Retorika Bin Salman dan Pembonsaian Humanity

betapapun kuatnya back-up US dan Inggris terhadap negara-negara otoriter di Timteng, mereka tetap saja takkan mampu mengalahkan kekuatan rakyat


elektrosystem.com

Tingkah Bin Salman tak henti membuat warga dunia geleng-geleng kepala. Manuver politiknya betul-betul tak terduga sekaligus norak abis. Belum tuntas kisruh politik pencekalan yang menargetkan siapa saja yang berlawanan dengannya, muncul lagi masalah baru: pembunuhan sadis terhadap kolumnis kawakan, Jamal Khassogi. Meski beberapa kali ia mengelak keterlibatannya dalam aksi keji itu, tapi bukti-bukti yang ada sangat jelas mengarah kepadanya, sebagai otak dibalik insiden yang terjadi pada 2 Oktober silam.

Jamal Khassogi yang merupakan seorang kolumnis aktif di The Washington Post, selama ini memang terbilang rutin mengkritik tatanan birokrasi negara-negara Arab, terutama Saudi. Bahkan dua hari sebelum kematiannya, Khassogi juga sempat menyindir Saudi dalam sebuah acara peringatan Perjanjian Damai Oslo di London, “Negara seperti Saudi, negara saya, tidak akan berminat terhadap isu-isu yang memotivasi dan mengumpulkan rakyat karena khawatir akan menundukkan mereka” (Kompas, 24/10).

Jamal Khassogi yang pada waktu itu berkunjung ke konsulat Saudi di Istanbul untuk mengurus administrasi pernikahannya, tiba-tiba lenyap dibabat algojo Bin Salman tanpa ampun. Betapa jasad Khassogi dibonsai habis, menyiratkan kebiadaban moral. Meski Saudi akhir-akhir ini menggelorakan hasratnya untuk menciptakan Saudi yang moderat, demokratis, dan santun, tapi watak barbarisme masih saja menjadi gaya hidup mereka.

Kasus lainnya, konflik Yaman, yang sebenarya tidak pantas lagi disebut sebagai peperangan, lebih tepatnya genosida. Bagaimana tidak, dari segi militer saja kelompok Yaman (pemberontak Houthi) sudah kalah telak, maklum alutsista Saudi serba mahal dan elite asupan dari Amrik cs. Mulanya bersikukuh akan menjamin perdamaian dan keamanan Yaman, yang terjadi sebaliknya, rakyat semakin sengsara dan negeri semakin kacau balau.

Konflik Saudi-Yaman inipun sontak membuat berang banyak pihak, di antaranya, Majlis Ulama Tunisia. Mereka menentang penggunaan dana haji untuk agresi militer Saudi ke Yaman yang telah membunuh banyak kaum Muslim. “Kira-kira dana haji dan umrah saudara pembaca budiman juga dialokasikan untuk perang gak ya?

Ulama-ulama Saudi pun tidak bisa berbuat banyak terkait kasus Khassogi, bahkan beberapa di antara mereka malah mengapresiasi langkah politik keji kerajaan Saudi tersebut. Arus kecaman warga dunia yang mengarah ke kerajaan Saudi ditanggapi dengan “super bijak” oleh Abdurrahman Al-Sudais, imam dan khatib Masjid al-Haram, “Bagaimanapun Saudi adalah kiblat, tempat ibadah, tujuan risalah, dan penyejuk hati bagi kaum Muslim. Sungguh, upaya melemahkan Saudi menyakiti perasaan miliaran muslim di dunia”, pernyataan ini beliau sampaikan dalam khutbah Jum’at 19 Oktober (al-Arabiyya: 20/10).

Bobot apologi buta statement al-Sudais tersebut benar-benar telah membungkam suara kebenaran yang harusnya melenggang ke ranah publik.Seturut dengan al-Sudais, ulama fenomenal Saudi ‘Aid al-Qarni juga menyebut dengan cukup tegas, “Pengkhianatan terhadap negara adalah kriminal fatal dan memberangus hak  negara adalah kerendahan yang hina dina”. Bisa dimaklumi keberpihakan para ulama terhadap kerajaan tak lain hanya demi memastikan keselamatan nyawa mereka, sejak penerapan politik pencekalan, ulama benar-benar tidak berkutik, selain menghamba di ujung jempol kaki Bin Salman.

‘Aid al-Qarni yang sebelumnya pernah menjadi korban pencekalan terkait kritik pedasnya terhadap keberadaan tentara Asing di Saudi saat perang Irak-Kuwait, juga melunak seperti bubur ayam, sekarang malah menuturkan narasi glorifikasi terhadap kerajaan atas pelenyapan Khassogi.

Seperti sudah mendapat firasat bahwa ‘aibnya itu tidak akan mampu ditangkup lagi, Bin Salman pun dengan cukup gigih melakukan negosiasi dengan Trump, dengan harapan kasusnya itu bisa dikubur hidup-hidup dan warga dunia pun memaafkannya.

Mulanya, Trump cukup antipati dan berlepas tangan terhadap kasus tersebut, namun entah bagaimana, Trump berbalik arah mendukung Bin Salman. Sebagaimana ditulis Madawi al-Rasheed di laman middleeasteye.net 28 November, “Trump is remaining faithful to a longstanding tradition of US foreign policy that privileges economic and strategic interests over moral and ethical issues, sometimes referred to as real-politic”.

Politik luar negeri US memang terang-terangan sangat utilitarianistik, kejahatan kemanusiaan yang jelas-jelas bertentangan dengan kampanye HAM yang mereka gemakan seantero dunia, justru tidak diambil pusing, yang penting bisnis mereka di Timteng tetap lancar dan stabil. Dukungan moral dari Trump bisa dibilang sedikit melegakan posisi Bin Salman, namun satu hal yang harus dicam dengan baik oleh Bin Salman.

Berdasarkan fakta sejarah selama ini, betapapun kuatnya back-up US dan Inggris terhadap negara-negara otoriter di Timteng, mereka tetap saja takkan mampu mengalahkan kekuatan rakyat, seperti nasib malang yang dialami Husni Mubarak di Mesir dan Ben Ali di Tunisia. Dan Bin Salman sepertinya hanya menunggu saatnya saja.

Selain memohon dukungan ke negara-negara adidaya, Bin Salman pun melakukan sowan ke negara-negara Timteng sebelum berangkat ke pertemuan akbar G20 di Buenos Aires, Argentina, dengan harapan negara-negara tersebut berkenan bertenggang rasa atas perbuatannya. Namun, jauh panggang dari api, dalam lawatannya ke Tunisia pada 27 November kemarin, Bin Salman malah mendapat sambutan kurang baik dari warga di sana.

Warga Tunisia bahkan berduyun-duyun turun ke jalan mengutarakan protes terhadap aksi mutilasi terhadap kolumnis The Washington Post itu dan mendesak Bin Salman bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Belum surut malu atas penolakan di Tunisia, penderitaan Bin Salman makin bertambah setelah mendapat pengucilan yang cukup menohok dari pemimpin-pemimpin dunia di perhelatan G20. Pidato Erdogan pada kesempatan tersebut juga menambah coreng di muka Bin Salman. Malangnya nasibmu, Man.

Dengan lantang Erdogan menyatakan, “Kami tidak melihat pembunuhan Khassogi sebagai masalah politik; bagi Turki insiden ini akan menjadi pembunuhan yang mencolok dalam dunia Islam. Opini publik internasional tidak akan terpuaskan sampai semua yang bertanggung jawab atas kematian Khassogi terungkap” (middleesteye.net, 1/12). Selain itu, pembunuhan Khassogi serta-merta menjadi ujian bagi seluruh dunia, lanjutnya. Bahwa hak asasi manusia merupakan persoalan yang mesti mendapat perhatian serius dari seluruh pihak. Bahwa kemanusian mesti didahulukan dari segala kepentingan.

Biarlah keadilan melimpah laksana air, dan kebenaran mengalir seperti sungai (Amos)

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Mahmud Wafi

Mahmud Wafi, adalah seorang pekerja sosial, juga merangkap sebagai santri Senin malam di Nitipuran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals