tetapi sayang sekali tidak ada peneliti yang benar-benar murni objektif dalam mengkaji al-Quran. Kategori yang terakhir, adalah pengamat yang mengkaji al-Quran lebih ditujukan untuk mengungkap sisi-sisi kelemahan al-Quran atau dikenal dengan Pecinta Polemik, pada tingkatan ini, mereka mengklaim bahwa al-Quran perlu dipertanyakan keontetikannya, inilah yang dimaksud dengan polemik, yaitu karena mereka sendidir tidak henti-hentinya menyebar dan menambah masalah baru bagi keilmuan dan kemurnian al-Quran yang tidak sesuai dengan keyakinan orang muslim umumnya.

Dengan begitu, jika kita refleksikan pada konteks dewasa ini, sebagai Mahasiswa yang bergelut dalam dunia Ilmu al-Quran dan tafsir, kita haruslah memiliki cinta kepada al-Quran di samping karena al-Quran sebagai kalam ilahi yang harus kita imani, tetapi di satu sisi tidak selamanya mencintai tanpa membuktikan rasa cinta kita dan kepantasan al-Quran untuk dicintai, dalam arti lain untuk membuktikannya kita harus mengkaji lebih mendalam lagi hakikat yang ada pada al-Quran itu pun menurut hemat penulis harus ada al-had (batasan), sebagai mana kita mencintai seorang wanita, kita membuktikan cinta kekasih kita dengan mengetahui alasan dia mengapa mencintai kita, tetapi jangan sampai kita menyinggung perasaan sang wanita tersebut dengan pertanyaan yang berlebihan, hingga berujung pada perpisahan. Hal inilah yang dikatakan sebagai Farid Essack sebagai seorang muslim yang kritis dan progresif.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
6
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Andy Rosyidin

Andy Rosyidin adalah alumnus MIN 5 Buleleng, MTsN Patas, MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo Program Keagamaan angkatan 21(el-fuady) dan saat ini tengah menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Penulis asal Penyabangan, Gerokgak, Buleleng, Bali ini adalah mahasiswa yang sering bergelut dengan dunia kepenulisan terutama Essay dan Paper. Saat ini menetap di Ponpes LSQ Ar-Rahmah Bantul Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui Email: [email protected] dan No Hp: 081238128430

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals