Syekh Nawawi al-Bantani dan Budaya Literasi

Apa yang bisa kita teladani dari ketekunan Syekh Nawawi dalam menggeluti dunia literasi, dapat diaplikasikan dengan giat menyuarakan nilai-nilai perdamaian


gambar: ala-nu.com

Kita ketahui bersama bahwa Al-Qur’an turun pertama kali dengan menyinggung sebuah perintah yang penuh makna, yakni memerintahkan umat islam untuk membaca tepatnya pada surah al-Alaq, yakni Iqra’! yang artinya, Bacalah!

Lantas, yang menjadi pertanyaan kemudian pernahkah kita berpikir lebih kritis lagi mengapa begitu tegasnya Al-Qur’an memerintahkan agar Nabi Muhammad dan umatnya secara khusus dengan perintah membaca? Saya menduga kuat bahwa hal tersebut mengindikasikan adanya hal yang menarik dan hal esoteris yang ingin disampaikan Allah Swt. kepada hamba-hamba Nya, dalam artian tentu ada maqhosid (tujuan-tujuan) dibaliknya.

Bagaimana dengan kondisi Negara kita saat ini? Negara kita Indonesia sebagaimana dilansir melalui data statistik UNESCO pada kurun waktu akhir-akhir ini menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Ini merupakan sebuah prestasi terburuk yang dimiliki sebuah Negara besar yang jumlah penduduknya berjuta-juta. Padahal di era digital dan era praktis seperti sekarang ini, bisa dikatakan sangat mendukung produktivitas seseorang dalam meningkatkan budaya literasi/ baca tulis.

Lantas bagaimanakah cara kita mengejar ketertinggalan itu dengan menggenapi persentase tersebut menjadi 100%? Atau bahkan bisa melebihi? sangatlah jelas bahwa kekurangan kita adalah karena kurangnya minat atau semangat literasi dan kalaupun itu ada, tentunya hanya dimiliki sebagian kecil saja.

Alhasil, berbagai cara dalam meningkatkan minat literasi telah digaungkan oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga formal dipelbaagai kesempatan tetapi tetap saja tidak membuahkan hasil yang signifikan, malah menjadi faktor negatif yang implikasinya adalah intensitas dan integritas minat literasi baik membaca maupun menulis menurun.

Oleh karena itu, untuk menjawab kegelisahan tersebut, dalam esai ini penulis ingin menawarkan bagaimana upaya praktis dan tentunya efektif bagi kita untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya budaya literasi di zaman yang serba ada saat ini, namun dengan menghadirkan dan meneladani salah satu ulama fenomenal yang terlahir di Negeri kita sendiri yakni Syekh Nawawi al-Bantani.

Biografi Syekh Nawawi al-Bantani

Penulis teringat dengan kata pepetah “Tak kenal maka tak sayang”, maka alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu tokoh yang kita bahas.

Syekh Nawawi al-Bantani, Beliau adalah Seorang ulama Nusantara yang sangat kharismatik, namanya sangat populer dikalangan santri maupun agamawan. Beliau lahir dan besar di desa kecil di Provinsi Banten tepatnya di desa Tanara, beliau merupakan sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah. Ia merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon.

Nasabnya melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad Saw. Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa.

Sejak kecil, Beliau memang dibesarkan dalam keluarga yang tergolong agamis, hal ini kemudian menjadi motivasi beliau untuk meneruskan perjuangan abahnya untuk tetap menyebarkan ajaran agama Islam. Terbukti pada usia yang masih tergolong muda beliau mendapatkan amanah dan dipercaya memimpin Pondok Pesantren yang telah dirintis ayahnya. Karena ilmu yang ia miliki dirasa sudah sangat matang.

Pada saat remaja beliau tumbuh menjadi pribadi yang sangat haus akan manisnya ilmu, hal ini dapat saya asumsikan mulai dari perjalanan pendidikannya yang begitu panjang, dan bagaimana beliau berjuang dalam mendakawahkan agama Islam.

Riwayat pendidikan Syekh Nawawi al-Bantani tidak hanya berafiliasi di dalam negeri baik dari abahnya langsung maupun guru-guru pondok pesantrennya, bahkan Syekh Nawawi muda merasa tidak cukup kalau hanya sebatas itu, oleh karena itu beliau memperdalam dan melanjutkan berkelana jauh untuk menuntut ilmu agama di Makkah, hingga pada akhirnya beliau dikenal dikalangan masyarakat luas, dengan julukan sebagai Sayyid Ulama Hijaz.

Peran para Masyayikh yang pernah beliau temui untuk bertatap muka dalam meraih keberkahan ilmu, merupakan salah satu faktor yang mendukung karir beliau hingga populer hingga masa kini.

Pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syekh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Bima, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayyid Ahmad Dimyati, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang keduanya berdomisili di Makkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Syekh Muhammad Khatib Al-Hambali. Kemudian pada tahun 1860 Beliau mulai mengajar di lingkungan Masjid Al-Haram.

Dalam beberapa literatur yang membahas megenai biografi beliau, dipaparkan bahwa Syekh Nawawi al-Bantani adalah penulis yang luar biasa, yang hingga saat ini kita bisa rasakan karya-karya beliau, inilah yang mengindikasikan betapa besarnya ghiroh (semangat) dan cinta beliau terhadap dunia keilmuan, dan ini merupakan suatu hal yang mulia dan patut kita teladani.

Bahkan dalam sebuah keterangan dari sebuah artikel, kurang lebih ratusan kitab besar sudah beliau karang, dan uniknya dibeberapa daerah di Nusantara bahkan menjadikannya sebagai kurikulum dalam pengajarannya.

Di samping itu, dalam masalah pemikiran, beliau tergolong pemikir yang visioner hal ini saya dapati dari sebuah keterangan yang menggambarkan bahwa beliau mengedepankan pengabdian keilmuan kepada masyarakat saat itu yang masih dibayang-bayangi atau masih trauma karena merasakan dampak kolonialisme. Inilah manusia yang mulia memiliki ilmu yang melangit tetapi jiwanya tetap membumi.

Dengan keistiqomahan beliau dalam memajukan kader-kader muda yang akan menjadi penerus dalam mendakwahkan ajaran Islam, beliau adalah seorang yang terbilang sukses dalam menyebarkan ilmu-ilmu beliau karena implikasinya saat ini beliau mampu melahirkan ulama-ulama yang terkenal pula, salah satunya adalah pendiri ormas Nahdhatul Ulama yakni Kyai Hasim Asy’ari. Begitulah bukti bahwa beliau memiliki karomah sebagai maha guru sejati (the great scholar).

Nilai Tokoh Yang perlu diteladani

Sebagai seorang yang menggeluti dunia akademisi penting bagi kita untuk meneladani dan mengambil ibrah dari sikap dan semangat yang ditunjukkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani tersebut. Penulis sangat mengagumi beliau yang penuh dengan keistemewaan-keistimewaan yang luar biasa. Salah satunya adalah ketekunan beliau menggeluti dunia literasi.

Mengapa ini penting? Karena jika kita refleksikan, kita lihat problem yang tengah melanda Negara kita saat ini, dipelbagai media sosial, baik yang resmi maupun abal-abal, banyak sekali celotehan ataupun ungkapan yang bersumber dari informasi-informasi yang tergolong sebagai ujaran kebohongan (HOAX) dan juga kebencian (SARA) lebih-lebih membawa nama agama. Ini mendorong citra buruk bagi kita khususnya umat Islam yang beberapa tahun ini selalu dikait-kaitkan sebagai dalang dalam isu-isu tertentu.

Apa yang bisa kita teladani dari ketekunan Syekh Nawawi dalam menggeluti dunia literasi, dengan konteks kita sebagai akademisi ini, dapat diaplikasikan dengan giat menyuarakan nilai-nilai perdamaian dengan menghasilkan karya-karya yang terkesan bermanfaat bagi para konsumen/pembaca informasi-informasi di media sosial, meskipun bentuknya hanya sebatas goresan pena disebuah media sosial, dengan begitu kita dapat memberi ruang yang luas dalam menyebarkan nilai-nilai kedamaian tersebut yang tujuannya sebagai dakwah bil kitabah ( berdakwah dengan tulisan).

Penulis mengharapkan pula agar tokoh Syekh Nawawi al-Bantani dalam esai ini, bukan hanya dipahami secara teori saja, dalam artian kita mengetahui siapa beliau dan bagaimana kehidupan beliau tetapi tidak kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Oleh karena itu, mulailah kita tanamkan kesadaran diri pribadi kita sendiri, untuk selalu giat dalam dunia literasi, agar Indonesia kedepannya menemukan jati diri yang pernah hilang, agar mampu bersaing (kompeten) dengan beberapa negara di dunia sebagai negara yang melek terhadap dunia literasi.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Andy Rosyidin

Andy Rosyidin adalah alumnus MIN 5 Buleleng, MTsN Patas, MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo Program Keagamaan angkatan 21(el-fuady) dan saat ini tengah menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Penulis asal Penyabangan, Gerokgak, Buleleng, Bali ini adalah mahasiswa yang sering bergelut dengan dunia kepenulisan terutama Essay dan Paper. Saat ini menetap di Ponpes LSQ Ar-Rahmah Bantul Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui Email: [email protected] dan No Hp: 081238128430

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals