Renungan Surat Adh-Dhuha

“..Keheningan dan kesunyian malam tidak hilang begitu saja. Dalam keheningan itu kita tidak sendirian..”


Surat adh-Dhuha berada pada urutan ke-93 dari 114 surat dalam mushaf Alquran. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jundub bahwa Rasulullah saw merasa kurang enak badan, sehingga tidak shalat malam dalam satu atau dua malam. Seorang perempuan datang kepada beliau seraya berkata, “Hai Muhammad, aku melihat setanmu (maksudnya Jibril) telah meninggalkan engkau.” Maka Allah swt menurunkan ayat pertama sampai dengan tiga surat ini menegaskan bahwa Dia tidak membiarkan Nabi Muhammad saw dan tidak membencinya.

Demi cahaya pagi yang gemilang. Dan demi malam bila sedang hening. Tuhanmu tidak meninggalkan kau dan tidak membencimu. Dan sungguh, yang kemudian akan lebih baik bagimu daripada yang sekarang. Dan Tuhanmu kelak memberimu apa yang menyenangkan kau.  Bukankah Dia mendapati kau sebagai piatu, lalu Ia melindungi? Dan Dia mendapati kau tak tahu jalan, lalu Ia memberi bimbingan. Dan Dia mendapati kau dalam kekurangan, lalu Ia memberi kecukupan. Karenanya, janganlah kau berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim. Dan orang yang meminta, janganlah kaubentak. Dan nikmat Tuhanmu, hendaklah kausiarkan! (QS Adh-Dhuha/93:1-11).

Surat adh-Dhuha ini terdiri atas empat bagian. Bagian pertama, ayat pertama dan kedua, berupa sumpah Allah swt.  Bagian kedua, ayat ketiga sampai dengan ayat kelima, janji dan pesan Allah swt yang disumpahkan. Bagian ketiga, ayat keenam sampai dengan ayat kedelapan, bukti-bukti anugerah Allah swt terdahulu. Bagian terakhir, ayat kesembilan sampai dengan ayat kesebelas, konsekuensi atas segala anugerah terdahulu dan yang dijanjikan di masa depan.

1. Demi cahaya pagi yang gemilang,
2. Dan demi malam bila sedang hening,

Allah swt bersumpah menggunakan dua dari antara tanda-tanda kebesaran-Nya di dunia, yakni waktu dhuha dengan pancaran cahayanya dan waktu malam dengan kegelapannya. Saat-saat sinar pagi mulai muncul, sejak matahari terbit hingga tengah hari, merupakan bentuk tumbuhnya kehidupan rohani dan semangat kerja yang sebenarnya. Keheningan dan kesunyian malam tidak hilang begitu saja. Dalam keheningan itu kita tidak sendirian.

3. Tuhanmu tidak meninggalkan kau dan tidak pula membencimu.
4. Sungguh, yang kemudian akan lebih baik bagimu daripada yang sekarang.
5. Dan Tuhanmu kelak memberimu apa yang menyenangkan kau.

Terhentinya wahyu beberapa waktu mengandung maksud tertentu. Allah swt tidak meninggalkan Nabi Muhammad saw, apalagi membencinya. Allah swt juga tidak meninggalkan muslim di mana pun ia berada, dan tidak pula membencinya, selama ia mengikuti teladan Nabi saw dan melaksanakan pesan-pesan Allah swt.

Keadaan Nabi Muhammad saw saat itu dan keadaan kita sekarang lebih baik daripada sebelumnya. Setiap saat kemulian Nabi Muhammad saw dan kemuliaan kita bertambah dan semakin tinggi. Allah swt akan menampakkan nikmat-Nya dengan menganugerahkan wahyu kepada Nabi-Nya dan memenangkan agama kita sehingga kita senang.

Akhirah itu kehidupan setelah kiamat, sedangkan ula kehidupan dunia ini. Kebahagiaan duniawi itu terbatas, sedangkan kebahagiaan ukhrawi melimpah. Wahyu yang akan datang lebih baik dan melimpah bagi Nabi Muhammad saw daripada wahyu yang sebelumnya. Siapa pun yang mengikuti jejak-jejak Nabi Muhammad saw akan memperoleh kesudahan yang baik.

Ayat kelima tentang pemberian Allah swt kepada Nabi Muhammad saw sehingga beliau puas. Karunia Allah swt yang akan diberikan kepada Nabi Muhammad saw tak terhingga. Demikian pula buat umatnya.

6. Bukankah Dia mendapati kau sebagai piatu, lalu Dia melindungi?
7. Dan Dia mendapati kau tak tahu jalan, lalu Dia memberi bimbingan.
8. Dan Dia mendapati kau dalam kekurangan, lalu Dia memberi kecukupan.

Allah swt mengingatkan akan anugerah yang telah diberikan kepada Nabi Muhammad saw. Bukankah Allah swt mendapati Nabi Muhammad saw yatim yang membutuhkan perlindungan yang melahirkan rasa aman dan tenteram, lalu Dia menanggung segala urusan dan kebutuhannya dan memeliharanya?

Allah mendapati Nabi Muhammad saw dalam keadaan bingung dan goncang, sedangkan dia telah yakin bahwa kaumnya  tidak berada di jalan yang benar, lalu Dia memberikan petunjuk kepadanya.

Allah mendapati Nabi Muhammad saw dalam keadaan miskin dan serba kekurangan, sebab orang tuanya tidak meninggalkan harta warisan. Kemudian Allah membuatnya menjadi kaya melalui perniagaan yang banyak laba. Betapa besar anugerah Allah kepada Nabi Muhammad saw. Masa depan yang cemerlang, kebahagiaan, dan kepuasan batin.

9. Sebab itu, janganlah kau berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim.
10. Dan orang yang meminta, janganlah kau bentak.
11. Dan nikmat Tuhanmu, hendaklah kausiarkan.

Setelah tiga ayat yang menyebutkan tiga anugerah Allah swt kepada Nabi Muhammad saw, tiga ayat terakhir itu mengungkapkan tiga konsekuensinya.

Pertama, hendaklah beliau mensyukuri anugerah tersebut dengan berbuat baik terhadap makhluk-Nya; menghindari perilaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menindas dan menghinanya, serta mengangkat harga diri mereka dengan budi pekerti yang santun dan akhlak mulia, sehingga menjadi anggota masyarakat yang baik dan bermanfaat. Kedua, tidak menghardik orang-orang yang meminta belas kasihan dan bimbingan. Ketiga, berbagi nikmat kepada orang-orang yang membutuhkan.

Dari Fajar Kewahyuan
Orang tak beriman itu menebar sindiran
Muhammad telah ditinggalkan
Roh Kudus pun menjelma membawa pesan
Demi cahaya pagi penuh pengharapan
Dan malam bila telah menjadi peraduan
Tuhanmu takkan membiarkan
Esok akan lebih menggembirakan
Tinimbang yang tengah kau rasakan
Tuhan akan memberimu kesenangan
Kau piatu, Dia memberi perlindungan
Kau tak tahu jalan, Dia memberi bimbingan
Kau kekurangan, Dia memberi kecukupan
Sayangilah anak yang kurang mapan
Berilah siapa yang membutuhkan
Sebarkanlah nikmat Tuhan
Kemenangan perjuangan
Pasti menjadi kenyataan.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals