Belajar dari Pengalaman Hidup Nabi Adam dalam Al-Quran

Nabi Adam as adalah penghuni pertama kolong langit ini untuk menjadi khalifah, wakil, pelaksana tugas, mandataris Tuhan di muka bumi.


Allah swt mengutus para rasul dari masa ke masa. Masing-masing rasul diutus kepada kaumnya dengan bahasa kaumnya pula, kecuali Nabi Muhammad saw, penutup para nabi dan rasul, yang diutus kepada seluruh umat manusia dengan kitab suci berbahasa Arab Al-Quran.

Nabi Adam as adalah penghuni pertama kolong langit ini untuk menjadi khalifah, wakil, pelaksana tugas, mandataris Tuhan di muka bumi. Mula-mula Nabi Adam dan istrinya tinggal di surga. Atas godaan setan iblis mereka diturunkan dari sana lalu mengembara di bumi. Al-Quran menarasikan beberapa episode pengalaman Nabi Adam dalam ayat-ayat berikut.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak pengetahuan pada kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.” 

Allah berfirman, “Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini!” Setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang telah kamu sembunyikan?”

Ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka segera bersujud, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur. Dia termasuk golongan yang kafir. Kami berfirman, “Wahai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan yang banyak lagi baik di mana saja dan kapan saja kamu suka, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim.

Lalu setan menggelincirkan keduanya dari surga itu. Maka mereka berdua dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya. Maka, Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat, lagi Maha Penyayang.

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Lalu jika datang petunjuk-Ku kepadamu, siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada rasa takut menimpa mereka, dan tidak pula mereka bersedih.” Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS 2:30-39).

Sungguh, Kami telah menciptakan leluhur kamu, Adam, lalu Kami bentuk kamu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kepada Adam!” Maka mereka pun segera bersujud, kecuali iblis; dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan aku dari api, sedang Engkau menciptakan dia dari tanah.”

Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk pihak yang hina.” Iblis menjawab, “Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian, aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka; dari kanan dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

Allah berfirman, “Keluarlah kamu dari surga itu terhina lagi terusir. Sungguh, siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, Aku benar-benar akan memernuhi neraka Jahannam dengan kamu semua.”(QS 7:11-18).

Allah berfirman, “Wahai Adam berdiamlah kamu dan istrimu di surga serta makanlah kamu berdua apa saja, kapan saja dan di mana saja kamu suka, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga kamu berdua termasuk orang-orang zalim.” Setan pun membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari aurat mereka dan setan berkata, “Tuhan kamu berdua tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal dalam surga.” Setan bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku bagi kamu berdua  termasuk para pemberi nasihat kepada kamu.” Maka, setan membujuk keduanya dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan mereka menyeru mereka berdua, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku telah firmankan kepadamu, sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami; jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”(QS 7:19-23).

Adam dan istrinya tergoda setan. Nasi telah menjadi bubur. Mereka pun diperintahkan turun ke bumi.

Allah berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Bagi kamu tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Allah berfirman, “Di bumi kamu hidup, di bumi kamu mati, dan dari bumi pula kamu akan dibangkitkan. Wahai anak-cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bahan pakaian indah untuk perhiasan. Pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat. Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surge. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya setan dan para pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sebagai pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS 24:27).

Betapa masyghul hati Nabi Adam ketika kedua putranya berselisih, lalu Allah mengilhaminya agar mereka mempersembahkan kurban.

Bacakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban. Maka, diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) menjawab, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” 

“Sungguh jikalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (pembunuhan) terhadap aku dan dosamu sendiri, sehingga kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang zalim.” Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya rela membunuh saudaranya, sebab itu ia membunuhnya. Maka, jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

Kemudian, Allah mengutus seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Aduhai celaka aku. Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Karena itu jadilah ia seorang di antara orang-orang yang menyesal. Oleh karena itu, Kami tetapkan atas Bani Israil, bahwa siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau karena membuat kerusakan di bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya, dan siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di bumi. (QS 5:27-32).

Keangkuhan membuahkan pembangkangan
Kelengahan membuahkan kejatuhan
Keakuan membuahkan kejahatan.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals