Ustadz Abdul Somad Tetap Milik Ummat

Biarlah UAS tetap UAS yang selalu memberi pencerahan dan kesejukan hati bagi ummat. UAS bukan milik kelompok tertentu tapi milik ummat.


Rekomendasi Ijtimak ulama yang digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNF-U) merekomendasikan nama Ustadz Abdul Somad. Lc. MA, menjadi calon wakil Presiden pasangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 mendatang. UAS dengan ketawadhuannya merespon dengan baik hasil Ijtima Ulama yang berkaitan dengan pencalonan dirinya sebagai Cawapres, UAS berterima kasih dan mengahargai hasil ijtima para ulama itu.

Persaudaraan Alumni (PA) 212 yakin bahwa Ustadz Abdul Somad bersedia sebagai wakil calon Presiden. Secara sepihak Novel Bakmumin sebagai Juru Bicara PA 212 mengklaim dengan diamnya Ust. Abdul Somad, berarti dia bersedia menjadi Cawapres asalkan dideklarasikan oleh partai-partai koalisi ummat Islam. UAS diyakini akan mendongkrak suara pada Pilpres mendatang seiring dengan popularitasnya.

UAS dalam berbagai ceramahnya, ketika ada pertanyaan dari jamaah tentang  kesiapannya menjadi calon wakil presiden, UAS dengan gayanya yang khas selalu menjawab pertanyaan dengan logis dan bijak. UAS tidak langsung menjawab apakah beliau bersedia menjadi Cawapres atau menolaknya. UAS selalu memberikan jawaban yang mencerminkan kealimannya. Yang pada akhirnya kita sendiri yang dapat menyimpulkannya.

Ijtimak ulama menurut UAS adalah perkumpulan, pertemuan, konsesnsus, kesepakatan. Ulama berkumpul dari berbagai kalangan, aliran dan kelompok untuk membahas suatu masalah yang kemudian memunculkan rekomendasi. Ijtimak ulama menurutnya adalah hanya saran (advice) yang diajukan ke ummat untuk direspons. Saran ulama ini, akan dikembalikan kepada pribadi yang diberikan rekomendasi. Semua punya hak untuk menerima atau menolaknya, dan tidak ada paksaan dalam Islam.

UAS dalam menanggapi berbagai pertanyaan ummat dalam menjawabnya selalu merujuk pada referensi dan sejarah Islam. Salah satunya yang menjadi rujukan beliau adalah kitab yang ditulis oleh Imam al-Mawardi yang ditulis pada tahun 450 H. yang berjudul al-Ahkam al-Sulthaniah (hukum-hukum kepemimpinan/hukum tata negara). UAS memberikan berbagai penjelasan yang sangat mendasar kepada ummat, prihal kepemimpinan dalam Islam.

Pada waktu Rasulullah meninggal, maka semua orang tertuju pada Umar Bin Khatab untuk menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin, tetapi Umar Bin Khattab menolaknya karena yang lebih layak darinya menjadi pemimpin yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq. Karena beliaulah yang ditunjuk Rasulullah ketika sakit menjadi Imam Sholat.

Begitupun Umar Bin Khattab setelah meninggal dunia, banyak orang meminta kepada anaknya yaitu Abdullah bin Umar untuk menggantikan ayahnya menjadi pemimpin, tetapi menurut Abudullah bin Umar ini adalah urusan politik dan itu bukan bidangnya, sehingga Abdullah bin Umar menolak untuk menjadi pemimpin dan memilih untuk fokus mengembangkan pendidikan Islam. Kemudian tahta kepemimpinan diserahkan kepada Usman bin Affan melalui musyawarah para sahabat.

Abdullah bin Umar adalah salah satu dari tujuh sahabat Nabi, SAW yang ahli dalam hadis dan fiqih yang kemudian bertekad untuk istiqomah dalam mengembangkan pendidikan Agama Islam. Abudar al-Ghifari pernah meminta kepada Rasulullah untuk menjadi pemimpin perang tetapi Rasulullah tidak menyetujuinya karena itu bukan bidangnya. Karena masih ada sahabat Nabi SAW seperti Amru bin Ash dan Kholid bin Walid yang ahli dalam strategi peperangan.

Cara UAS dalam menyikapi pencalonannya sebagi Cawapres sungguh sangat mendasar. Keputusannya untuk tidak menerima lamaran sebagai Cawapres menunjukkan bahwa politik bukan dari bidang keahliannya. Biarlah UAS tetap UAS yang selalu memberi pencerahan dan kesejukan hati bagi ummat. UAS bukan milik kelompok tertentu tapi milik ummat.

Walaupun ada banyak jutaan bahkan miliaran ummat mengharapkan dirinya untuk menjadi pemimpin negara, tetapi harapan itu akan sirna. UAS akan tetap berada di tengah ummat untuk memperbaiki negara dengan melalui dakwah-dakwahnya. Keputusannya untuk tidak menjadi calon pemimpin negara bukan berarti beliau tidak cinta negara, justru sebaliknya itu merupakan bentuk kecintaannya terhadap negara dan ummat.

Dengan diumumkannya bakal calon presiden dan wakil presiden yaitu pasangan Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno dan  pasangan Joko Widodo dengan KH. Ma’ruf Amin, semoga calon-calon tersebut merupakan calon yang nantinya mampu membawa Indonesia lebih baik. Keterwakilan mereka yang akan menjadi calon pemimpin negara bisa membawa kedamaian dan kesejukan bagi ummat.

Ketika negara dipegang oleh orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya, itu kata-kata yang selalu di ucapkan UAS yang bersumber pada hadis, yang menjadikan dirinya bukan bagian dari itu. Sosok pasangan calon yang ahli dalam bidang pemerintahan dan politik akan membawa pada perubahan bukan pada kehancuran.

Kita percaya kedua calon tersebut mempunyai kemampuan untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Siapapun yang menjadi pemimpin nantinya merupakan takdir yang telah ditetapkan Allah SWT.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Hakiman

Warrior

HAKIMAN. SPd.I, MP.d. Dosen PAI FITK IAIN Surakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals