Perspektif Al-Qur’an tentang Pemecah Belah Agama

Kita sebagai umat beragama harus mampu menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam agama itu sendiri


Sumber gambar: Khotbahumat.com

Indonesia merupakan negara yang unik karena memiliki berbagai keanekaragaman, dimulai dari daerah, suku, agama, dan bahasa, telah tersimpan dalam kesadaran kebangsaan yang lebih luas. Hal ini sangat sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia yakni, Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu jua. Hal ini dapat diartikan bahwa dengan adanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berarti bangsa Indonesia menerima dan mengakui bahwa Indonesia merupakan negara yang beragam dan memiliki kultur yang berbeda-beda.[1]

Pemecah Belah Agama dalam Al-Qur’an

Agama adalah sesuatu yang sakral tentu tidak bisa dijadikan alat propaganda untuk menciptakan permusuhan atau sebagai permainan. Banyak dari kita yang masih belum memahami apa hakikat agama, sehingga banyak tindakan yang tidak mencerminkan pesan agama sering dilakukan dengan dalih agama, hal tersebutlah yang dapat memecah belah agama. Hal ini sudah tercantum dalam QS. Al-An’am:159 :

اِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍۗ اِنَّمَآ اَمْرُهُمْ اِلَى اللّٰهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”. (QS. Al-An’am: 159).

Baca Juga: Pesan Moderasi Beragama bagi Generasi Milenial

Mayoritas mufassir berpandangan ayat ini bersifat umum mencakup semua orang kafir, pelaku bid’ah, dan mereka yang mengerjakan perkara yang tidak Allah perintahkan. Menurut asy-Syaukani dan al-Qinuji, ungkapan ayat ini memberikan makna umum sehingga tercakup di dalamnya semua kelompok Ahlul Kitab, kelompok musyrik, dan para pelaku bid’ah dalam pemeluk Islam.[2]

Pendapat senada juga disampaikan oleh Ibnu Katsir, yang menegaskan bahwa lahiriah ayat ini meliputi semua orang yang meninggalkan agama Allah dan yang menyalahinya. Sesungguhnya Allah Swt. mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk mengalahkan semua agama.[3]

Islam dan Misi Kedamaian

Islam adalah agama yang penuh dengan cinta kasih, ramah bukan marah, damai bukan pertikaian. Oleh karenanya misi dari pada agama itu adalah menciptakan kedamaian dan kerukunan di antara perbedaan yang ada, bukan justru sebaliknya, saling mencaci dan mencela satu sama lain dengan mengganggap agama lain adalah salah dan agamanyalah yang paling benar. Hal semacam inilah yang memicu munculnya ketidakharmonisan dan konflik antar-agama. Sebagaimana firman Allah SWT:[4]

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya:“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik setiap pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb mereka kembalinya mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Qs. Al-an’am: 108).

Dapat disimpulkan bahwa ayat ini turun, untuk mendorong umat Islam untuk bersatu dan tidak memecah belah agama atau mengada-adakan bid’ah yang sesat.

Larangan Berpecah Belah dalam Al-Qur’an

Marilah kita sebagai manusia saling menghargai satu sama lain, terutama dalam hal beragama, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang memecah belah agama. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Al-Imran:103). 

Baca Juga: Mengurai Konflik Etno-Religius dengan Pengalaman Keberagamaan Lokal

Dalam ayat lain dijelaskan, Allah SWT menyatakan bahwa ketika ada perpecahan, itu adalah kebiasaan bagi kaum musyrik. Permusuhan bukanlah kebiasaan orang beriman, seperti firman Allah dalam QS.Ar-Rum :31-32:

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ(31) مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ(32)

Artinya: “Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah(31), yaitu orang-orang yang memecahbelah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (32).” (QS. Ar-Rum:31-32).

Nilai Keberagamaan di Akhir Zaman

Pemecah-belah agama di akhir zaman ini bisa dipisahkan menjadi dua, ada dari pihak musuh Islam (Israel dan sekutunya), dan ada yang dari dalam Islam sendiri. Yang paling berbahaya justru yang berasal dari pihak yang mengaku Islam, karena mereka beroperasi sebagai penceramah yang langsung bisa menggiring umat, baik lewat ceramah offline maupun lewat media sosial. Mereka menggiring seakan membela agama padahal sedang mengajak untuk memecah belah agama. Mereka merasa paling benar aqidahnya dan kelompok lain adalah salah, padahal urusan pengadilan aqidah adalah mutlak urusan Allah. Mereka tidak sadar bahwa kita juga yang akan dihakimi, dan mereka tidak sadar sedang mengangkangi hak Allah.[5]

Jika ini terus berlanjut, negara akan hancur. Kita sebagai umat beragama harus mampu menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam agama itu sendiri. Di antaranya adalah nilai-nilai toleransi, perdamaian dan cinta kasih di tengah pluralisme yang ada. Dengan konsep ini akan tercipta kesatuan dan kerukunan yang akan menghasilkan kekuatan yang besar, dan dari kekuatan yang besar ini akan tercipta perdamaian.

Refrensi:

[1]Magda Zefanya, “Agama dan Kebhinekaan”

[2]Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 2, 231: al-Qinuji, Fath al-Bayân, vol. 4, 288

[3]Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 2, 429.

[4] Ana Mardiana, “Agama Pemersatu Bukan Pemecah Belah”. http://mahadaljamiah.uinjkt.ac.id/?p=241

[5]https://analisaakhirzaman.com/2019/10/29/pemecah-belah-agama/

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
11
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
12
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
6
Wooow
Keren Keren
12
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Al-Qur'an dan Hadis

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals