Alasan Sinetron “Suara Hati Istri” Tidak Layak untuk Ditonton

Dalam kasus sinetron "SHI: Zahra" sendiri, yang cukup menggelitik adalah adegan romantisasi perkawinan anak, legalisasi kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lain.


suara-hati-istri-zahra
Sumber gambar: kumparan.com

Sinetron yang tayang di salah satu stasiun TV swasta Indonesia sedang dikecam habis-habisan oleh netizen, aktivis perempuan, pemerhati tayangan dan berbagai kalangan lainnya. Pengecaman tersebut dilatarbelakangi oleh alur cerita yang mempertontonkan superioritas laki-laki dan obyektivikasi terhadap perempuan.

Sinetron yang berjudul “Mega Series Suara Hati Istri: Zahra” tersebut mengangkat cerita tentang keserakahan seorang laki-laki yang merasa tidak cukup memiliki satu istri. Tidak tanggung-tanggung, si laki-laki pun menikahi tiga orang perempuan. Istri ketiganya inilah yang bernama Zahra.

Dalam sinetron ini, Zahra diceritakan merupakan seorang remaja 17 tahun yang dipaksa menikah dengan si lelaki bernama Tirta. Meskipun penuh dengan paksaan, akhirnya keduanya saling mencintai di antara dua istri lain yang cemburu dan berkeinginan untuk menyingkirkan Zahra.

Hingga saat ini, buntut dari kecaman tersebut ditanggapi oleh stasiun TV penayangnya dengan mengganti pemeran Zahra. Pemeran Zahra digantikan karena muncul juga protes mengenai umur Zahra yang masih berumur 15 tahun. Usia yang masih digolongkan sebagai usia anak yang rawan mengalami eksploitasi.

Baca Juga: Perubahan Relasi Suami-Istri di Era Covid-19

Namun, problemnya tidak berhenti di sana. Bagaimanapun juga tidak dapat dikesampingkan bahwa bagian yang paling bermasalah dalam sinetron ini adalah alur ceritanya yang sangat bias dengan budaya patriarki, di mana kuasa laki-laki yang tidak hanya merugikan, tetapi juga merendahkan dan mengeksploitasi perempuan.

Sayangnya, plot ini dipertontonkan sedemikian rupa tanpa adanya rasa khawatir andai-andai sinetron ini diimitasi alih-alih pun dimaklumi karena anggapan “begitulah natural-nya sifat lelaki”.

Sinetron Suara Hati Istri sebenarnya sudah cukup lama tayang dan dinikmati oleh pemirsa stasiun TV tersebut. Alurnya juga terkesan “begitu-begitu saja”, namun anehnya sinetron ini tetap saja diproduksi dan ditayangkan.

Sebagai industri yang mengandalkan iklan sebaga pundi keuangannya, dapat disimpulkan bahwa tontonan tersebut memiliki rating yang cukup bagus sehingga penayangannya pun terus berlanjut.

Artinya, sinetron suara hati istri yang sangat menjunjung budaya patriarkhi itu cukup digemari dan dinikmati oleh penontonnya. Kita perlu bertanya “Mengapa ada orang yang tertarik menonton tayangan tersebut? Seberapa tertariknya dia menonton tayangan tersebut?”

Penulis pribadi dengan keterbatasannya tentu belum pernah mewawancarai satu persatu pemirsa Sinetron Suara Hati Istri ini. Namun, sebagai orang desa yang tidak memiliki jaringan televisi kabel, penulis mengamati bahwa keterbatasan pilihan tontonan-lah yang menyebabkan tayangan ini dengan “terpaksa, mau tidak mau” dinikmati.

“Keterpaksaan” agar mendapat hiburan itu kemudian lama-kelamaan menjadi dinikmati dan dinanti-nantikan. Padahal alurnya sama saja dan mudah ditebak cerita akhirnya akan seperti apa. Diawali dengan laki-laki yang serakah (serakah harta, tahta dan wanita), kemudian menyakiti perempuan yang menjadi istrinya. Si laki-laki itu kemudian menyia-nyiakan istrinya dan menjalin hubungan dengan perempuan lain.

Baca Juga: Dunia Kata: Wajah Baru Kebebasan Perempuan

Karakter tokoh lak-laki digambarkan sedemikian serakah, kejam, jahat dan angkuh. Sebaliknya, perempuan yang dikhianati adalah sosok yang penyabar, lemah, menyedihkan dan tidak berdaya. Akan muncul dialog yang ditujukan kepada perempuan tersebut: “Sabar, ini ujian dari Tuhan”.

Si perempuan pun bertahan dalam kehidupan rumah tangganya itu. Begitu seterusnya hingga akhir cerita, si laki-laki akan menyadari kesalahannya, kemudian datang kembali kepada si perempuan, si perempuan pun akan menerimanya kembali (biasanya, sih, endingnya gitu).

Dalam kasus sinetron Zahra sendiri, yang cukup menggelitik adalah adegan romantisasi perkawinan anak. Tentu saja hal ini tidak pantas dijadikan sebagai ide cerita, karena akan mempertontonkan seolah pernikahan anak adalah hal yang wajar dan akan berakhir baik-baik saja.

Realitanya, perkawinan anak yang masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia (Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan berbagai daerah lainnya) memunculkan permasalahan-permasalahan yang cukup kompleks. Problem tersebut di antaranya gangguan psikologis, resiko kematian ibu, dan berujung kepada peningkatan kemiskinan.

Selain mempertontonkan perkawinan anak, sinetron Zahra juga mengandung unsur cerita yang melegalkan kekerasan dalam rumah tangga dan mengerdilkan perempuan sebagai subyek dalam kehidupan rumah tangganya. Lebih nyata lagi, karakter perempuan dalam sinetron ini penuh stereotype: perempuan yang hobi menjatuhkan perempuan lain karena keegoisan masing-masing.

Sebagai tontonan, bukankah akan lebih cerdas dan kreatif apabila alur ceritanya harus didasari dengan pengamatan dan riset mendalam terlebih dahulu? Tidak hanya berbicara mengenai fiktif dan imajinasi pembuat skenario, melainkan sebagai visualisasi dari realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang sangat beragam ini?

Tidakkah muak menghadirkan sinetron yang alurnya begitu-begitu saja? Cerita yang berkisar pada laki-laki yang superior dan objektivikasi perempuan serta mengesampingkan kemanusiawiannya? Cerita soal perempuan yang saling rebut-merebut laki-laki.

Dapatkah kami berharap tayangan sinetron yang alurnya lebih beragam? Banyak sumber inspirasi dan informasi yang dapat digunakan sebagai ide cerita.

Keresahan kami yang lain, mengapa cerita sinetron jarang sekali menampilkan keragaman dan keberagamaan? Bukankah Indonesia tidak hanya dihuni oleh pemirsa yang beragama Islam saja? Lantas, mengapa karakter dalam sinetron digambarkan seluruhnya beragama Islam?

Apa lagi Sinetron “Suara Hati Istri” yang sama sekali tidak menyuarakan isi hati si istri itu sendiri. Benar juga jika ide alur ceritanya terinspirasi dari salah satu agama resmi yang memperbolehkan poligami.

Namun, apakah praktiknya benar demikian? Nampaknya, kru pertelevisian yang terlibat harus banyak melakukan riset lagi. Oh, atau ini salah satu bentuk cemoohan yang bertujuan untuk menjelek-jelekkan pemahaman tentang agama tersebut? Ups, provokator sekali ya bund…. 

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals