Problem Nama Tuhan

Sebutan Allah dengan "Yang di Atas" itu maksudnya apa? Bahwa Anda menyatakan Allah berada di atas? Atau bahwa Anda pasrah pada kucing yang nangkring di atap?


Siapa yang membubuhkan warna merah pada cabe? Kita jawab, “Allah”. Apakah terdapat Dzat lain selain Allah yang mampu menentukan bahwa cabe tertentu di sawah tertentu harusnya berwarna hijau, bukan malah jadi hitam? Kita jawab, “Mustahil, Allah tidak bersekutu dengan siapapun.”

Baiklah, pertanyaan untuk tulisan ini sebetulnya bukan itu, atau sebut saja tak semenyeramkan pembahasan di seputar itu. Pertanyaannya sederhana saja: bolehkah kita, menimbang bahwa hanya Allah yang mampu menuangkan warna pada buah cabe, menyeru nama Allah dengan sebutan “Dzat yang mengecat cabe”?

Ini penting karena di beberapa tempat dalam sejumlah percakapan, kaum muslimin menyebut Tuhan atau Allah tidak dengan asmanya yang eksplisit, melainkan nama-nama seperti “sing ngecat lombok“, “sing mbahurekso”, “kang murbowaseso”, dan lain-lain.

Anda bisa saja berkata, “ah, itu kan cuma terjadi pada orang Jawa”. Tapi, dalam percakapan berbahasa nasional pun, kita kerapkali tidak mendengar kaum muslim menyebut nama Allah dengan tegas, dan memilih untuk sekadar menyerunya dengan sebutan “Tuhan” saja. Atau kita juga sering disuguhi tayangan televisi, sejumlah artis sambil sesenggukan diwawancara wartawan infotainment, tiba-tiba menyergah, “Kita sudah berusaha, selanjutnya kita serahkan pada Yang di Atas.”

Beberapa orang lantas mempersoalkan ini. Penyebutan Allah dengan, misalnya, “Gusti Pengeran” sepertinya tidak tampak islami, dan mesti diganti dengan “Allah” saja, kalau perlu tak usah ditambah “Gusti“.

Lalu sebutan Tuhan. Konon sebutan ini bermakna terlalu umum, sehingga dapat ditanyakan kepada penggunanya, “Anda ini sedang menyeru Tuhan yang mana? Tuhan Islam? Tuhan Kristen? Atau Tuhan Sunda Wiwitan?”

Dan, tentu saja, sebutan Allah dengan “Yang di Atas” itu maksudnya apa? Bahwa Anda menyatakan Allah berada di atas? Atau bahwa Anda menyerahkan segala urusan pada seekor kucing yang sedang nangkring di atas atap?

Musykil!

Dalam tafsirnya tentang ayat basmalah, Imam Al-Razi menunjukkan bahwa terdapat dua arus besar dalam rangka menjawab persoalan ini. Pertama, kelompok yang setuju nama dan sifat Allah bersifat tawqifi alias arbitrer atawa hanya mungkin kita tahu berdasarkan nash (Al-Quran dan Al-Hadis). Imam Al-Ghazali adalah salah satu eksponen pendukung faksi ini.

Nama dan sifat Allah, bagi kelompok ini, tidak bisa dibuat-buat. Kenapa? Sebab, seperti kata Imam Al-Ghazali, nama bagi sesuatu berfungsi terutama untuk membedakannya dari yang lain. Saya bernama Lukman, dan Anda bernama Mustofa. Kalau setiap orang diperbolehkan untuk memberi nama pada apa saja sesuai kehendaknya, maka sesuatu bakal tidak dapat dikenali lagi. Anda akan kesulitan membedakan mana Lukman dan Mustofa, sebab kini Lukman bisa saja kita panggil dengan sebutan Mustofa sekehendak hati kita.

Dalam hal sifat, Allah misalnya disebut sebagai Dzat yang (maha) mengetahui, atau alim. Manusia juga ada yang memiliki pengetahuan, dan karenanya kelak juga diseru sebagai alim. Tetapi di sisi lain, manusia juga menyebut sesama mereka dengan umpamanya sebutan faqih (pintar). Masalahnya, kenapa Allah, yang memiliki sifat mengetahui, itu hanya disebut alim saja dan tidak pernah disifati dengan faqih?

Hal ini menunjukkan, menurut pendukung kelompok ini, bahwa sifat Allah pun hanya mungkin kita ketahui secara arbitrer. Kalau tidak disebutkan di dalam al-Quran dan Hadis, maka tak perlu bikin Nama-Nama yang lain. Nama-nama ini kemudian terkenal dengan asmaul husna yang, seperti disebut oleh Nabi sendiri, berjumlah sembilan puluh sembilan.

Dari sini, menyeru nama Tuhan dengan sebutan sifat layaknya “Dzat yang Mengecat Cabe” sepertinya batal. Tetapi menerjemahkan “Al-Qadir” dengan “Yang Kuasa” agaknya masih dapat dimaklumi.

Kelompok kedua memiliki pemikiran yang berbeda. Pertanyaan mereka mula-mula adalah bagaimana Tuhan diseru oleh umat manusia yang bukan hanya menggunakan bahasa Arab? Umat yang sudah menyembah Tuhan bahkan jauh sebelum kedatangan agama Islam? Bagaimana bangsa Jawa dulu menyebut Tuhan mereka, sebagaimana nabi-nabi terdahulu (yang jumlahnya ratusan ribu itu) mengajari mereka?

Jawabnya, Allah bisa saja diseru menggunakan bahasa lokal. Bahkan Allah bisa saja dilabeli dengan sifat-sifat yang tidak pernah didengar sebelumnya di dalam teks-teks agama Islam. Dengan catatan, asalkan penyebutan tersebut sepadan dengan keagungan (jalaliyah) Allah.

Dalam konteks ini, sebutan Allah dengan “sing mbahurekso” (yang menguasai segala sesuatu) rasanya tepat. Dan, adakah Dzat lain yang mampu memberi warna pada cabe? Haqqul yaqin tidak ada, sudah pasti hanya Allah, dan karenanya kita dapat menyifati Allah dengan sebutan demikian.

Imam Al-Razi menyebut tentang jumlah nama Allah yang sebetulnya tidak terbatas. Akan tetapi beliau juga sempat mengutip riwayat yang mengatakan bahwa nama-nama Allah berjumlah 5000. Seribu disebut dalam al-Quran, seribu termaktub dalam Injil, seribu tertulis dalam Taurat, dan seribu tertera dalam Zabur. Allah membiarkan seribu yang terakhir tetap di lauh mahfuzh. Konon, Allah akan memberitahu nama-nama-Nya yang tersisa itu pada setiap orang yang Ia kehendaki.

Bagi al-Razi, nama-nama tersebut berkaitan dengan nikmat atau hikmah dari Allah yang jumlahnya tak terbatas. Orang yang memperoleh nikmat atau hikmah tersebutlah sebetulnya pada saat yang sama sedang diberi pengetahuan oleh Allah tentang nama-nama-Nya yang sebelumnya hanya disimpan di lauh mahfuzh.

Dari sini sebetulnya Anda dapat menimbang apakah menyebut Allah dengan seruan “yang di atas” itu tepat atau tidak.

Mengikuti argumen kelompok pertama, sebutan tersebut sepertinya masih amat musykil untuk dapat diterima. Dan kalau yang dimaksud dengannya adalah bahwa Allah itu Maha Tinggi (yang sebetulnya tidak merepresentasikan arah atau tempat tertentu, tetapi menggambarkan kedudukan), maka kenapa mesti “yang di atas”? Apakah tinggi selalu berarti di atas?

Berkaca pada kelompok kedua, apakah menyebut Allah sebagai “berada di atas” itu sepadan dengan keagungan (jalaliyah) Allah? Dzat yang disebut-sebut sebagai mustahil memiliki tempat itu? Anda bisa menjawabnya sendiri.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Lukman Hakim Husnan

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) Al-Lathifiyyah Palembang. Pernah nyantri di Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, dan menamatkan studi di IAIN (Sekarang UIN) Raden Fatah Palembang. Pemimpin Redaksi Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV), Kepala Divisi Penerbitan Masjid Agung Palembang, dan Anggota Badan Fatwa Masjid Agung Palembang. Dapat dihubungi di [email protected] atau [email protected]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals