Hantu Tolol dan Polisi Sontoloyo

Sepi karena sendiri itu sakit, Adam yang sudah enak di surga aja tetap minta Hawa. Mungkin karena Adam tahu, bahwa sendirian itu menyakitkan


Hantu Tolol dan Polisi Sontoloyo
Jatuh Cinta pada Hantu (ceritato.blogspot.com)

“BUKAN AKU YANG MEMBUNUH,” teriak Tejo di depan dua polisi. “Aku sudah lama tak bertemu dengannya. Jika ada yang pantas dicurigai, itu adalah ayahnya sendiri, Pak Kades”, jelas Tejo. Dua polisi yang melakukan penyelidikan, akhirnya terdiam.

Surti memang kekasih Tejo, tapi hubungan mereka hancur karena ulah Ayah Surti yang tak merestui. “Ya, besok kami akan ke rumahnya, kami akan memeriksanya”, ucap Polisi yang botak.

Baca juga: Air Mata Aruna

Hari masih terlalu pagi, namun dua polisi itu nampak sangat semangat. Pagi itu juga mereka pergi ke rumah Pak Kades untuk menyelidiki ulang kasus kematian Surti. Sesampainya di sana, mereka mengetuk pintu rumah Pak Kades. 

Pak Kades yang kebetulan ada di rumah, dengan segera membukakan pintu. Lalu mereka menjelaskan maksud kedatangannya, dan Pak Kadespun dengan senang hati mempersilahkan.

Seperti yang sudah direncanakan, mereka langsung membagi tugas. Di satu tempat, si Gondrong memeriksa ruangan di mana dulu mayat Surti ditemukan, sedangkan si Botak sibuk mencecar keterangan Pak Kades di ruang lain.

Pemeriksaan itu berjalan lama, hingga akhirnya si Gondrong masuk ke ruang di mana Pak Kades dimintai keterangan. “Aku menemukan jejak aneh”, ucap si Gondrong sambil membuka pintu. 

Si Botak dan Pak Kades yang sedari tadi ada di sana sedikit kebingungan, mereka berduapun menoleh ke arah si Gondrong.

Akhirnya mereka sepakat menelusuri tempat di mana si Gondrong menemukan jejak-jejak aneh tersebut. “Lihat itu!”, tunjuk si Gondrong. Si Botak yang baru melihatpun langsung meruntut satu persatu jejak itu. 

Hingga akhirnya ia terhenti di depan lemari, karena memang jejak itu hilang di sana. Si Botak langsung memeriksa bawah lemari dan menemukan secarik surat di sana. Ia mengambil dan membacanya bersama.

“TAK ADA ORANG YANG MEMBUNUHKU, AKU MATI DIRACUN RINDU, TERCEKIK SEPI, TERTUSUK KESUNYIAN”.

Baca juga: Jangan Siksa Aku dengan Rindu

“Demi Tuhan, kaulah mayat terkonyol di dunia”, ucap si Botak setelah membaca surat itu.

“Juga di akhirat”, tambah Pak Kades sedikit miris.

Sepi karena sendiri itu sakit, Adam yang sudah enak di surga aja tetap minta Hawa. Mungkin karena Adam tahu, bahwa sendirian itu menyakitkan, mbatin si Gondrong dalam hati. “Aku tak pernah mengurus kasus pembunuhan sekonyol ini”, gumam si Botak.

“Jika ia mati karena rindu, apa aku harus memenjarakan jarak dan waktu?, jika ia mati karena sepi apa aku harus memenjarakan sunyi?, hmmm… mustahil. Sudah jelas, pelakunya adalah cinta”, ucap Pak Kades yang justru terdengar miris, sangat garing tidak puitis.

Baca juga: Mungkin yang Terlihat Dariku Hanya Topeng

Keheningan melanda mereka, sebelum akhirnya si Botak berkata, “Anda ditangkap Pak.” Pak kades yang sedikit kaget spontan bertanya, “Apa alasannya?”. 

“Maaf, mungkin dalam Undang-Undang Negara kita tak ada alasan untuk menangkap Bapak, namun di mata hukum Undang-Undang Cinta, Anda tetap bersalah. Memisahkan sepasang kekasih, adalah dosa terbesar Anda. Dalam cinta, Anda adalah pelaku pembunuhan ini”.

Pak Kades menolak alasan konyol itu. Pemberontakanpun terjadi, namun itu tak lama, karena akhirnya ia menyerah dan berkata; “Atas nama cinta, mati adalah penebusan terbaik”. 

Sedetik setelah itu,“DUARRRR”, ia menembak kepalanya sendiri dengan pistol yang diam-diam berhasil diambil dari pinggang si Gondrong. Seketika itu ia tergeletak, mati di tempat.

“Lebih dari anakmu, Andalah mayat terkonyol Pak”, ucap si Botak.

“Semoga malaikat tak memaki dirimu dan anakmu”, sambung si Gondrong.

Di lain tempat, si Tejo nampak murung. Sejak kepergian Surti kekasihnya itu, ia sering mengurung diri dan melamun. Dalam lamunan itu, terngiang cerita Kakeknya dulu tentang Adam dan Hawa yang diturunkan ke bumi dan terpisah hingga bertahun-tahun.

Hmmm… mungkin ujian pertama kali manusia di muka bumi adalah rindu, pikirnya. Si Tejo memang sedang sangat merindukan Surti. Sampai akhirnya ia menemukan ide gila, “ Ya aku harus pergi ke dukun”, gerutu Tejo dalam hati.

Baca juga: Rindu Tak Terjamah

Hari Kamis malam atau biasa di sebut malam Jum’at. Tepat pukul 12 malam, Tejo ditemani motor buntutnya pergi ke rumah Ki Waras, seorang dukun paling terkenal di kampungnya.

Cukup berbekal gumpalan tekad dan bulatan niat ingin bisa berbicara dengan arwah kekasihnya,Tejo memberanikan diri bertandang ke kediaman Ki Waras.

“Silahkan duduk”, ucap Ki Waras mempersilahkan. “Ada perlu apa kau datang kemari?”, tanyanya. “Aku ingin berbicara dengan arwah kekasihku, ia mati tiga minggu yang lalu”, jawab Tejo dengan suara parau.

Setelah mengetahui maksud Tejo, Ki Waras langsung mengeluarkan sebuah boneka. Sepertinya ia akan mengandalkan permainan jailangkung. 

Mulut Ki Waras mulai komat kamit. “Tarian yang buruk”, gumam Tejo dalam hati setelah melihat tangan Ki Waras yang bergerak-gerak sangat aneh. 

Tiba-tiba terdengar suara tangisan pilu wanita yang bersumber dari boneka. Ya, itu suara arwah Surti.

“Kenapa kau menangis”, tanya Tejo.

“Aku tersiksa, di sana aku merindukanmu. Kupikir dengan mati,bisa terbebas dari penderitaan saat hidup. Ternyata tidak, rindu dan cinta justru ikut terkubur bersama jasadku”.

“Hantu tolol, bahkan sudah matipun kau masih bicara soal cinta”, maki Ki Waras dalam hati.

“Jika memang masih mencintaiku, lalu kenapa kau bunuh diri? kenapa kau meninggalkanku?” tanya si Tejo.

“Kukira, jika aku bunuh diri maka kau akan ikut bunuh diri. Kita mati dan bahagia bersama di sana, tanpa ada yang bisa mengusik lagi. Mungkin cinta kita akan seindah kisah Romeo dan Juliet”, sergah arwah Surti kemudian menangis lagi. 

“Ternyata tololmu sejak janin masih melekat sampai kau menjadi arwah”, umpat Tejo. “Namun jika itu maumu”, ia menghirup nafas dalam-dalam. “Atas nama cinta, akan kuturuti itu”, lanjutnya.

Baca juga: Dunia Pemisah Cinta

Si Tejo langsung mengambil belati yang ada di saku celana dan menusukkannya tepat ke arah jantung berdetak. Ia kejang-kejang, tak lama mati. 

Ki Waras yang menyaksikan kejadian tak waras itupun geleng-geleng. “Apakah ini yang disebut cinta sehidup semati? entahlah, paling tidak malaikat akan menertawakan kalian”, pikirnya.

Berita tentang kejadian itu tersebar ke mana-mana, hingga hinggap di telinga dua polisi sontoloyo, ya si Botak dan si Gondrong. Mereka yang mendengar kejadian itu pun tak kaget. “Malaikatpun akan sibuk memecut mereka dengan dalih atas nama cinta”, kata si Botak.

“Akan kubuatkan lagu spesial teruntuk mayat-mayat konyol itu, agar mereka berdansa di neraka, hahaha…”, tambah si Gondrong selang menyeruput kopinya.

“Jika itu terjadi, iblis akan menangis melihatnya”, ucap si Botak sedikit miris.

“Namun mereka akan berkata ke iblisss, “irii bilang bosss”,hahaha…”,sahut si Gondrong sambil terbahak-bahak.

Bu Endang penjaga warung yang sedari tadi mendengar pembicaraan merekapun bergumam dalam hati, “Dasar Polisi sontoloyo”. [RR]

_ _ _ _ _ _ _ _ _
 Bagaimana pendapat Anda tentang cerpen di atas? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga membaca kumpulan cerpen menarik lainnya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
2
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals