Syekh Mudzakkir (1869-1950 M): Karomah yang Menghidupi

Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah.


Makam Syekh Mudzakkir yang berada di tengah laut - Sayung, Demak, Jawa Tengah. (Dok.Pri)

Pagi itu (02/02) penulis bersama istri mencoba menelusuri pantai utara (pantura) pulau Jawa untuk mengobati rasa penasaran kami. Rasa penasaran itu berkenaan cerita unik tentang adanya sosok kiai karismatik di daerah Demak, Jawa Tengah yang makamnya berada di tengah laut. Bagi kalangan pesantren dan orang pantura agaknya sudah tidak asing lagi dengan sosok tersebut, tapi tidak dengan kami yang baru hampir satu tahun tinggal di Margorejo, Pati. Sosok kiai itu bernama KH. Abdullah Mudzakkir. Masyarakat biasa menyebutnya Mbah Mudzakkir atau Syekh Mudzakkir.

Lokasi makam Syekh Mudzakkir dapat dijangkau dengan menyusuri jalan utama Semarang-Demak, lalu menuju kompleks pantai Morosari di desa Tambaksari, Bedono, Sayung, Demak. Jawa Tengah. Setiba di pantai Morosari, pengunjung masih perlu menempuh jarak sekitar 1 kilometer untuk mencapai makam. Pengunjung bisa berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang terbagi menjadi tiga bagian.

Pertama, pengunjung berjalan sekitar 500 meter dengan sejauh mata memandang terlihat pemandangan laut yang indah. Semilir tiupan angin ditambah pemandangan warga sekitar yang sedang memancing menambah menarik perjalanan.

Kedua, jalan setapak yang terbuat dari papan kayu kurang lebih 200 meter menuju makam.Di tempat ini, pengunjung disuguhi pemandangan hutan mangrove yang begitu indah dan beberapa populasi burung yang berterbangan, sehingga sangat cocok untuk sekedar berfoto mengambil momen.

Ketiga, pengunjung akan menyusuri jembatan kayu sekitar 100 meter yang menghubungkan hutan mangrove dan makam Syekh Mudzakkir yang kanan kirinya adalah laut lepas pantai. Di area sekitar makam angin bertiup semilir, udara terasa sejuk, serta ditambah syahdunya suara deburan ombak. Suasana tersebut sangat cocok dalam menambah kekhusyukan para pengunjung saat mengirimkan dan memanjatkan doa di sekitar makam.

Namun jika tidak ingin menempuh jalur darat dengan jalan kaki, opsi perjalanan juga bisa ditempuh dengan naik ojek motor atau naik perahu bermesin yang tersedia di sekitar lokasi.

Selama berziarah penulis menyaksikan betapa para peziarah datang silih berganti dari berbagai daerah, jumlahnya puluhan bahkan ratusan yang menjejali lokasi makam. Pengunjung terdiri dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orang yang sudah lanjut usia (lansia). Demi kenyamanan bersama, para pengunjung perlu tertib, bergantian, dan tidak berdesak-desakan. Di area makam juga sudah disediakan tempat wudhu, namun kami sarankan sebaiknya wudhu dulu sebelum masuk ke lokasi makam agar tidak terjebak antrian panjang.

***

Lalu, siapa sebenarnya sosok Syekh Mudzakkir itu? Dikutip dari laduni.idMudzakkir merupakan pria kelahiran dusun Jago, desa Wringinjajar, Mranggen, Demak pada tahun 1869. Semasa muda, ia banyak berguru pada ulama dari berbagai daerah. Setelah merasa cukup, sekitar tahun 1900 dia menetap di Tambaksari, Bedono, serta menikahi Latifah dan Asmanah. Beberapa waktu kemudian, ia menikah lagi dengan Murni dan Imronah. Dari keempat istrinya Syekh Mudzakkir dikaruniai 18 anak.

Di tempat kelahirannya, dia mulai melakukan syiar agama Islam. Sebuah masjid pun didirikan. Cara dan strategi penyampaian materi keagamaan Syekh Mudzakkir mudah dicerna, sehingga banyak santri mengaji padanya. Mereka kebanyakan takmir mushala serta masjid di daerah Demak dan sekitarnya. Karena itulah Syekh Mudzakkir sering disebut sebagai pencetak kader kiai. Bahkan semua keturunannya menjadi pemangku masjid dan mushala.

Kiai yang sehari-hari menjadi petani tambak itu juga menguasai ilmu kanuragan (bela diri). Dia kerap dimintai masyarakat untuk mengatasi dan mengobati berbagai penyakit. Namun dia tidak mengharapkan imbalan. Tidak dipungkiri keahlian dan keikhlasan membuat nama Syekh Mudzakir semakin dikenal masyarakat banyak. Sehingga upayanya dalam melakukan syiar agama Islam pun mendapatkan dukungan. Pada tahun 1950, Syekh Mudzakkir meninggal dunia pada usia 81 tahun.

Karomah Sang Syekh

Menurut penuturan Abdul Rochim, salah satu warga Sayung, Demak, lokasi makam Syekh Mudzakkir dahulunya adalah sebuah desa yang mengalami abrasi. Akibat dari abrasi tersebut menjadikan desa tersebut tenggelam. Ajaibnya, meskipun dukuh Tambaksari terkena abrasi, makam Syekh Mudzakkir tetap kokoh berdiri dan tidak tenggelam. Sehingga, saat ini makam Syekh Mudzakkir dikembangkan oleh masyarakat sekitar sebagai obyek wisata religi (ziarah) di wilayah Sayung, Demak.

Menurut hemat penulis, hal tersebut merupakan salah satu karomah dari Syekh Mudzakkir. Meskipun secara jasad beliau telah tiada, tapi secara hakikat beliau masih ada, di antaranya terlihat dari masyarakat yang selalu taat menjalankan agamanya, serta mampu memberikan kehidupan dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat desa Tambaksari yang terkena abrasi. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” Bukankah begitu dijelaskan dalam firman-Nya, QS. Ali Imron: 169?

Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat), sebagaimana dijelaskan dalam muslimoderat.net, menyatakan bahwa karomah merupakan sesuatu yang nulayani adat (berbeda dari sewajarnya), jika dilihat secara kasat mata. Mereka yang mendapat karomah selalu menunjukkan kepribadian baik dan meniru jejak Rasulullah SAW dengan bekal syariah dan baik secara ideologi serta perilakunya. Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah.

Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang mampu meneladani apa yang telah dicontohkan para salafush sholih dan orang-orang baik terdahulu. Sehingga menjadi masyarakat yang selalu diliputi rasa aman, tenteram, dan penuh kedamaian. Wallahu a’lam.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Abdul Ghofur

Master

Abdul Ghofur, S.Pd.I., M.Pd., Guru pada MAN 1 Pati, Jawa Tengah; penelusur jalan kehidupan, masih proses pencarian makna & hakikat hidup yang sejati.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals