Tubuh yang Mengancam: Apakah Dia Juga Lelaki?

Ini soal konspirasi malaikat dan setan pada tubuh perempuan. Malaikat dan setan mulai kabur dalam pandangannya.


sumber gambar: tong-dishare

Riuh tawa tanpa nampak bibir memancing penasaran angin untuk menyibakkan kain para perempuan sore itu. Di bawah pohon rindang tawa mereka dibelah oleh petang yang mengisyaratkan mereka untuk kembali ke rumah. Petaka bagi mereka jika sampai azan maghrib masih tampak di luar rumah.

Anna, seorang gadis yang ceria walaupun hanya bisa dilihat dari sorotan mata di antara celah kain yang mengancam matanya. Kehidupan sehari-harinya berada di lingkungan yang sangat agamis. Aktivitas kesehariannya adalah sekolah, mendengarkan ceramah, berkumpul dengan teman yang tentunya sesama perempuan, itu pun sangat sebentar, sisanya terkurung di rumah. Perumahan Darul Aman namanya, dengan Islam  konservatif yang mengatur etika dan moral masyarakatnya. Ya, konservatif, bisa dilihat dari cara pakaian dan materi pengajian yang disampaikan setiap hari. Karakter Anna dibentuk oleh lingkungannya, bukan atas kemauannya sendiri, meskipun ia mengamininya sebagai kebenaran.

Pada suatu hari, Anna diminta oleh orang tua dan teman-temannya untuk mengikuti pengajian lebih giat lagi. Sebenarnya Anna orang yang skeptis pada setiap apa yang ia lihat dan yang masuk ke kepalanya. Terlebih lagi ia akan melanjutkan studinya di universitas negeri yang jauh dari rumahnya.

“An, jangan tanggalkan cadarmu, itu merupakan cara kamu membantu para laki-laki di luar sana nanti untuk tidak berbuat zina mata dan melindungimu dari dosa sebab memancing nafsu laki-laki. Kamu harus terus mempertahankan pelindungmu itu.” Nasihat Zulaihah sore itu di bawah pohon beringin.

“Betul apa kata Zul, kamu harus mempertahankan pakaianmu, An. Kalau kita-kita sudah pasti aman, karena kita akan tetap di sini tidak akan pergi keluar. Lagian ilmu agama adalah yang tertinggi, ngapain juga harus belajar ilmu-ilmu lain apa lagi barat-barat itu.” Ucap Maulida menambahi nasihat Zulaihah.

“Iya, Zul, Lid.” Ucap Anna dengan senyum tersembunyinya. “Aku pasti jaga diri dan pakaian ini akan menjadi pelindung utama bagi tubuhku. Soal kenapa aku melanjutkan ke jenjang perkuliahan, ya untuk menambah wawasan pengetahuanku, itu kan juga dapat pahala.” Lanjut Anna dengan jawaban yang diplomatis dan agak skeptis.

Anna diterima di Universitas Negeri Tahtalanang yang jauh dari rumahnya sehingga mengharuskannya indekos untuk menghemat biaya dan waktu juga kesehatan tubuh. Orang tua dan teman-temannya sangat mewanti-wanti Anna, bahkan sering, bukan soal pakaian lagi, tapi mengarah pada bujukan untuk mengurungkan niatnya menuju pendidikan perkuliahan. Anna selalu menjawab dengan tenang dan pastinya sudah mengetahui celah pikiran orang-orang yang membujuknya. Lagi pula itu sudah menjadi sarapan dan makan malam baginya, terlalu sering.

Sejak bujukan untuk melupakan pendidikan, sejak itu pula berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran Anna. “Kenapa mereka membujukku seperti itu? Apa yang mereka takutkan dengan pendidikan berjenjang? Mengapa tidak memberiku motivasi, malah mengebiri niatku?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut bergejolak dalam pikiran Anna. Tidak membuatnya mundur, melainkan memotivasi dirinya untuk mencari jawaban atas bujukan tak berdasar orang-orang di sekelilingnya.

***

Ayam jago memberi aba-aba pada matahari bahwa sudah waktunya menggantikan bulan. Waktu itu juga menjadi tanda bagi Anna untuk menuju tempat persinggahan selanjutnya. Barang-barang sudah disiapkan sejak semalam. Sedang orang tuanya sibuk menyiapkan bekal. Orang tuanya tidak mengantarkannya menuju Universitas Negeri Tahtalanang, selain tempatnya yang cukup jauh, orang tua Anna juga sebagai PNS yang harus bekerja tepat waktu.

Berbekal doa orang tua dan beberapa pengganjal perut dalam perjalanan, Anna perlahan melangkah menjauh dari rumah. Tak lupa bersalam dengan orang tua, Anna perlahan hilang dari pandangan orang tuanya. Juga harap cemas orang tuanya mengiringi perjalanan Anna.

Menaiki bus kota, Anna semakin luput dari pandangan kampungnya. Perjalanan 300 km akan terasa lama karena kesendiriannya. Pikirannya tidak dihiasi oleh kecemasan pada jauhnya perjalanan, meskipun memang itu adalah perjalanan pertamanya menggunakan angkutan umum. Lain, pikirannya dipenuhi gejolak soal “pendidikan” dan “pakaian” yang selalu mendesak mencari jawaban.

Perlahan matanya meredup karena gejolak dalam pikirannya tak mampu mengalahkan rasa kantuk. Anna menikmati tidurnya, bukan perjalanannya, terlelap dan bermimpi dalam bungkus perjalanan.

“Jambur, Jambur, Jambur…!”

Teriakan itu membangunkan Anna yang termakan kantuknya. Ya, yang disebut itu adalah terminal tujuan Anna. Ia bergegas menggendong barang-barangnya, mengusap muka dengan tisu, kemudian bersegera turun. Matanya langsung mengarah ke angkutan kota (angkot) yang bertuliskan Rawa Kelok, sebuah nama dusun di mana kosnya berada.

Anna berlari kecil menuju angkot sembari melirik ke sekitarnya, orang-orang seperti memberi pandangan mata penuh intimidasi terhadapnya. Ia menyadari asal pandangan orang-orang, yaitu pakaiannya. Sontak pikirannya menggapai pesan temannya, Zulaiha dan Maulida, soal cadar sebagai pelindung tubuhnya. Benar, orang tak bisa melihat bentuk tubuhnya, namun ia merasa cadar tak mampu melindungi pandangan penuh intimidasi terhadapnya. Anna mencoba abai, fokus menuju angkot lalu,

“Pak, ke Rawa Kelok ya.” Ucap Anna mengingatkan sopir angkot.

“Iya, mbak.” Tegas sopir angkot kepada Anna disertai dengan pandangan penuh selidik. Anna tak menghiraukan, fokus pada tempat tujuan dan melawan kantuk, karena jaraknya yang hanya 4 km.

Ban belakang angkot terhenti oleh injakan sopir terhadap pedal rem.

“Sampai Rawa Kelok, mbak.” Teriak sopir mengingatkan Anna.

“Iya, pak.” Jawaban basa-basi Anna sambil menyodorkan ongkos jalan.

“Ini kembaliannya, mbak.” Timpa Pak sopir berbalik menyodorkan uang.

“Tidak usah pak, simpan saja.” Balas Anna dengan halus diiringi senyum tersembunyinya.

“Terimakasih ya, mbak.” Tanggapan pak sopir atas kedermawanan Anna diiringi dengan balasan senyuman.

Anna mengambil langkah yang menjauhkannya dari angkot. Sedang Pak sopir melempar lirikannya pada Anna sembari senyuman yang menandakan penyelidikannya telah selesai, Pak sopir lega penuh doa, kemudian tancap pedal gas.

Jarak kos dengan tempat turunnya dari angkot tidak begitu jauh, hanya 80 meter. Anna begitu nampak hafal dengan jalan dari rumah menuju kos. Ya, memang begitu nampaknya, karena Anna telah menghubungi pemilik kos dan meminta petunjuk arah, sebagaimana generasi milenial, ibu kos mengirim lokasi via WhatsApp (WA). Kakinya berhenti tepat di depan pintu rumah dua lantai nomor 21 sesuai alamat yang diberikan.

“Assalamu’alaikum.” Lirih salam formalitas Anna, karena memang ada bel yang bisa dipencet, memanggil tuan rumah.

“Wa’alaikumsalam.” Balas ibu kos sambil menekan tuas pintu yang mendengar salam Anna.

“Saya Anna, bu, penghuni baru yang menghubungi ibu satu bulan yang lalu.” Serobot Anna mendesak ibu kos untuk segera mengingat.

“Oooh, Anna, iya ibu ingat. Silakan masuk.” Dengan segera ibu kos menjawab, sebagai bukti ia tidak lupa disertai pandangan penuh pertanyaan.

Mereka berdua duduk di ruang tamu membicarakan administrasi dan sedikit basa-basi. Anna mendapat kamar di lantai dua, dia dipersilakan untuk memasuki kamarnya setelah menyelesaikan administrasi. Kakinya agak gemetar menaiki tangga dengan satu tas ransel dan satu koper digeretnya.

Matanya melihat ke selatan, terlihat dengan jelas dari lantai dua atap gedung fakultas bertuliskan “Universitas Negeri Tahtalanang.” Jaraknya sekitar 50 meter dari kosnya, dekat, itu alasan Anna tak memerlukan kendaraan, lagi pula ia juga belum pernah berkendara sendiri, kecuali sepeda. Kemudian ia memasuki kamarnya, kemudian melepas lelah, memejamkan mata. Anna terlelap seketika.

***

Hari yang dinantikan telah tiba. Hiruk pikuk suara langkah mahasiswa baru memberi tanda semangat pendidikan. Anna sangat bersemangat memulai hari pertamanya. Bergegas ke kampus untuk menjalani perkuliahan pertamanya setelah melewati masa orientasi mahasiswa baru.

Ada yang aneh bagi Anna, ia teringat kembali waktu sampai di terminal Jambur. Kali ini di kampusnya, pandangan orang-orang terhadapnya tak ada bedanya dengan orang-orang di terminal waktu itu. Ia juga menyadari, bahwa pakaiannya paling beda sendiri dibandingkan mahasiswi lainnya.

Pikirannya kembali lebih jauh lagi, tentang nasehat kedua temannya, tentang pakaian yang melindungi tubuhnya dari dosa. Pikirannya kembali bergejolak, memang benar tidak menutupi tubuh, tapi pandangan penuh intimidasi datang dari berbagai makhluk, dari kedua jenis kelamin, dari semua penyandang status sosial. Sopir, ibu kos, mahasiswa-mahasiswi, bahkan dosen memiliki pandangan yang sama terhadap Anna. Keadaan itu bukan hanya merugikannya, tapi juga membuatnya kesulitan mendapatkan teman dan berkomunikasi.

Jangan panggil Anna jika dia tak mampu melewati hari-harinya dengan tegar. Ia melalui hari-harinya dengan penuh kehati-hatian, penuh abai. Namun Anna juga sebagaimana orang lainnya, perempuan lainnya, yang bisa merasakan suatu tekanan dan tertekan karena prilaku orang di sekitarnya.

Pada suatu ketika, Anna mendengar celetukan yang tidak mengenakkan dari orang yang berpapasan dengannya. “Dia punya misi apa ya? Kok seluruh badannya ditutup, seperti ada yang disembunyikan dan penuh rencana tersembunyi.” Celetukan tersebut merangsak masuk ke telinga Anna. Membuat suasana semakin tidak nyaman, di mana-mana penuh ancaman, orang-orang merasa terancam, Anna merasa lebih terancam.

Anna mulai berpikir, “Apa mungkin pakaianku menjadikan ancaman bagi mereka?” Dalam hatinya terlintas untuk melepaskan cadar, ia mulai meragukan nasehat kedua temannya dulu. Dia mulai memikirkan bahwa dirinya menjadi ancaman bagi orang lain dan sekaligus prasangka itu menjadi ancaman bagi dirinya sendiri. Terlentang di kamar, pikirannya mulai mengawang-awang liar.

“Mungkinkah aku putuskan melepas cadar?” Pikirannya mengusulkan.

“Mungkin juga itu adalah jalan terbaik bagiku dan orang-orang sekitarku, kami sama-sama aman.” Ungkap hatinya mengafirmasi pikirannya.

***

Bulan keempat, terhitung sejak Anna pertama kali masuk di Universitas Negeri Tahtalanang. Setelah tersendirikan selama empat bulan, Anna mulai mendekati orang-orang untuk benar-benar mau berteman. Anna cukup yakin bahwa ia bakal diterima dengan mudah. Dan benar saja, beberapa orang seperti melihat mahasiswi baru di waktu yang bukan penerimaan mahasiswa baru. Beberapa orang respek, terutama perempuan, karena memang Anna sangat jarang berteman dengan laki-laki sejak kecil.

“Hai, mahasiswa baru, ya?” Tanya teman sekelasnya.

“Bukan, aku Anna.” Jawab Anna dengan senyumnya yang kini tak terhalang oleh apa pun.

“Oooh, Anna, iya-iya maaf aku sangat pangling, kamu beda dengan yang dulu, sekarang berkerudung gak bercadar lagi. Perkenalkan aku Nila.” Respon temannya nampak kaget plus heran dengan tampilan baru Anna, sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman.

“Halo, Nil. Senang berkenalan. Iya aku pengen yang simpel aja.” Timpal Anna dengan penuh umpatan taktertinggal senyumnya yang nampak.

Perasaan sadar akan diskriminasi muncul dalam batinnya, “Kenapa uluran tangan ini baru muncul setelah empat bulan masa kuliahku?” Namun Anna tetap dalam koridornya, menanggapi dengan tenang. Mereka mulai bercengkrama dan semakin hari teman Anna semakin bertambah, bukan hanya perempuan, tapi juga laki-laki.

Pengalaman Anna juga semakin bertambah, dari warung kopi hingga coffee shop sudah disinggahi, berbagai obrolan sudah dijajaki. Namun sifat Anna masih sama, tenang, murah senyum dan penuh skeptis.

Sesekali mereka berbincang mengenai latar belakang Anna. Nila, dia cukup aktif dalam bersosial, aktif bertanya dan aktif berpendapat, walaupun asal-asalan. Pada kesempatan obrolan, Nila sempat berpendapat mengenai kehidupan Anna sebelum ke perantauan pendidikan.

Nila menganggap kehidupan Anna di rumah merupakan aktivitas yang membosankan, menghalangi perempuan mengakses dunia luar. Soal cadar, Nila menganggap itu simbol dari radikalisme, orang yang suka melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Nila mendapat dukungan dari teman-temannya soal argumennya bak memenangkan kompetisi. Pernyataan itu memicu Anna untuk mengerutkan dahi, namun tak sampai marah.

Soal cadar, dalam hatinya meragukan pendapat Nila, namun di sisi lain pikirannya mengafirmasi Nila yang dikuatkan oleh berita di media sosial dan mainstream. Tetap saja, Anna berusaha meragukan pendapat Nila maupun media, toh juga prilaku Anna dan teman-temannya tidak pernah mewakili kekasaran atau kerusakan.

Hanya saja Anna menyadari ada beberapa isi ceramah yang merendahkan perempuan. Tapi tidak bisa di-judge perempuan bercadar sebagai tanda Islam radikal, dalam hatinya berontak dibantu oleh pikiran, “Beban perempuan bercadar benar-benar berat, direndahkan di kalangannya, distereotip sebagai simbol radikal. Bagaimana dengan laki-laki?” Batinnya.

Pikiran dan hatinya sesak, ia mengira akan mendapatkan teman yang saling mendukung sesama perempuan, ternyata tidak sepenuhnya. Pengecualian-pengecualian saling mendukung dalam pertemanan masih diberlakukan. Kecewa, tapi berusaha menerima.

Matahari mulai mengintip di sela-sela pepohonan dari barat, burung dihangatkan olehnya.

Jam kuliah telah usai, langkah kaki yang biasanya cepat kini mendadak harus terhenti oleh suara yang memanggil namanya.

“Anna!!!” Teriak seorang dengan suara yang identik dengan laki-laki.

“Iya.” Sahut Anna, seketika mata dan telinganya mengarah pada sumber suara.

“Assalamualaikum, mbak Anna, saya Usman.” Dengan salam dan memperkenalkan diri agak tergesa-gesa.

“Waalaikumsalam, iya ada apa, mas Usman?” Tanya Anna penuh kebingungan sambil mengelilingkan matanya pada penampilan Usman.

Setelah perkenalan singkat tersebut, di kursi taman kampus Usman mengajak Anna untuk mengobrol sebentar. Sebenarnya sangat jarang Anna menerima tamu dadakan apalagi laki-laki untuk ngobrol tanpa ada teman atau mahramnya. Wajar saja, ajaran-ajaran yang ada di desanya masih melekat di pegangannya, terlebih pesan orang tuanya.

Anna tampak kaget dengan pernyataan Usman, ternyata dia memperhatikan Anna sudah lama. Mulai dari pertama kali memasuki gerbang kampus sampai hari ini, ya, dengan penampilan Anna yang berubah meskipun tidak total.

Obrolan itu berlangsung sangat serius, paling tidak Usman yang membawa suasana menjadi serius dengan tiba-tiba, angin pun terbelah seketika oleh keseriusan mereka. Anna seperti tak nyaman dengan obrolan itu, nampak dari jauh, wajahnya menandakan kalau dirinya berada dalam ancaman. Bukan ancaman yang menyasar fisik, tapi pikirannya. Seperti ada yang bersaing di dalam otaknya untuk mengomando kemana arah hatinya memihak.

“Apa kamu tidak kasihan ayah kamu, ia bakal disiksa di neraka karena penampilanmu.” Ucap Usman layaknya penceramah penebar surga.

“…” Anna memilih tak menjawab, dalam dirinya seperti ada malaikat dan setan yang mengontrol tubuhnya, bersamaan, ke arah yang sama.

“Pikirkanlah sekali lagi, pada awal kamu datang kamu sudah berada di jalan yang tepat. Namun sejak kamu berkumpul dengan mereka, kamu seperti kehilangan petunjuk jalan.” Sambung Usman kembali meyakinkan Anna yang terdiam.

Kata terakhir itu menjadi penutup perjumpaan mereka sore itu, Usman berdiri mulai melangkah pergi. Sedang Anna masih duduk sedikit merenung, tak lama kemudian mulai meninggalkan bangku.

Kos menjadi persinggahan selanjutnya. Ia masih berpikir, dalam pikirnya masih menegosiasikan antar-realita yang bernegasi. Bukan soal dosa dan pahala. Ini soal konspirasi malaikat dan setan pada tubuh perempuan. Malaikat dan setan mulai kabur dalam pandangannya. Anna tak bisa lagi membedakan dua makhluk sakral dan profan tersebut. Keduanya seakan menjadi satu, pertentangan mereka disatukan atas dasar kepentingan, ya, kepentingan atas tubuh perempuan.

Dalam jarak waktu yang tidak lama tersebut Anna dibuat bimbang oleh teman-temannya. Dua pendapat yang sangat kontras membuat dirinya semakin ragu dengan segala bentuk penampilan.

Anna saat ini merasa dirinya adalah representasi para perempuan, kontrol, opresi, objek, penampilan, dosa semua bermuara pada tubuh. Anna merasa dirinya hanya menjadi instrumen atas semua peristiwa, dosa-pahala, suci-profan, kesedihan-kebahagiaan, surga-neraka, dan lucunya semua hanya berlandaskan satu aspek, seksualitas tubuh.

Pikirannya mulai meraba sedikit berani, “Kenapa Tuhan tidak menyelamatkan perempuan dari semua belenggu laki-laki di tubuh perempuan? Kenapa juga Dia tidak menyadarkan perempuan lainnya? Apakah Dia juga laki-laki?” ***

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals