Hantu Gentayangan dalam Perspektif Hadis

Cerita hantu gentayangan sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, namun apakah hantu gentayangan tersebut adalah arwah yang semasa hidupnya tidak tenang?


Tulisan ini berawal dari keprihatinan saya selaku masyarakat yang pernah merasa ketakutan dengan istilah-istilah hantu gentayangan. Mulai dari acara-acara TV lawas seperti “Masih Dunia Lain, Dua Dunia, dan Karma”, yang ratingnya cukup tinggi. Begitu pula trending youtube saat ini yang disesaki dengan konten pencarian ‘makhluk astral di tempat-tempat angker’.

Di kalangan masyarakat kita, tidak asing lagi nama-nama hantu semisal, pocong, kuntilanak, genderuwo, tuyul, kuyang leak, sundel bolong, hantu kolonial Belanda, hantu kolonial Jepang, dan lain sebagainya.

Masyarakat meyakini bahwa hantu-hantu tersebut adalah arwah yang semasa hidupnya selalu mengalami kehidupan pahit sehingga arwahnya merasa tidak tenang, kemudian bergentayangan.

Semisal pocong yang lupa dilepas tali ikatan di kepala ketika hendak dikubur, kuntilanak yang dipercaya mati dalam kondisi ketika sedang melahirkan, dan tuyul adalah anak yang mati dalam kondisi janin. Cerita ini sudah menyebar hampir di seluruh kalangan masyarakat Nusantara.

Loading...

Penulis tidak mengingkari nama-nama hantu semisal pocong, kuntilanak, tuyul dan sejenisnya. Hanya saja yang jadi masalah adalah pemahaman masyarakat terhadap arwah tersebut. Umumnya,  masyarakat menyakini bahwa hantu yang gentayangan adalah benar-benar arwah si mayit. Padahal pemahaman Islam tidaklah demikian.

Dari sini penulis hendak meluruskan bahwa hantu yang gentayangan tersebut bukanlah benar-benar arwah si mayit, akan tetapi jin yang menyerupai si mayit, karena jin mempunyai kemampuan untuk menyerupai makhluk lain semisal, manusia dan hewan. Maka wujudnya bisa badan manusia berkepala hewan atau sebaliknya, badan hewan berkepala manusia.

Berdasarkan hadis Nabi saw:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ

Dari Jabir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya.”

Banyak akidah atau keyakinan yang tersebar di masyarakat kita, yang bersumber dari mitos dan takhayul. Sama sekali tidak didukung dengan dalil, baik al-Quran, hadis, maupun keterangan sahabat.

Diantara sifat jin syaitan adalah menipu:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman”.  (QS. al-A’raf: 27)

Dalam hadis juga disebutkan kisah bahwa sahabat nabi yakni, Ayyub al-Ansari pernah ditipu oleh Jin:

لَيْلَى عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ كَانَتْ لَهُ سَهْوَةٌ فِيهَا تَمْرٌ فَكَانَتْ تَجِيءُ الْغُولُ فَتَأْخُذُ مِنْهُ قَالَ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَاذْهَبْ فَإِذَا رَأَيْتَهَا فَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَجِيبِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَخَذَهَا فَحَلَفَتْ أَنْ لَا تَعُودَ فَأَرْسَلَهَا فَجَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ قَالَ حَلَفَتْ أَنْ لَا تَعُودَ فَقَالَ كَذَبَتْ وَهِيَ مُعَاوِدَةٌ لِلْكَذِبِ قَالَ فَأَخَذَهَا مَرَّةً أُخْرَى فَحَلَفَتْ أَنْ لَا تَعُودَ فَأَرْسَلَهَا فَجَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ قَالَ حَلَفَتْ أَنْ لَا تَعُودَ فَقَالَ كَذَبَتْ وَهِيَ مُعَاوِدَةٌ لِلْكَذِبِ فَأَخَذَهَا فَقَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِكِ حَتَّى أَذْهَبَ بِكِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي ذَاكِرَةٌ لَكَ شَيْئًا آيَةَ الْكُرْسِيِّ اقْرَأْهَا فِي بَيْتِكَ فَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ وَلَا غَيْرُهُ قَالَ فَجَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ قَالَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا قَالَتْ قَالَ صَدَقَتْ وَهِيَ كَذُوبٌ

Dari Abu Ayyub al-Anshari ia memiliki rak berisi kurma, ada hantu datang dan mengambilnya, lalu ia mengadukan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Pergilah, bila kau melihatnya, ucapkanlah BISMILLAAH, turutilah Rasulullah.” Lalu Abu Ayyub al-Anshari menangkapnya, hantu itu bersumpah tidak akan kembali. Akhirnya Abu Ayyub melepasnya lalu ia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bertanya: “Apa yang dilakukan tawananmu?” Abu Ayyub menjawab: “Ia bersumpah tidak akan kembali.” Beliau bersabda: “Ia dusta, memang ia terbiasa berdusta.” Abdurrahman berkata, Abu Ayyub lalu menangkap yang kedua kalinya, hantu itu pun bersumpah untuk tidak kembali lagi, lantas Abu Ayyub melepasnya. Setelah itu Abu Ayyub datang menemui Rasulullah, beliau bersabda: “Apa yang dilakukan tawananmu?” Abu Ayyub menjawab; “Dia bersumpah untuk tidak kembali.” Beliau bersabda: “Dia dusta, memang ia terbiasa berdusta.” Setelah itu Abu Ayyub menangkapnya lagi, lalu berkata, “Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku membawamu ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Hantu itu berkata, “Aku ingatkan padamu tentang sesuatu, yaitu ayat kursi, bacalah ayat kursi di rumahmu, niscaya setan tidak akan mendekatimu dan tidak juga yang lainnya.” Abu Ayyub pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bertanya: “Apa yang dilakukan tawananmu?” Abdurrahman berkata,  lalu Abu Ayyub memberitahukan apa yang diucapkan hantu itu, maka beliau bersabda: “Ia benar walaupun sebenarnya ia pendusta.”

Maka dalam hal ini, apabila seseorang meninggal (mati, berpisah jasad dari ruhnya), maka ia tidak akan kembali ke alam dunia. Pada hari kiamat nanti, orang-orang musyrik akan memohon kepada Allah agar dikembalikan lagi ke dunia untuk beramal saleh, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan oleh Allah.

Ada beberapa pendapat tentang keberadaan ruh setelah meninggal hingga hari kiamat. Dari sekian banyak pendapat yang ada, tidak satu pun yang menerangkan bahwa ada ruh yang gentayangan, seperti yang diyakini saat ini oleh kalangan masyarakat bahwa arwah seseorang bisa gentayangan, padahal tidaklah demikian dan itu semua hanyalah tipu daya jin yang menyesatkan.

Ruh orang-orang beriman berada di alam barzakh yang luas, yang di dalamnya ada ketenteraman dan rezeki serta kenikmatan, sedangkan ruh orang-orang musyrik berada di barzakh yang sempit, yang di dalamnya hanya ada kesusahan dan siksa.

Loading...

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
5
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
3
Terkejut
Hadi Wiryawan

Hadi Wiryawan, Lahir di Sambas, Kalimantan Barat 23 November 1999. Saat ini menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Prodi Ilmu Hadis Orcid ID : https://orcid.org/0000-0002-7620-6246

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals