Menjaga Eksistensi Gerakan Mahasiswa (Bagian 2)

Organisasi mahasiswa bukan lagi organisasi yang ditakuti oleh pejabat lantaran kekritisannya. Slogan suara mahasiswa adalah suara rakyat kini telah mati.


Ilustrasi demonstrasi. (Foto: Huffington Post)

Di bawah kuasa tirani
Kususuri garis jalan ini
Berjuta kali turun aksi
Bagiku suatu langkah pasti

Kutipan lagu ini, dulu kerap kali didendangkan ketika mahasiswa menggelar aksi turun ke jalan. Lagu mars jalanan ini seakan mewakili suara hati nurani mahasiswa, menentang segala bentuk penindasan. Aksi turun ke jalan hanyalah salah satu ikhtiar mahasiswa untuk melawan ketidakadilan, menuju perubahan. Mahasiswa yang bernalar kritis akan senantiasa menjadi garda terdepan dalam menolak setiap bentuk kebijakan yang dianggap merugikan rakyat. Mahasiswa tidak akan berhenti melakukan aksi, sebelum ketidakadilan punah dari bumi pertiwi.

Ambil contoh, soal kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang digulirkan beberapa waktu yang lalu. Adakah mahasiswa yang menggelar aksi turun ke jalan? Mahasiswa seakan lupa peran dan tanggung jawabnya sebagai pengawal bangsa. Organisasi mahasiswa bukan lagi organisasi yang ditakuti oleh pejabat lantaran kekritisannya. Slogan suara mahasiswa adalah suara rakyat kini telah mati. Lagu-lagu pergerakan seakan tenggelam dalam riuh rendah pekikan dogma agama.

Lemahnya daya kritis mahasiswa berarti juga tidak produktifnya organisasi kemahasiswaan intra kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) atau Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) atau organisasi ektra kampus, seperti HMI, PMII, IMM, KAMMI, GMNI dan lain-lain. Mahasiswa kini bisa dikatakan tidak lagi satu suara dalam mengkritisi pemerintah. Mereka  terkotak-kotak dalam baju ormas. Dari sekian banyak aksi masa baru-baru ini, mahasiswa lebih senang dengan memakai atribut ormas dari pada atribut organisasi mahasiswa. Jas almamater yang menjadi ciri khas kaum intelektual kalah dengan baju-baju keagamaan.

Eksistensi mahasiswa bisa dijaga dengan tiga gerakan. Pertama gerakan intelektual. Gerakan ini bercirikan segala sesuatu harus mengedepankan intelektualitasnya. Gerakan intelektual harus terus dibangun sebagai alat pisau analisis terhadap fenomena bangsa dengan tidak membatasi diri dalam menimba ilmu dan selalu mengedepankan kebebasan akademik. Kedua gerakan kritis transformatif. Mahasiswa harus berpikir kritis terhadap fenomena masyarakan dan mampu melakukan transformasi sosial.

Ketiga gerakan moral. Seorang mahasiswa merupakan kaum bermoral. Maka, moral harus selalu dibangun dan melekat pada diri setiap mahasiswa dengan menjaga tata adat, keberagaman dan sopan santun dalam berpendapat dan berprilaku. Keempat gerakan indenpendensi. Seorang mahasiswa harus indenpenden dalam melihat fenomena dan isu yang berkembang, tidak terjebak pada provokasi dan kepentingan pihak tertentu walaupun atas nama kepentingan ummat.

Mahasiswa harus menjadi kelompok idealis konfrontatif dalam merespon setiap kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya yang ada di masyarakat. Melalui pemahaman sejarah dan memaknai kembali mahasiswa sebagai agen of change pada awal mahasiswa masuk ke kampus, merupakan titik proses untuk menjaga ghirah dan khittah mahasiswa.

Kampus harus memberikan kebebasan ruang kepada mahasiswa supaya mampu berfikir kritis melalui mimbar kebebasan akademik. Orientasi pengenalan kampus atau Ospek yang kini berubah Pengenalan Budaya Ademik dan Kemahasiswaan (PBAK) merupakan pintu gerbang untuk mendorong mahasiswa menjadi mahasiswa yang kritis dan progresif.

Mahasiswa melalui PBAK harus mampu menemukan nalar kritisnya, dengan cara menyajikan lembaran-lembaran sejarah gerakan mahasiswa di berbagai belahan dunia. Bukti bahwa mahasiswa mempunyai posisi strategis dalam membangun bangsa yang lepas dari kepentingan dan intervensi dari kelompok mana pun. Mahasiswa memiliki bargaining position di mana sudah tidak ada lagi kelompok yang netral.

Mahasiswa dengan modal intelektualitas keagamaan dan keindonesian harus menjadi pioner terdepan dalam mengawal Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI). Aksi mahasiswa harus menjadi penyeimbang dari aksi golongan ideologi kiri dan ideologi kanan. Aksi menyurakan NKRI harga mati dan pancasila sebagai ideologi negara merupakan suatu keniscayaan. Mahasiswa harus berdiri tegak di tengah perang ideologi yang akhir-akhir ini berkembang menimpa para elit dan masyarakat.

Dengan kembalinya mahasiswa pada jati dirinya, maka akan mucul sosok mahasiswa-mahasiswa yang idealis dan kritis seperti Boedi utomo, Seo hok gie, Ahmad wahib, Mahbub Junaidi dan lain-lain. Mereka adalah mahasiswa yang tangguh dan lantang dalam menyuarakan hati nuraninya. Aksi yang dilakukan mereka bukan hanya aksi turun ke jalan, tapi aksi melalui tulisan-tulisan yang menggelorakan semangat rakyat melawan tirani kekuasaan. Mereka mampu memprovokasi dan menggerakan elemen mahasiswa dan masyarakat untuk bergerak bersama.

Aksi mahasiswa masa kini selain turun aksi ke jalan, maka ada aksi lain yang sangat penting untuk dilakukan secara masif yaitu aksi media sosial. Mahasiswa harus menyuguhkan berita idealis provokatif kepada masyarakat sebagai penyeimbang berita ideologi pragmatis. Mahasiswa harus mengambil alih peran medsos sebagai alat tranformasi aksi kritisnya. Dengan dua cara ini maka mahasiswa akan terus menjadi kaum intelektual yang berperan dan berkontribusi terhadap peradaban bangsa Indonesia.

Baca juga: Menjaga Eksistensi Gerakan Mahasiswa (Bagian 1)

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Hakiman

HAKIMAN. SPd.I, MP.d. Dosen PAI FITK IAIN Surakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals