Sujud dalam Konteks Filsafat Qur’ani

Sujud merupakan perwujudan sikap ketundukan total kepada Allah SWT, yang tingkat ketudukannya adalah batin yang hakiki


Sumber gambar: gambaranimasipro.blogspot.com

Sujud merupakan suatu sikap ketundukan mutlak kepada tuhan sebagai wujud hasil perenungan mendalam seseorang akan kekuasaan Allah SWT. Qs. As-Sajdah (32) ayat 15-16 yang artinya:

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasnih dan mereka memuji Rabb-Nya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong, lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rizki yang kami berikan.” (Qs. Sajdah:15-16)

Dalam hal ini sujud diperlawankan dengan kibr (sombong, berbangga diri, merendahkan orang atau pihak lain, tidak mengakui eksistensi lain yang terkait dengan dirinya). Sehingga untuk memperkeruh sujud agar tidak tercampur dengan kibr, maka perintah sujud selalu di rangkaikan dengan pembacaan tasbih.

Baca Juga: Sujud dalam Bingkai Tasawuf dan Filsuf

Pola gerakan sujud juga memiliki implikasi kemanusiaan dan sosial yang cukup tinggi, manusia yang bersujud memahaminya secara komprehensif, yang mencakup pola pembumian ibadah ilallah kepada bentuk pengabdian pada sesama manusia.

Di sinilah letak urgensi duduk diantara dua sujud yang diselingi dengan pola “rabbighfirli warhamni wajburni warzuqni wahdini warfa’ni wa’afini wa’fu’anni.” Seluruh doa pada duduk antara dua sujud adalah murni urusan kemanusiaan yang harus di jalaninya. Hanya saja tetap mengidikasikan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani yang juga mengarah pada pemenuhan hajat duniawi dan ukhrawi

Memang yang menjadi salah satu petunjuk penting al-Qur’an adalah diajarkannya penerapan prinsip keseimbangan dan kewajaran dalam semua aspek kehidupan. Al-Qur’an melarang kita bertindak dan bersikap acuh tak acuh, berlebihan, dan melanggar batas yang ditentukan Allah (lihat misalnya, Qs. An-Nahl: 90, al-A’raf :29)

Dalam ayat-ayat tersebut ajaran keseimbangan yang disebutkan dalam perintah untuk berlaku adil di berbagai aspek (bersikap lurus yakni, adil, wajar, dan moderat) adil adalah senantiasa mengindahkan, tidak melampaui batas, tidak berlebihan, dan tidak mengabaikan atau menyiakan kewajiban. Jadi, kita diperintahkan bersikap wajar dan seimbang dalam segala sesuatu, bersikap modern di antara dua sikap dan perilaku ekstrem yang tercela, berlebih-lebihan, dan menganggap kecil atau leceh (Dahlan, 1997: 130-133)

Di samping itu, sujud merupakan perwujudan sikap ketundukan total kepada Allah SWT, yang tingkat ketundukannya adalah batin yang hakiki. Dalam arti inilah sujud menjadi cara pengungkapan dan wujud pemantapan pengakuan dan pernyataan syahadat tauhid yang tulus. Maka agar sujud bisa dilakukan dengan khusyuk dan betul-betul bermakna, pola pengenalan terhadap ketauhidan Tuhan pun perlu diketahui. Ada beberapa cara untuk pemantapan tauhid tersebut.

Baca Juga: Tauhid Akademik: Diskursus Polemik Epistemologi

Pertama, memikirkan dan merenungkan sunatullah serta memikirkan tanda-tanda kebersamaan Allah pada alam semesta (al-ayat al-kauniyyah). Setelah itu memperhatikan dan merenungkan makna, nama, sifat, dan “perbuatan” Allah yang menunjukkan ke-maha-sempurnaan dan ke-maha-besaran-Nya. dengan memikirkan dan merenungkan semua untuk mempertuhankan Allah dan mengabdikan diri semata-mata hanya kepada-Nya.

Kedua, ialah menyadari dan mengetahui hanya Allah SWT yang berkuasa menciptakan dan mengatur seluruh alam ini. Dengan mengetahui hal ini, akan menyadari Tuhan hanya Allah, bukan yang lain.

Ketiga, mengetahui dan menyadari bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi segala kenikmatan yang telah kita terima, baik bersifat lahir maupun batin, keagamaan, keduniaan, maupun keakhiratan dari dalam hati akan muncul rasa ketergantungan kepada Allah baik dalam bentuk rasa takut maupun harap.

Keempat, mengetahui dan memperhatikan pahala yang diterima oleh para wali Allah mereka yang berjuang mempertahankan dan memperjuangkan keyakinan tauhidnya baik berupa pertolongan kenikmatan dunia, maupun surga di akhirat, juga kita perhatikan kesegsaraan kelompok manusia yang tergolong dalam kelompok pendurhaka.

Kelima, mengetahui dan mengenal jenis-jenis thaghut yang menggoda dan memalingkan manusia dari ajaran Ilahi dan bimbingan Rasulullah. Kita juga harus merenungkan tentang pola-pola kekuasaan serta para pengusaha di dunia ini, termasuk kepengurusan makhluk satu terhadap yang lain, sehingga akan memunculkan kesadaran hanya Allah-lah yang paling berkuasa, walaupun terhadap segala yang di pertuhankan manusia selain Allah .

Keenam, dengan mengetahui semua kitab suci yang pernah diturunkan Allah, yang semuanya menegaskan tentang keesaan Allah

Ketujuh, yakni dengan mengetahui dan meyakini, yakni dengan mengetahui dan menyertai kenyataan manusia-manusia pilihan yang memiliki kecerdasan, akal, pengetahuan, pandangan, dan akhlak sempurna seperti nabi dan Rasul Allah, mulai dari Adam AS sampai Muhammad SAW, demikian pula para ulama dan wali yang benar-benar telah menyaksikan ketuhanan Allah.

Kedelapan, ialah menyadarkan pandangan pada dalil dan bukti yang paling nyata serta besar baik terhadap pada penciptaan alam semesta sebagai makrokosmos maupun dalam penciptaan diri manusia sebagai mikrokosmos, bahwa Tuhan hanya Allah SWT.

Kedepalan cara tersebut secara bergantian berkali-kali digunakan al-Qur’an untuk mengajak manusia mengakui dan mengimani secara sepenuhnya akan Allah. Jika perenungan manusia bisa menyeluruh, maka dia akan bisa sampai pada taraf kesujudan dalam keseluruhan kehidupan, yang berakhir dengan ucapan subhanallah, “rabbana ma khalaqta hadza bathila, waqina adzaban-nar.”  Sebagaimana dijelaskan dalam surah Ali Imron ayat 191 yang artinya:

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka peliharalah, kami dari siksa neraka” (Qs. Ali Imran 191)

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals