Tan Malaka dan Pandangan Filsafatnya

Tan Malaka, seorang penganut mazhab Materialis, sekaligus seorang muslim yang taat, dan tokoh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.


Sumber ilustrasi: wikipedia.org

Jika kita membahas tentang filsafat, maka begitu banyak tokoh yang membahas hal tersebut. Jika filsafat dibagi menjadi beberapa kutub maka bisa kita petakan mulai dari kutub Barat, Timur dan Islam. Sebut saja dari kutub Barat misalnya Plato, Aristoteles, Socrates, David Hume, Immanuel Kant, Friederich Hegel, dan Karl Marx.

Dari Timur ada Konfusius yang terkenal dengan ajaran Konfusianisme-nya, dan Lao Tzu dengan ajaran Taoisme-nya. Sedangkan dari Islam itu sendiri kita sudah tidak asing lagi dengan tokoh seperti Al-Ghazali, Al-Farabi, Al-Kindi, Ibn Rusyd, Ibn ‘Arabi, dan Ibnu Khaldun. Lantas apa yang dimaksud dengan filsafat itu sendiri? Filsafat menurut Socrates misalnya adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau sebuah perenungan kepada asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia.

Tan Malaka dalam membahas filsafat merujuk pada pendapat Engels yang membagi filsafat kepada dua golongan yaitu kaum idealis dan kaum materialis. Engels sendiri adalah teman dekat Karl Marx yang nantinya akan melanjutkan karya Marx yang sempat tertunda karena ia meninggal dunia. Marx dan Engels adalah dua orang sahabat dekat yang memilki latar belakang yang jauh berbeda. Jika Marx identik dengan kehidupan yang melarat selama hidupnya, maka tidak demikian dengan Engels.

Ia adalah kaum borjuis yang penuh dengan Hedonisme. Ayahnya adalah seorang pegawai yang bekerja di sebuah pabrik yang berada di kota pusat industri, Manchester. Walaupun “berbeda kasta”, namun mereka tetap bekerja sama bahkan berhasil menyusun sebuah buku fenomenal yang berjudul Das Kapital. Engels juga menjadi “mesin ATM”-nya Marx selama beberapa tahun karena Engels menganggap Marx adalah orang yang penting bagi keberlangsungan pemikirannya.

Baca juga: Kekayaan, Ketakwaan, dan Keadilan Versi Kephalos

Kembali kepada pembagian tersebut, kaum Idealis adalah kaum yang mengutamakan ide, konsep dan pikiran. Pengalaman yang bersifat empirisme adalah manifestasi dari ide itu sendiri. Misalnya gambaran seseorang tentang jeruk yang rasanya manis, asam, beratnya setengah kilo, dan berwarna kuning itu hanyalah sebuah ide belaka. Tidak ada yang namanya jeruk yang ada hanyalah ide yang terpatri di dalam otak.

Sedangkan kaum materialis adalah kaum yang mendahulukan materi daripada ide, kebalikan dari kaum idealis. Anggapan mereka pada hakikatnya semua benda adalah materi. “orang butuh makan terlebih dahulu sebelum berpikir”, inilah salah satu dalil penganut mazhab Materialisme. Salah satu tokoh utama dari kaum idealis ini adalah Plato, sedangkan dari materialis adalah Heraklit.

Idealis menganggap materialis adalah kaum yang mengutamakan kesenangan duniawi saja terutama dalam hal perut dan lebih mengutamakan nafsu ketimbang akal. Ini masuk akal karena materialis identik dengan kaum proletar dan idealis dekat dengan kekuasaan. Lihat saja bagaimana Plato yang berpikiran idealis dekat dengan kerajaan dan Karl Marx yang berpikiran materialis begitu lantang menyuarakan aspirasi buruh melawan Kapitalisme.

Salah satu tokoh besar idealisme ini adalah Hume. Hume beranggapan bahwa materi atau benda itu hanyalah pendiskripsian otak manusia. Pemisahan antara ide dan materi ini sebenarnya mudah dipatahkan dengan mencontohkan eksistensi manusia itu sendiri. Jika Hume hanya mengakui adanya ide dan menolak materi, maka pembatalan materi ini berarti pembatalan terhadap eksistensi dirinya yang sejatinya adalah materi.

Di sisi lain Hume juga tidak mengakui eksistensi dunia eksternal. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Tidak salah jika Hume dianggap sebagai tokoh paling radikal dalam mazhab idealis karena sudah tidak mengakui adanya Tuhan. Menurutnya, Tuhan hanyalah perasaan takut yang muncul dalam diri sesoerang. Akhirnya pendapat Hume itu tidaklah eksis dan akhirnya datanglah Immanuel Kant yang agak mirip walaupun tidak selalu sejalan dengan Hume.

Pendapat Hume tersebut mendapat dukungan dari tokoh idealis lainnya seperti Hegel. Menurut Hegel, semua realitas yang ada di dunia ini mulai dari sejarah hingga filsafat terbentuk dari ide yang absolut. Maka sejatinya filsafat muncul karena adanya sebuah ide. Ide yang absolut tersebut akhirnya sejajar dengan metafisik yang coba diraih oleh beberapa tokoh seperti Mahatma Gandhi. Titik persamaanya antara filsafat dengan matafisika yaitu sama-sama berada di luar realitas. Implikasi dari kaum Idealisme ini adalah mengakui adanya roh, cinta, dan hal ghaib termasuk Tuhan. Hal ini berbanding dengan dengan Materialisme yang menafikan keberadaan di luar realitas. Maka tidak salah dikatakan kalau Materialisme identik dengan Atheisme.

Pendapat Hegel akhirnya ditolak oleh tokoh besar Materialisme seperi Karl Marx. Tan Malaka mengambil contoh pandangan Karl Marx dengan adanya sebuah negara. Menurutnya, pergolakan idealektika-lah yang menyebabkan negara itu ada bukan dengan absolute ide. Pergolakan idealektika tersebut bisa dilihat bagaimana pertarungan antara rakyat dengan rajanya di masa Feodalisme, pertarungan antara kaum buruh dengan kapitalis pada zaman Kapitalisme, dan lain-lain. Lihatlah apakah itu akibat dari pertarungan ide? Bukan! Itu adalah pertarungan nyata yang bisa dilihat langsung dengan indera mata.

Perlu diketahui, Karl Marx sendiri adalah murid dari Hegel atau yang biasa disebut dengan Hegelisme. Dengan lahirnya Marxisme maka Hegelisme terpecah menjadi dua bagian, Dialektika Idelaistis dan Dialetika Materialistis. Kedua kubu tersebut berjuang dengan jalan yang berbeda. Jika Dialektika Idealisitis dipegang oleh pemodal dan kekuasaan maka Idealiktika Materialisitis dipegang oleh kaum proletar (kaum buruh).

Seiring berjalannya waktu, paham Idealisme berkembang sampai ke Amerika. Sebut saja idealisme Pragmatisme yang digagas oleh John Dewey yang berpijakan pada pengambilan pikiran pada kaum borjuis. Menurutnya kemajuan yang dirasakan oleh Amerika tidak lepas dari peran kaum borjuis. Hal yang berbeda terjadi di Eropa saat itu. Antara Idealisme dan Materialsme terpecah menjadi dua bagian besar. Jika di Barat Eropa berkembang Materialisme, maka di Timur Eropa filsafat Idealisme masih eksis.

Kedua mazhab tersebut mengalami perkembangan yang signifikan. Sebut saja misalnya Materialis berkembang pesat di Rusia hingga menjadi faham resmi negara tersebut. Tokoh dari mazhab tersebut adalah Lenin dan Plechanoff. Idealisme sendiri pada akhirnya akan bermetamorfosis menajdi beberapa bagian seperti Anarkisme dan Fasisme. Gerakan ini nantinya yang akan menjadi lawan berat partai Sosialis dan Liberalis di Eropa.

Akhirnya menurut pendapat pribadi penulis bahwa Tan Malaka ini lebih cenderung menganut mazhab Materialis. Dalam bukunya yang berju dul Madilog, ia menjelaskan bahwa filsafat yang sesungguhnya adalah filsafat perjuangan yang nyata, bukan hanya melalui ide. Pertentangan masyarakat (dialektika) itulah hakikat dari filsafat itu sendiri, bukan hanya bayangan ide semata.

Ia juga banyak mengambil pendapat Karl Marx yang seorang Materialis dan tidak membantahnya. ditambah lagi Tan Malaka adalah Marxisme. Pendapat beliau di atas mengenai mazhab filsafat adalah pendapat Karl Marx dan Engels. Ia juga aktif terlibat dalam partai Sosialis pada waktu pra kemerdekaan Indonesia. Kita tidak bisa pungkiri bagaimana relasi antara Sosialisme dan Komunisme yang akhirnya berhulu ke Karl Marx yang disebut dengan Marxisme.

Indikasi lain yang mendukung bahwa Tan Malaka penganut Materialisme adalah kesesuaian pemikirannya dengan tokoh Komunis kesohor, Karl Marx. Dalam bukunya Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) sudah jelas bagaimana datuak Tan Malaka membabat habis mazhab Idealis yang percaya hal mistik, roh, penganut agama, dan sesuatu yang bersifat ghaib.

Misalnya orang yang percaya akan keberadaan hantu di hutan adalah kepercayaan primitif. Kepercayaan tersebut menurut datuak adalah sebagai penghambat kemajuan karena orang yang telah ‘mabuk’ dengan hal yang demikian tidak lagi peduli dengan kehidupan duniawinya dengan meninggalkan cara berfikir yang benar, yaitu Materialisme, dialektika dan logika.

Baca juga: Menjadikan Filsafat Sebagai Perilaku Hidup

Di sinilah yang agak membuat penulis menjadi kebingungan. Kalaulah Tan Malaka seorang Materialis yang menentang akan hal yang ghaib mengapa di sisi lain kita juga tahu beliau seorang muslim yang taat? Di dalam bukunya tersebut (Madilog) ia menuturkan senidiri bahwa ia muslim yang taat.

Saat menjelang wafat, ibunya bahkan masih sempat mengkhatamkan surat Yasin berkali-kali. Sholat masih ia lakukan. Ia juga memiliki keilmuan yang baik tentang Islam. Dalam bukunya tersebut ia menjelaskan panjang lebar tentang Islam dan Nabi Muhammad saw. Jadi, mazhab mana yang benar-benar dianut sang datuak? Idealisme-Kah atau Materialisme? Entahlah, saya juga bingung, silahkan masing-masing dari kita menentukan kesimpulannya.

Yang jelas beliau adalah salah satu tokoh besar Indonesia yang namanya jarang disebutkan dalam buku-buku sejarah. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Apakah karena stigmatisasi beliau sebagai seorang komunis yang menyebabkan hal demikian. Yang jelas pemikiran beliau tentang negara perlu kita pelajari. Jauh sebelum Indonesia merdeka ia sudah memikirkan bagaimana negara ini ke depan. Tulisan-tulisannya tentang revolusi kemerdekaan pun sudah banyak kita baca. Lantas masihkah kita terikat dengan stigmatisasi tersebut?.

referensi

Malaka, Tan. 2010. Madilog: materialisme, dialektika, dan logika. Yogyakarta: Narasi.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rizki
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Artipedia

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals