Darurat Berita Hoaks Seputar Muslim Uighur

Dengan turut menyebar hoaks, berita yang sesungguhnya akan menjadi kabur dan umat Islam sendiri yang akan terkena getahnya. Jadi, stop hoaks!


Sebarkan! Viralkan! Kata-kata tersebut tentu tak asing Anda baca dalam berbagai pesan di media sosial. Tak jarang setelah ada imbauan untuk menyebarkan, Anda akan diancam. Bila tak menyebarkan informasi tersebut ke sejumlah orang, Anda akan menyesal.

Seperti ditulis penulis buku yang juga ustad pada salah satu laman media sosialnya, “Semoga yang meyakini Muslim Uighur baik-baik saja, mereka dan keluarganya akan sebaik-baik saja Muslim Uighur”. Sebuah ancaman terselubung.

Hal yang sama terjadi pada grup Whatsapp saya tiga minggu belakangan ini. Pesan berantai yang sedang populer adalah kekejaman pemerintah Tiongkok terhadap Muslim Uighur. 

Hoaks dalam Pesan Media Sosial
Hoaks yang ada mulai dari tulisan opini, foto, sampai video dibagikan tak kenal waktu. Misalnya, tulisan broadcast mengenai pemerkosaan terhadap sejumlah perempuan etnis Uighur agar berpindah agama, foto leher laki-laki digantungi, sampai video perempuan dicekik polisi. 

Semua ditulis sebagai bagian dari kekejaman pemerintah Tiongkok kepada Muslim Uighur. Ternyata setelah dicek, semua hal tersebut bohong alias hoaks! Tapi, sudah banyak sekali pembaca terlanjur mempercayai pesan tersebut dan turut mengecam.

Awal penyebaran pesan dipicu laporan Wall Street Journal terbitan 11 Desember 2019 yang menyoroti pemerintah Tiongkok membujuk organisasi Muslim di Indonesia untuk menutup mata terhadap tindakan pemerintah Tiongkok terhadap Muslim Uighur. 

Tuduhan ini datang setelah sejumlah ormas menerima donasi, termasuk MUI, NU, dan Muhammadiyah. Termasuk, pembiayaan ketika mengunjungi Xinjiang, Tiongkok, lokasi tempat Muslim Uighur bermukim pada Februari 2019 lalu.

Bola semakin liar karena cuitan Mesut Ozil di Twitter pada tanggal 13 Desember 2019. Pesepak bola berdarah Turki namun berkewarganegaraan Jerman dan kini merumput di Arsenal ini mencuit keprihatinan terhadap penyiksaan Muslim Uighur dan diamnya Muslim yang lain.

Di Tanah Air, tersebar informasi seakan-akan dalam cuitan tersebut Mesut Ozil menyindir Indonesia yang mayoritas Muslim dan wapresnya seorang ulama.

Informasi yang dikategorikan hoaks ini membuat masyarakat mengecam pemerintah Indonesia. Mengapa hoaks? Karena Mesut Ozil tidak pernah menyebut Indonesia dalam cuitannya.

Tipe-Tipe Hoaks
Dikutip dari laman medium.com (Fake News its Complicated), ada tujuh tipe informasi yang dapat dikategorikan hoaks.

Satir atau parodi adalah informasi yang tak mengandung niat jahat namun bermaksud mengecoh pembacanya. Konten menyesatkan adalah penggunaan informasi menyesatkan untuk membingkai suatu masalah.

Konten palsu berniat meniru konten asli. Konten buatan adalah konten baru yang sepenuhnya bohong serta dibuat untuk menyesatkan dan menimbulkan keonaran. Koneksi palsu membuat isi tulisan tidak sesuai atau tidak berhubungan dengan judul foto, video, atau tulisan di dalamnya.

Informasi palsu adalah isi tulisan yang benar kemudian dipadukan informasi yang salah. Konten manipulatif adalah konten yang benar kemudian dimanipulasi untuk menyesatkan pembacanya.

Cepatnya penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan membuat kebencian meningkat serta ajakan untuk memboikot produk Tiongkok. 

Belakangan tersebar informasi tentang jurnalis Amerika Serikat, Fira Aziz yang menyatakan bahwa aplikasi Tik Tok membangun kamp konsentrasi di Uighur. Setiap unduhan aplikasi tersebut berkontribusi terhadap pembangunan kamp konsentrasi. Informasi tersebut menyertakan link CNN Indonesia. 

Pada bagian akhir, ada ajakan memviralkan informasi ini dan ancaman bila tidak menyebarkannya. Bila kita lihat lebih teliti lagi, ini adalah salah satu informasi palsu. 

Isi yang benar (link dari CNN Indonesia dan Tik Tok adalah aplikasi asal Tiongkok) telah dipadukan dengan informasi bohong (tidak ada jurnalis Amerika bernama Fira Aziz dan Tik Tok tak membangun kamp konsentrasi di Uighur).

Teknik Menyebarkan Hoaks

Teknik-teknik komunikasi berupa propaganda seperti ini bukanlah hal baru. Teknik ini terkenal ketika Menteri Penerangan dan Propaganda Nazi Jerman, Joseph Goebbels, menerapkan konsep big lie.

Goebbels menerapkan big lie dalam rangka propaganda yang dilakukan negara kepada rakyat. Kini, big lie dipakai segelintir pihak membentuk opini. Kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi suatu kebenaran dan kebohongan yang sempurna adalah kebenaran yang sedikit dipelintir.

Seringkali dalam penyebaran pesan Whatssapp tersebut, orang tidak mau susah-susah mengecek kebenarannya. Bila melihat pada konsep post-truth, keyakinan pribadi dan emosi lebih kuat daripada logika dan fakta, inilah yang membuat hoaks berkembang.  Apalagi bila menyangkut  kesalahan pemerintah.

Banyak alasan untuk tidak mengecek informasi ini, di antaranya kecenderungan mendukung suatu tema. Bila disebar orang terkenal pasti benar. Fanatisme terhadap ustad tertentu sehingga dianggap tidak perlu klarifikasi juga mendukung tindakan ceroboh ini.

Niat menyebarkan “kebenaran” juga menyertai distribusi hoaks. Karena itu, meskipun aneh namun informasi tetap disebarkan karena dianggap benar. Alasan lain, yaitu semakin cepat informasi itu tersebar, pelakunya merasa semakin keren dan update.

Penanganan Hoaks

Cara paling efektif  dalam menangani hoaks adalah menggugah kesadaran berliterasi dalam media sosial. Mengecek informasi sebelum menyebarkannya harus menjadi benteng pertama. 

Hal ini mungkin dirasa mudah. Namun, ternyata belum tentu setiap orang yang dianggap terpelajar mampu mengecek informasi ini.

Bahkan dalam grup Whatsapp perkuliahan pascasarjana, masih ada profesor menyebarkan konten hoaks. Artinya, tingkat kesadaran literasi dalam bermedia sosial tak setara dengan tingginya tingkat pendidikan seseorang.

Apabila tidak dapat mengecek sendiri informasi yang beredar, Anda dapat mengikuti grup anti hoaks di media sosial. Biasanya, tidak butuh waktu lama untuk memperoleh klarifikasi benar atau tidaknya informasi dalam grup tersebut.

Kesadaran untuk menemukan kebenaran harus dipupuk sejak dini. Hingga di kemudian, tidak perlu muncul pertanyaan nyinyir ketika diberitahu bahwa tulisannya mengandung unsur hoaks, “Mana yang lebih mendekati cara Nazi, informasi hoaks Tik Tok atau Perlakuan Tiongkok ke Muslim Uighur?”

Ketidakadilan yang diterima Muslim Uighur memang patut disuarakan namun bukan melalui hoaks. Dengan turut menyebar hoaks, berita yang sesungguhnya akan menjadi kabur dan umat Islam sendiri yang akan terkena getahnya. Jadi, stop hoaks!

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Lasti Martina, S.Sos
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) 3. Pemerhati komunikasi sosial.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals