Sang Empirisis: Sebuah Resensi Buku “Filsafat Aristoteles”

“Ia yang tak dapat hidup dalam masyarakat atau yang tidak membutuhkannya karena ia merasa cukup untuk dirinya sendiri harus menjadi binatang buas atau mungkin dewa.”4 min


3

Judul Buku                  : Filsafat Aristoteles 

Penyusun                     : Frederick Copleston

ISBN                           : 978-623-305-001-2

Jumlah Halaman         : 242 halaman

Penerbit                       : Basabasi

Tahun Terbit               : 2020

Ukuran Buku              : 12 x 19 cm

Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman indera manusia. Pemahaman empirisme pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles. Ia berpendapat bahwa persepsi adalah dasar dari ilmu pengetahuan.

Aristoteles merupakan salah satu tiga tokoh filsuf Yunani yang namanya selalu dikenang sepanjang sejarah filsafat. Dua di antaranya adalah gurunya, Plato dan guru dari gurunya, yaitu Sokrates. 

Aristoteles lahir di Stageria pada tahun 384/383 SM. Pada umur 17 tahun, tepatnya tahun 368/367 SM., dan belajar kepada Plato di Akademi. Setelah menjalani studi dan keluar dari Akademi, ia mendirikan sekolah di Lyceum. Murid-muridnya dan para pengikutnya di kemudian hari terkenal dengan sebutan peripatetik.

Peta sejarah Halkidiki kuno yang dibuat pada tahun 1923
Sumber: http://www.my-favourite-planet.de/images/europe/greece/macedonia/stageira/ancient-halkidiki-map-1926-1.jpg 

Pada buku Filsafat Aristoteles akan diceritakan mengenai biografi dan pemikiran-pemikirannya. Buku tersebut merupakan terjemahan dari A History of Philosophy Volume I: Greece & Rome – From The Pre-Socratics to The Plotinus karya Frederick Copleston, yang terbagi menjadi lima bagian. Buku Filsafat Aristoteles sendiri merupakan terjemahan dari bagian keempatnya.

Buku tanpa pengantar ini terdiri dari delapan bab. Bab I berisi tentang kehidupan Aristoteles yang sedikit disinggung pada paragraf dua dan karya-karyanya yang terbagi pada tiga periode. Pertama, periode ketika ia masih berguru kepada Plato, seperti Dialog Eudemus/On the Soul, Protrepticus, Physics dan De anima. Kedua, tahun-tahun aktivitas Aristoteles di Assos dan Mitylene, seperti Dialog On Philosophy, Metaphysics, Etika Eudemias, De Carlo dan De Generatione. Ketiga, periode ssat di Lyceum, seperti Organon, Nicomachean Ethics, Politics, Rethorics, Poetics.

Bab II membahas tentang logika yang diawali dengan tiga pembagian menurut Aristoteles, yaitu filsafat teoretis, filsafat praktis, dan filsafat produktif/puitik. Karya-karya Aristoteles dalam bidang ini yaitu Categories, De Interpretatione, Prior Analytics, Posterior Analytics, Topics, Sophistical Fallacies. Mereka semua digabungkan menjadi satu oleh Andronikus dari Rodes di sekitar tahun 60.

Bab III membahas tentang empat jenis sebab yang berhubungan dengan kebijaksanaan yang terdapat dalam Physics, yaitusubstansi atau esensi dari sesuatu (sebab material)masalah atau subjek (sebab formal), sumber gerak atau penyebab efisien,penyebab terakhir atau kebaikan (sebab final). 

Selain itu, di bab ini menceritakan penyelidikan Aristoteles terhadap pandangan-pandangan para filsuf terdahulu, dari Thales sampai Plato, mengenai sebab selain dari empat sebab tadi yang ceritanya diambil dari buku pertama Metaphysics.

Bab IV, bab terpendek kedua pada buku Filsafat Aristoteles, membahas tentang filsafat alam dan psikologi. Alam sendiri adalah totalitas objek yang bersifat material dan dapat bergerak. Gerakan dalam arti luas terbagi menjadi dua, yaitu “akan-menjadi” dan “telah-berlalu”. Sedangkan gerakan dalam arti sempit terbagi menjadi tiga, yaitu gerak kualitatif, gerak kuantitatif dan gerak lokal. 

Pengandaian dari semua jenis gerak adalah tempat dan waktu. Tempat didefinisikan Aristoteles sebagai terminus continentis immobilis primus atau “penampung tetap, pertama dan terbatas”. Sedangkan waktu adalah jumlah gerakan pertama dan kedua.

Bab V membahas tentang etika. Aristoteles menganggap bahwa etika merupakan cabang ilmu politik atau sosial. Ilmu politik sendiri merupakan cabang dari filsafat praktis. Selain membahas etika, pada bab ini juga membahas tentang kebajikan. Kebajikan dimata Aristoteles adalah pertengahan diantara dua ekstrem, yang satu ekstrem karena berlebihan, yang lain ekstrem karena cacat. 

Dalam buku VIII dan IX Nicomachean Ethic seperti yang dijelaskan oleh Frederick Copleston, Aristoteles mengatakan bahwa persahabatan adalah salah satu kebajikan, atau setidaknya menyiratkan kebajikan. 

Selain itu, persahabatan adalah salah satu kebutuhan utama kehidupan. Persahabatan terbagi dalam tiga jenis, yaitu persahabatan utilitas, persahabatan yang menyenangkan dan persahabatan yang baik.

Persahabatan utilitas, yaitu dimana manusia tidak mencintai sahabat-sahabatnya untuk apa yang ada di dalam diri mereka sendiri, tetapi hanya untuk keuntungan yang diterima dari mereka, misalnya hubungan bisnis. Sedangkan persahabatan yang menyenangkan, yaitu persahabatan atas dasar kesenangan. Persahabatan ini merupakan ciri khas anak muda.

Bab VI, bab paling pendek di buku ini, membahas tentang politik. Bab ini diawali kalimat, “negara ada untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan ini merupakan kebaikan tertinggi manusia.” 

Di bab ini juga ada kalimat yang menarik berbunyi, “Ia yang tak dapat hidup dalam masyarakat atau yang tidak membutuhkannya karena ia merasa cukup untuk dirinya sendiri harus menjadi binatang buas atau mungkin dewa.”

Bab VII membahas tentang estetika. Estetika adalah salah satu cabang filsafat yang membahas keindahan. Kata “estetika” berasal dari bahasa Yunani “αἰσθητικός” (aisthetikos) yang berarti “keindahan, sensitivitas, kesadaran, berkaitan dengan persepsi sensorik.” 

Dalam Problemata, Aristoteles membandingkan antara kecenderungan seksual dengan seleksi estetika, sehingga membedakan kccantikan objektif dengan “kecantikan” yang sekedar merujuk pada hasrat.

Bab VIII, bab terakhir, membahas karakterisasi filsafat Plato dan Aristoteles dalam hubungan tesis (Platonisme) dan antitesis (Aristotelianisme). Platonisme dapat dicirikan dengan merujuk pada gagasan Ada (Being), dalam artian realitas tunduk dan patuh (tetap), Aristotelianisme merujuk pada gagasan Penjadian (Becoming).

Seperti kata pepatah, “tak ada gading yang tak retak”, begitu juga buku ini, terdapat beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut terlihat pada hasil terjemahan yang tidak konsisten. Pada halaman 28 salah satu judul buku Aristoteles ditulis dengan terjemahan “Analisis Posterior”, namun pada halaman 31 ditulis “Posterior Analytics”.

Kemudian juga banyak istilah dalam aksara Yunani dan bahasa Latin yang tidak dijelaskan dengan memberi catatan kaki atau sebagainya. Walaupun seperti itu, hal ini masih bisa diatasi dengan melakukan pencarian di mesin pencari.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk pemula yang ingin belajar filsafat. Namun saran saya agar juga melihat buku aslinya yang berbahasa Inggris untuk perbandingan karena ada beberapa bagian di buku yang terjemahannya terkesan ngawur sehingga tidak mudah untuk memahaminya.

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: 
Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

3

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals