Kritik Yudian terhadap Nasir

"Jangan pernah jadikan puncak pengalaman seseorang sebagai aturan umum". (Prof. K. H. Yudian Wahyudi)


Setengah berang, Prof. Yudian Wahyudi, Rektor UIN Sunan Kalijaga, melontarkan kritik ke M. Nasir atas rencana mengimpor rektor asing. Sebagai tanggung jawab ilmiah, sebutnya, ide tersebut mesti ditolak. Rektor nyentrik dan ‘berapi-api’ ini, menyelipkan beberapa argumen di sela-sela pidatonya pada acara wisuda 7 Agustus. Pertama, kurangi anggaran, gandakan target. “Untuk universitas besar kayak UI, ITB, kalau rektornya asing anggarannya dikurangi 1000%, targetnya dilipatkan 1000%”, tegasnya.

Tanpa menenggang beliau katakan, jika Menteri Ristekdikti tidak mengerti titik persoalan kenapa Indonesia tidak masuk 100 besar perguruan tinggi dunia. Untuk itu, menurutnya, “Jangan pernah jadikan puncak pengalaman seseorang sebagai aturan umum”.

Kelemahan kita tentunya pada publikasi, yang menurut Prof. Yudian, tidak bisa tidak mesti 1000 publikasi setahun. Terutama universitas besar yang bergerak di experimental science mesti menunjukkan taji, karena produk penelitiannya langsung dan terukur. Pada pidato tersebut beliau mengambil contoh Singapura, bahwa Indonesia mesti bergerak lebih sigap dan produktif lima kali lipat dari Singapura.

Berikutnya, Presiden Asosiasi Perguruan Tinggi Islam se-Asia ini menuturkan, anggaran mesti dialokasikan pada pengembangan dan pemberdayaan perguruan tinggi di daerah, beri apresiasi setingginya bagi para dosen dan peneliti, alih-alih menyewa rektor asing. Bagaimana tidak, di saat dosen dan peneliti masih dihadapkan dengan persoalan administrasi dan birokrasi yang maha jelimet, Pak Menteri malah menggulirkan gagasan yang terkesan absurd. Lain gatal lain digaruk, persis demikian.

Persoalan ini sempat didengungkan Prof. Al Makin dalam pidato pengukuhan guru besar tahun lalu (8/11/2018) dengan judul: “Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia? Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi”.

Pertanyaan di atas sepertinya kian sulit untuk dijawab, jika melihat kebijakan para birokrat negara yang semakin centang-perenang.

Belum lagi dewasa ini kampus dihadapkan dengan tantangan baru yang sudah saatnya butuh penyegaran epistemologis secara total dan masif.  Disrupsi teknologi dan media benar-benar telah mengerdilkan penelitian-penelitian di dunia akademik, yang lamban lagi hambar. Strategi percepatan lebih dibutuhkan saat ini jika tidak ingin digilas oleh koorporasi-koorporasi raksasa, yang memiliki daya riset cukup gesit. Jadilah, lembaran skripsi, tesis, dan disertasi  penghias gudang, kalau tidak berakhir sebagai pembungkus gorengan.

Apakah Pak Menteri sedang mencoba menjawab tantangan ini dengan mengimpor rektor asing? Namun tetap saja langkah tersebut kurang arif. Jika soalnya menumbuhkan daya kompetitif, tidak perlu segitunya. Kita lebih membutuhkan kebijakan yang terarah dan efisien ketimbang rektor impor. Cukup beras yang impor, rektor jangan. Please.

Seperti tak puas, Prof. Yudian melanjutkan kicaunya, “Kalau orang UI dikasi orang asing gajinya 10 kali lipat, terus anggaran 10 kali lipat, terus yang goblok siapa?” Nada jengkel ini terdengar keras, namun di saat jongkoknya mutu perguruan tinggi dan rendahnya publikasi jurnal internasional, menjadi wajar saja.

Mendengar pidato Pak Rektor, peserta wisuda dan audiens dibuat gemuruh, tepuk tangan dan gelak tawa membahana seisi gedung. “Ini bukan soal Yudian, Mas, ini soal bangsa”, tandasnya.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals