Bercanda Boleh, Asal Berakhlak

Segala perbuatan haruslah disertai dengan akhlak supaya sendi-sendi kehidupan selalu terlahir dari akal sehat bukannya hawa nafsu yang sifatnya sementara


Akhir-akhir ini degradasi moral kian menjadi-jadi, fenomena keboborokan tersebut sangat memalukan dan memilukan bagi moral anak bangsa. Alih-alih mengikuti tren kekinian yang katanya milenial tetapi itu tidak cukup jika dibilang hanya ikut-ikutan tanpa memfilter mana yang baik dan mana yang buruk. 

Seakan akhlak sudah dilupakan dalam kehidupan sehari-hari, padahal segala perbuatan haruslah disertai dengan akhlak supaya sendi-sendi kehidupan selalu terlahir dari akal sehat bukannya hawa nafsu yang sifatnya sementara dan berkonotasi negatif, termasuk juga ketika bercanda dan bergurau yang memiliki batasan dan aturan mainnya.

Hey… Hey… Hey Tayo… Hey Tayo dia bis kecil ramah (bla, bla, bla), Mas… Mas… Mas… Masuk Pak Eko. Untuk kesekian kali di Indonesia hal yang unfaedah (tidak berfaedah) menjadi trending, terkenal, dan booming. 

Alasannya hanya satu, karena cepatnya informasi dan ketertarikan pengguna teknologi kepada hal-hal tersebut sehingga mereka merekam, memposting dan menjadikannya viral di dunia maya. Maka tidak salah lagi ketika kita buka aplikasi medsos di android akan menemukan video-video prank (baca: candaan) tersebut. 

Dan lucunya prank tersebut tidak hanya dipraktikkan oleh orang remaja dan dewasa saja, tetapi kini anak-anak pun tidak mau kalah dengan membuat prank tersebut tentu dengan kemasan yang tidak kalah lucu dan menarik, alih-alih ketika mereka ditanya alasan mengapa membuat hal tersebut, mereka menganggap dan menjawab bahwa hal tersebut adalah sebuah karya yang patut dinikmati oleh orang lain.

Sudah tidak dipungkiri lagi, hal-hal yang lucu dan candaan itu sudah melekat menjadi karakter di negara kita Indonesia, hal itulah mungkin yang memperkenalkan dan mendeklarasikan ke mata dunia bahwa Indonesia adalah negara ramah dan yang paling sosialis. Namun penulis memahami di sini bercandaan yang dimaksud adalah yang berkonotasi positif yaitu bercanda yang memiliki manfaat dan memiliki tujuan, semisal menghibur orang lain dan sebagainya.

Bercanda atau melucu itu memang wajar sesekali dilakukan oleh seseorang karena di samping menghibur diri sendiri tentu ada unsur menghibur orang lain asal tidak berlebihan, karena panutan kita saja yakni Nabi Muhammad Saw juga pernah melakukan hal tersebut. Lantas bedanya dengan kita sekarang apa? Dan apa yang perlu diteladani dari beliau?

Disadur dari sebuah artikel, diceritakan bahwa dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. 

Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim).[1]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih) 

Adapun contoh bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dengan salah satu dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, No hadits 70)

Begitulah Rasulullah Saw meskipun beliau adalah seorang Nabi, Rasul dan kepala Negara, beliau memberikan gambaran kepada umatnya bahwa sejatinya orang yang beragama tidak hanya memahami agama secara formal dan kaku saja, ada sisi-sisi lain yang harus diperhatikan juga, salah satunya menjaga keutuhan dan kedekatan hubungan dengan orang lain, yakni dengan menampilkan pribadi yang ramah, saling menyenangkan (Idkhal as-Surur), dan saling berbagi kebaikan sehingga mampu berbaur dengan orang lain. 

Pada konteks Nabi, beliau memberi contoh kepada kita dengan bercanda yang positif dan ada manfaatnya bagi orang lain. Dengan begitu agama ini akan dipahami sebagai identitas yang ramah, unik dan penuh ketentraman.

Jika ditarik benang merah bercanda konteks kekinian dengan bercanda ala Rasul, tentu kita bisa dapati beberapa perbedaan, di antaranya Rasulullah Saw sangat memerhatikan adab ketika beliau bercanda dengan orang lain, jika ia berkumpul dengan para sahabat yang notabenenya sebaya, beliau akan berbicara sesuai dengan adab seseorang kepada teman sebayanya yakni saling menghormati, menjaga perasaan dan tidak menjelek-jelekkan orang lain. 

Contoh lainnya juga kepada anak kecil beliau sama sekali tidak pernah bercanda yang membuat anak kecil tersebut sakit hati, begitupun terhadap orang yang lebih tua beliau sangat menjaga tata karma sebagai seorang yang lebih muda. Karena itu Beliau pernah bersabda “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang dituakan di antara kami” HR at-Tirmidzi.

Berbeda dengan candaan di zaman sekarang ini, bercanda seakan dilakukan dengan seenaknya, seorang anak kecil tidak menempatkan dirinya sebagai seorang yang seyogyanya bersikap hormat, sopan kepada orang yang lebih dewasa, begitupun sebaliknya. Sehingga penulis berani mengatakan akhlak yang sejatinya diajarkan oleh Rasulullah Saw hanya menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya. Atau bahasa Arabnya wujuduhu ka ‘adamihi (ada tapi tidak dianggap/diamalkan). 

Kemudian perbedaan yang kedua bercandanya Rasul tidak pernah menyinggung perasaan mukhotobnya, berbeda dengan zaman sekarang bercandanya sangat tidak wajar, karena membuat korbannya sakit hati. Bahkan lebih parahnya bercandaan menjadi bullying yang beujung menjadikan korbannya minder, tidak percaya diri, dan akhirnya merasa bersalah bahkan bisa jadi bunuh diri.

Oleh karena itu pada kesimpulan penulis di sini bahwa bercanda itu boleh, tidak ada yang melarang bahkan Rasul saja pernah bercanda dengan istri, cucu, para sahabat dan orang yang lebih tua darinya asal dalam batas yang wajar dalam artian memerhatikan etika, dan norma-norma yang berlaku, sehingga dapat memfilter mana yang menurut kita bercanda yang baik dan mana yang tidak baik.

[1] https://muslimah.or.id/116 diakses pada tanggal 21 November 2018

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Andy Rosyidin

Andy Rosyidin adalah alumnus MIN 5 Buleleng,  MTsN Patas,  MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo Program Keagamaan angkatan 21(el-fuady)  dan saat ini tengah menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Penulis asal Penyabangan,  Gerokgak, Buleleng, Bali ini adalah mahasiswa yang sering bergelut dengan dunia kepenulisan terutama Essay dan Paper. Saat ini menetap di Ponpes LSQ Ar-Rahmah Bantul Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui Email: [email protected] dan No Hp: 081238128430

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Tak Berkategori

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals