Khauf: Bagaimana Rasa Takut Diindustrilisasi?

Takut gemuk, takut keriput, takut terlihat tidak cantik, berapa banyak kosmetik, aplikasi dan perawatan yang diciptakan hanya untuk itu semua?


Gambar: Rappler

Diantara ujian (balâ) yang disiapkan untuk manusia dan pasti terjadi adalah khauf (rasa takut), “Wa lanabluwannakum bi syain minal khaufi…”. Siapapun dan dimanapun seseorang pasti akan diuji dengan khauf. Namun agaknya tidak semua yang ditakuti itu mesti ada, boleh jadi ada boleh jadi tidak, intinya manusia itu bisa merasa takut dengan sendirinya tanpa ada objek yang ditakuti.

Seperti orang yang takut dengan kuntilanak, apakah itu benar-benar ada? Yang jelas belum ada yang bisa membuktikannya secara ilmiah dan gamblang, semuanya tentang kuntilanak itu abstrak. Meski begitu kita –khususnya umat Muslim, beriman bahwa jin itu ada.

Baca juga: Hantu Gentayangan dalam Perspektif Hadis

Seiring waktu, setan-setan lokal semakin banyak, dari hanya kuntilanak, genduruwo, tuyul, adalagi Si Manis jemabatan Ancol, Jelangkung hingga Suster Ngesot, bahkan ada sumber mengatakan ada empat puluh nama hantu di Indonesia, belum lagi ditambah yang internasional.

Pertanyaannya, dari mana nama-nama itu ada? Ya, manusia yang menciptakannya, lalu takut kepadanya. Tetapi, apakah yang telah dinamai itu benar-benar ada? Siapa yang mau membuktikan? Atau hanya katanya dan katanya.

Baca juga: Kertas Azimat Penanda Mitologis Paling Laris

Baik, anggaplah kuntilanak itu ada. Tapi, apakah sifatnya seperti yang dibayangkan dan ditakuti selama ini? Menghantui ibu-ibu hamil, takut dengan gunting dan sebagainya, benarkah itu? Atau itu semua hanya ciptaan khayalan manusia yang ditakuti. Dengan kata lain, manusia menakuti khayalannya sendiri, atau menciptakan sesuatu dalam ilusinya untuk ditakuti. Atau, manusia menciptakan itu untuk menakuti manusia lain? Tapi untuk apa menakuti orang lain?

Agaknya kita bisa mengatakan bahwa dalam ketakutan itu ada keuntungan bagi pihak tertentu. Takut hantu misalnya justru membuat film horor semakin banyak diminati, takut tidak lulus membuat tempat-tempat bimbingan belajar hingga ruang guru muncul, takut masuk angin ada Tolak Angin. Begitu juga dengan takut gemuk, takut keriput, takut terlihat tidak cantik, berapa banyak kosmetik, aplikasi dan perawatan yang diciptakan hanya untuk itu semua? Inilah kemudian yang merubah takut itu dari ujian (balâ) menjadi industri, ya, berharap bahkan mempertahankan khauf itu ada dan berkelanjutan agar bisnisnya laku.

Baca juga: Cantik itu Ada Standarnya?

Dalam perspektif Psikologi, kemampuan menciptakan ketakutan ini dibutuhkan dalam beberapa momen, seperti dalam perang, bukankah Rasulullah SAW membolehkan pasukannya untuk menghitamkan rambut guna menipu mata musuh agar terlihat muda? Begitupun dalam politik, bukankah para politisi satu sama lain saling menebarkan rasa takut kepada rakyat jika bukan kelompoknya yang menang? Lalu, setelah selesai pemilu apakah ketakutan-ketakutan itu muncul? Mungkin muncul, tapi berapa persentasenya dari ketakutan yang disebarkan saat kampanye yang benar-benar ada?

Pada akhirnya yang penting untuk kita adalah kemampuan untuk membedakan: Mana ketakutan yang wajar dan nyata dan mana ketakutan yang ilutif-khayali?

Baca juga: Cara Merawat Pikiran Positif Untuk Tetap Bahagia (Psikologi)

Takutnya Musa kepada Firaun itu wajar karena Firaun nyata, punya pasukan dan kekuatan. Tetapi, takutnya Musa kepada ular penyihir itu ilutif, karena Musa dibuat berkhayal oleh para penyihir seakan-akan ular itu hidup padahal tidak. Saat ini (31/03/20) kita –masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia sedang didera ketakutan yang luar biasa, apakah ini nyata? Biar Tuhan yang memberitahu kita.[]

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Dr. Mukhrij Sidqy, MA.
Dr. Mukhrij Sidqy, MA. adalah doktor di bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen di STIQ Baitul Qur'an, Kelapa Dua, Depok. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Da'i Muda Indonesia Depok, Wakil Pengasuh PP. Al-Wutsqo Depok, dan Pembina Tahfidz LPTQ Al-Muhajirin BPI Depok.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals