Wujud Syukur Itu Berkurban

menyukuri nikmat dengan berkurban secara kontekstual dipahami dengan kepedulian sesama menuju kebersaman di antara umat manusia.


sc: pontianakpost.co.id

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” QS. Al Kausar [108]: 1-3.

Nikmat merupakan karunia Ilahi untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Hal tersebut diberikan dalam rangka kebahagiaan manusia itu sendiri. Nikmat itu sering diartikan dengan ungkapan beragam seperti enak, karunia, lezat, dan mantab atau dalam dunia sosmed dikenal dengan emoticon jempol atau yang lainnya.

Sehingga istilah mensyukuri nikmat adalah suatu kondisi manusia yang mengucapkan terimakasih atas segala pemberian dan anugerah Allah swt. Dengan demikian, dalam kehidupan kemanusiaan, nikmat merupakan bagian terpenting di dalamnya sehingga menumbuhkan rasa senang dan bahagia.

Sebagai bagian dari pemberian Tuhan, nikmat harus senantiasa disyukuri. Setidaknya dalam QS. Saba’ (34): 13 disebutkan bahwa sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang bersyukur. Atas ayat tersebut Ali Sa’di menjelaskan bahwa nikmat tersebut adalah harta benda dan dihilangkannya musibah. Namun, nikmat Allah swt. tidaklah hanya  sebatas hal tersebut.

Kenikmatan itu sungguh sangat banyak sekali. Hal inilah yang menjadikan Allah swt. bertanya dalam sebuah Q.S. al-Rahman (55): yang diulang sebanyak 31 kali. Pertanyaan tersebut adalah Fabiayyi alaa’i Rabbikuma Tukazziban, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?.

Pertanyaan tersebut diletakkan di akhir setiap ayat yang menjelaskan karunia Allah yang diberikan untuk manusia yang begitu banyak. Dengan demikian, nikmat yang diberikan Allah swt. sangat banyak dan beragam dalam kehidupan manusia.

Wujud syukur adalah dengan salat dan berkurban. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan dalam QS. Al Kausar [108]: 1-3. Sehingga dalam konteks ini syukur nikmat sebagai sebuah cara meningkatkan ketaqwaan seorang manusia. Sehingga kenikmatan yang diberikan harus dibarengi dengan senantiasa menjalankan ibadah salat dan berbagi dengan sesama manusia.

Hal ini juga merefleksikan akan pentingnya iman dan perbuatan yang baik. Keimanan yang diwujudkan dengan salat dalam kesehariannya harus tetap ditegakkan kapanpun dan di manapun sehingga menjadi bagian tiang atau penegak agama itu sendiri.

Demikian juga dengan implikasi ketaataan kepada Tuhan yang harus mampu menciptakan pribadi manusia yang memiliki solidaritas yang tinggi dengan sesama. Dengan demikian, Islam mengajarkan bersyukur dengan senantiasa menegakkan dimensi keagaman dan sosial masyarakat.

Cara bersyukur di atas dapat dilakukan umat Islam di hari raya Idul Adha. Wujud pengorbanan ini adalah dengan meyembelih hewan atau binatang yang telah ditentukan yakni kambing, domba, kerbau, sapi dan unta sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Simbol dari wujud syukur tersebut menjadikan masyarakat yang berkebutuhan dapat memanfatkan daging dan lainnya untuk kehidupan keseharian. Setidaknya, dalam beberapa hari mereka mampu bertahan hidup dengan menyantapnya sebagai hidangan makan yang lebih baik dari keseharian yang didapatkannya. Tentu, Allah swt. sebagai Tuhan hanya menilainya sebagai wujud ketaqwaan. Dengan demikian, hasil akhir kedua wujud syukur yakni salat dan kurban adalah sama yakni menuju ketaqwaan sejati.

Taqwa inilah yang menjadikan manusia selalu dalam jalan yang benar dan jalan kemanusian. Hal tersebut harus terbuktikan dalam kehidupannya keseharian terutama dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hasil akhir dari kegiatan syukur ini adalah kedamaian dan keindahan dalam kebersamaan di antara umat manusia.

Jika hal ini dilaksanakan seluruh umat Islam di Indonesia siapapun mereka dan di manapun mereka berada, maka sosok Islam yang rahmatan lil alamin sebagaimana misi yang diamanahkan kepada Rasulullah saw. terwujud dengan baik. Mereka umat manusia bersatu menuju kedamaian.

Merusak perdamaian adalah bagian tidak mensyukuri nikmat itu sendiri. Dengan demikian, menyukuri nikmat dengan berkurban secara kontekstual dipahami dengan kepedulian sesama menuju kebersaman di antara umat manusia.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga

Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat  https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals