Menyongsong Indonesia Emas 2045 Dengan Pendidikan

Dengan pendidikan, Indonesia emas 2045 akan menjadi kenyataan dan pada akhirnya manfaat pendidikan akan dirasakan oleh semua warga RI untuk jangka waktu yang panjang


Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam pembangunan negara, maka tak heran jika Pemerintah saat ini tengah serius mengembangkan sistem yang baik untuk keberlangsungan pendidikan di negeri ini. Beberapa bulan lalu dunia pendidikan Indonesia sempat dihebohkan dengan sistem zonasi PPDB . Para wali peserta didik untuk sekarang masih banyak yang berkeluh kesah, mengkritik, bahkan memprotes sistem yang berlaku. Tetapi bukan berarti sistem zonasi tidak mendapat dukungan sama sekali, nyatanya  malah banyak yang mendukung sistem tersebut seperti dilansir dari Republika.co.id (5/7/2019). Retno Listyarti selaku komisioner KPAI mengatakan, banyak masyarakat yang mendukung sistem zonasi PPDB karena total pengaduan yang diterima oleh pihaknya hanya 9,5 persen yang menolak.

Selain sistem zonasi untuk pembangunan negara dengan pemerataan SDM mulai pedesaan hingga perkotaan, pemerintah juga menerapkan kurikulum K13 untuk pendidikan dasar sampai menegah atas. Yang nggak enak itu sewaktu penulis masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), seolah-olah kami ini seperti bahan percobaan saja. Bagaimana tidak, kurikulum K13 kala itu hanya berjalan selama satu semester kemudian kembali lagi ke kurikulum KTSP 2006. Dan selanjutnya kurikulum K13 mulai dijalankan kembali setelah PPDB di semester awal tahun pelajaran baru 2015/2016.

Sistem zonasi dan kurikulum K13 merupakan kiat-kiat pemerintah untuk menyiapkan SDM yang unggul dengan menggunakan inovasi baru untuk menyongsong Indonesia emas 2045—meskipun keduanya perlu ada evaluasi serta perbaikan lebih lanjut. Menurut Mahfud MD, untuk menyongsong Indoesia emas 2045, yang dibutuhkan Indonesia sekarang ialah manusia yang terdidik. Perjalanan menuju Indonesia emas 2045 mestinya tidak bisa lepas dari revolusi Industri 4.0 yang serba modern seperti sekarang karena fase ini tidak lain sebagai suatu keniscayaan.

Di desa-desa mungkin kata-kata bijak seperti “Nek pingin ketularan wangi mangka kancanana wong bakul minyak wangi” sudah lazim didengar. Lebih kurang kata tersebut mengandung maksud jika ingin tertular orang yang baik maka bertemanlah dengan orang yang baik. Pun siapa saja yang ingin pintar maka bertemanlah dengan orang yang pintar. Ini sejalan dengan sistem zonasi yang meniadakan sekolah favorit yang katanya diisi oleh anak-anak pintar. Dengan tidak adanya sekolah favorit maka mau tidak mau harus mencampur anak-anak yang notabene pintar dengan yang belum pintar supaya sama-sama menjadi pintar.

Pendidikan karakter dalam bingkai K13 sangatlah dibutuhkan untuk mengatasi keterasingan moral yang mengancam negara akibat dampak revolusi industri 4.0 yang di dalamnya penuh dengan teknologi canggih. Belakangan ini keterasingan moral itu mulai nampak jelas akibat revolusi industri 4.0 itu sendiri. Dilansir dari okezone.com (26/1/2019), data KPAI tahun 2018 menunjukkan ada beberapa kasus di antaranya: anak menjadi korban kejahatan seksual online sebanyak 116 kasus, anak sebagai pelaku kejahatan seksual sebanyak 96, anak menjadi korban medsos dan pornografi sebanyak 134, anak sebagai pelaku kepemilikan media pornografi sebanyak 112, dan selebihnya persolan anak tentang bully yang mencapai angka 221 kasus yang meliputi anak korban bully di medsos sebanyak 109, dan anak pelaku bully di medsos sebanyak 112.

Komposisi antara sistem zonasi PPDB dan kurikulum K13 saya rasa sangatlah pas, karena sistem zonasi PPDB lebih kepemerataan SDM—mulai dari peserta didik, guru, termasuk sarana, dan prasarana—dan kurikulum K13 lebih kepembentukan pendidikan karakter. Perpaduan antara sistem zonasi PPDB dan kurikuum K13 diharapkan dapat memunculkan intelektualitas dan integritas moral warga negara. Dan akan lebih baik jika pendidikan di Indonesia mewajibkan belajar warganya menjadi 16 tahun. Tetapi hal itu pasti akan menjadi PR yang besar bagi bangsa Indonesia.

Sistem zonasi PPDB dan kurikulum K13 sudah sangatlah baik, tetapi perlu adanya perbaikan untuk membentengi warga negara khususnya peserta didik dari keterasingan moral dan kebodohan. Dan untuk saat ini yang dibutuhkan Indonesia ialah SDM yang terdidik dengan moral yang baik dibarengi dengan pemahaman yang baik juga atas revolusi industri 4.0 sebagai kiat menyongsong Indonesia emas 2045.

Dengan pendidikan, Indonesia emas 2045 akan menjadi kenyataan dan pada akhirnya manfaat pendidikan akan dirasakan oleh semua warga RI untuk jangka waktu yang panjang.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Andika Setiawan
Andika Setiawan ialah orang yang perlu banyak belajar lagi. Aku meminta restu Ibu, maka aku ada.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals