Al-Muwatta’: Buah Kemesraan Ilmu Hadis dan Fiqih

Kitab Al-Muwatha’ adalah simbol dari harmoni pengetahuan. Menampilkan sosok seorang muhadits dan fuqoha selaligus. Dalam setiap baris tulisannya ada siluet semangat


YouTube

Seorang pemerhati ilmu hadis, Muhammad Al-Fatih Suryadilaga mengetengahkan bagaimana relasi antara Diskursus Hadis dan Fiqih. Melalui artikel dengan judul “Pemahaman Hadis Perspektif Ulama Fiqih” Alfatih mengatakan bahwa hubungan antara ilmu Hadis dengan disiplin Fiqih seperti hubungan antara apoteker dengan dokter.

Pendapat yang dinukilnya dari Al-A’masy (61 – 148 H) seorang Muhadis besar di era Tabi’in ini menempatkan ahli Hadis seperti apoteker dan ahli Fiqih sebagai dokternya. Oleh karena itu ada semacam hubungan simbiosis mutualisme antara kedua ahli disiplin ilmu tersebut dalam memahami Islam.

Kosmpolitanisme peradaban Islam di Abad ke-Dua Hijriyah mampu memunculkan sisi keilmuan yang saling terkoneksi satu sama lain. Dalam konteks disiplin ilmu hadis dan ilmu fiqih, koneksitas itu terlihat dalam bentuk kemunculan kaum intelektual yang mumpuni dalam dua bidang ilmu tersebut. Sehingga buah karya para intelektual interkonektif ini mampu melahirkan produk-produk peradaban yang bermutu tinggi dan saling berkait kelindan antara satu disiplin ilmu dengan ilmu lainnya.

Salah satu korpus pada era ini yang menjadi pantulan fenomena tersebut adalah kitab Al-Muwatta’ yang ditulis oleh Imam Malik bin Anas (97 – 179 H). Ulama yang satu ini dikenal sebagai founding father Madzhab Fiqh Maliki, satu varian madzhab fiqih yang masih dianut dan diakui oleh masyarakat muslim dunia serta masuk dalam Empat Madzhab Fiqh populer.

Namun seorang Malik bin Anas adalah juga seorang cendekiawan yang basah akan pegetahuan hadis. Bagaimana tidak?, ia sendiri hidup dalam lingkungan pecinta dan pelestari hadis Madinah. Beberapa gurunya yang tersohor adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri yang juga tokoh perawi hadis dan Imam Ja’far Shadiq yang juga seorang ahli hadis sekaligus ahli fiqih.

Kitab Al-Muwatta’ adalah salah satu magnum opusnya yang masih dikaji di banyak pusat pendidikan Islam sampai sekarang. Kitab ini adalah korpus pertertemuan antara disiplin ilmu hadis dengan disiplin ilmu fiqih. Ke-Hadis-an Al-Muwatta’ bisa dilihat dari kegigihan Imam Malik dalam menjaga kualitas hadis-hadis yang ada di dalamnya.

Tidak tanggung-tanggung Imam Malik terus mengoreksi hadis-hadis dalam kitab tersebut sampai rentang waktu empat puluh tahun. Dengan kata lain sejak naskah pertama ditulis ternyata Imam Malik tak pernah luput memerhatikan kualitas hadis-hadisnya. Oleh karena itu jumlah hadis dari revisi naskah yang satu dengan yang lainnya mengalami beberapa perbedaan.

Beberapa ulama pun bebeda-beda dalam menyebutkan jumlah hadis yang ada dalam Al-Muwatta’. Ibnu Hibban menyatakan bahwa jumlah semua hadis dalam kitab tersebut ada 500 hadis yang diseleksi dari 100.000 hadis.

Abu Bakar Al-Abhari menyebut ada 1726 hadis dalam Al-Muwatta’. Sedangkan Muhammad Fuad Abdul Baqi menyebut jumlah hadis dalam kitab tersebut ada 1829 hadis. Masih banyak lagi pendapat-pendapat ulama lain terkait kitab yang konon disusun oleh Imam Malik atas permintaan khalifah Al-Manshur ini.

Komponen kitab Al-Muwatta’ terdiri dari beberapa macam bagian. Pertama adalah hadis-hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua adalah atsar-atsar yang berasal dari para sahabat Nabi SAW. Ketiga adalah fatwa-farwa yang diramu dan dikeluarkan oleh para Tabi’in.

Bahkan ada beberapa fatwa dan ijtihad Imam Malik sendiri yang dicantumkan di dalamnya. Kompilasi dari komponen-komponen tersebut disinyalir ikut mempengaruhi diferensiasi varian kalkulasi jumlah hadis dalam kitab yang masuk di jajaran Kutub at-Tis’ah ini.

Adapun dimensi fiqih dari kitab yang disusun oleh Imam Malik ini terlihat dalam substansi hadis yang diriwayatkannya. Nuansa fiqih memang sangat terasa dalam kitab ini. Sistematika yang diambil pun mengikut pada struktur kerangka diskursus fiqih.

Dalam edisi yang diterbitkan oleh Daar al-Kutub al-Ilmiyyah Lebanon dengan tahqiq oleh ulama besar bernama Muhammad Fuad Abdul Baqi, struktur Al-Muwatta’ terdiri dari 2 juz, 61 Kitab (Bab), 698 Bab (Tema). Pembahasan dalam kitab ini di awali dengan Kitab Wuqut as-Shalat (Bab tentang waktu-waktu shalat) dan diakhiri dengan Kitab Asma an-Nabi (Bab Nama-nama Nabi).

Kitab Al-Muwatta’ adalah simbol dari harmoni pengetahuan. Menampilkan sosok seorang muhadis dan fuqoha selaligus. Dalam setiap baris tulisannya ada siluet semangat Imam malik yang begitu heroik dalam menggeluti pengetahuan.

Kitab Al-Muwatta’ adalah energi yang harus kembali dilahirkan dan dibangkitkan lagi pada masa ini. Agar kejayaan dan peradaban Islam yang gemilang pada masa silam bukan hanya sebagai dongeng dan koleksi sejarah semata, namun juga sebagai monumen yang mampu memancarkan spirit energi peradaban cemerlang untuk saat ini dan masa depan.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Cecep Jaenudin

Cecep Jaenudin lahir di Majalengka, 2 Juli 1993. menyelesaikan studi magister pendidikan bahasa arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anggota di GESTURE (Global Institute for Humanity and Culture). Saat ini aktif menimba sekaligus menyemai pengetahuan di Al-Azhar Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Kajian

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals