Pendidikan dan Etika

Pendidikan dan belajar pada zaman Rosulullah SAW sangat berbeda dengan yang sekarang, pada zaman itu tidak mengenal lembaga pendidikan yang seperti sekarang


Belajar adalah kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan seseorang dan mengasah dirinya untuk mempersiapkan pada masa yang akan datang. Tantangan semakin hari akan semakin berganti dan akan bervariatif dalam penanganannya, dan manusia dituntut untuk menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapinya. Permasalahan dapat diatasi dengan baik jika selalu berpegang teguh atas ilmu pengetahuan dan digunakan dengan tepat.

Negara di belahan manapun akan terus memperbaiki kualitas pendidikan dan belajar setiap warganya dan harus mendapatkan pendidikan yang layak sehingga tidak tertinggal dengan informasi lokal dan global, semua disiapkan dengan baik dan dirancang sedemikian rupa agar semua mendapatkan hak yang sama dalam meningkatkan kemampuan dirinya, dan menyiapkan guru-guru terbaik untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengajar yang memberikan informasi pengetahuan.

Pendidikan dan belajar pada zaman Rasulullah SAW sangat berbeda dengan yang sekarang. Pada zaman itu tidak mengenal lembaga pendidikan yang seperti saat ini dengan banyak gedung dan ditempatkan di satu titik sehingga siswa dan guru akan berkumpul dan melaksanakan kegiatan belajar di tempat tersebut, yang utama pada zaman Rasulullah adalah pendidikan dan belajar kesopanan dalam mencari ilmu.

Kegitan mendatangi guru itulah sebagai contoh ikhtiromnya seorang murid terhadap gurunya dan membuktikan betul bahwa ilmu itu bagaikan cahaya yang akan menerangi semua orang di sekitarnya, demikian juga ilmu itu tidak akan diberikan kepada orang-orang yang maksiat kepada Sang Pencipta. Demikian ilmu begitu agungnya sehingga harus dimulai dengan belajar etika dan kesopanan seseorang terhadap guru dan ilmunya.

Pendidikan dan kegiatan belajar di lingkungan kita pastinya berbeda, dengan adanya gedung sekolah sebagai tempat berkumpulnya semua peserta didik dan guru yang akan memberikan pembelajaran, transfer pengetahuan, pengalaman dan berbagai macam jenis keilmuan yang lainnya, bahkan kita sudah merasakan mana yang berpendidikan dan mana yang tidak berpendidikan dengan melihat gelar sarjananya.

Mendengar kalimat di atas tentu kita sadar betul bahwa pendidikan dan pengetahuan itu sangatlah penting, akan tetapi harus kita garis bawahi bahwa gelar akademik yang diraih bukan segalanya untuk dibanggakan di hadapan orang lain yang belum merasakan bangku sekolah atau yang belum memiliki kesempatan melanjutkan akademiknya dalam belajar. Hal ini akan menjadi tabu bagi setiap orang jika sudah membandingkan-bandingkan orang lain.

Memiliki gedung mewah, sarana dan prasarana yang lengkap tidak menutup kemungkinan banyak juga murid yang belum memikili kemampuan yang diharapkan orang tua atau murid tersebut. Jika kesopanan dan etika kepada guru semewah apapun fasilitas yang disuguhkan kepada murid pasti akan mengetahui penggunaan dan manfaatnya karena tujuan utama yang akan dilakaukan pada saat di sekolah adalah belajar.

Terus belajar mencari pengetahuan tentang akademik kepada setiap orang ini adalah hal yang sangat positif dan harus dilakukan setiap saat bahkan di luar lingkungan sekolah harus terjadi komunikasi dua arah agar pengetahuan terus bertambah dan terus berkembang serta memiliki kemampuan dalam menganalisis segala hal yang diperlukan oleh dirinya sendiri, dengan demikian dia memiliki bekal yang cukup.

Sekarang timbul pertanyaan, Pertama: Apakah perlu guru dan murid mendatangi sekolahan?, Kedua: Apakah guru cukup diam di tempatnya atau rumahnya?, Ketiga: Apakah murid harus mendalami etika dahulu sebelum menentukan ilmu yang akan dilakukan?. Dari semua pertanyaan ini pasti akan ada sisi positif dan negatifnya di masa sekarang ini, karena tidak semua hal itu bisa kita lalukan dengan kegiatan belajar mengajar.

Pertama, tentu saja perlu karena sudah menjadikan sekolah sebagai tempat belajar baik guru dan murid, tidak hanya murid saja yang mencari informasi pengetahaun bahkan guru sekalipun membutuhkan seperti murid-murid lainnya. Karena ilmu pengeathuan bisa datang di mana saja, kapan saja dan pada siapa saja. Guru itu sosok yang memberikan informasi pengetahuan kepada siapa saja yang telah mengambil ilmu darinya.

Kedua, untuk saat ini jika guru hanya diam di tempat atau di rumahnya saja maka tidak akan berjalan dengan baik proses belajar mengajarnya, karena banyak hal yang harus diketahui bersama seperti banyaknya sekolah, ahli dalam berbagai macam bidang atau lainnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, kecuali jika guru tersebut memiliki ilmu yang benar-benar tidak ada yang bisa mempelajarinya kecuali guru tersebut dapat mengajarkannya.

Jika ini dilakukan demi terjalinnya hubungan baik dengan sang guru maka tidak masalah bahkan akan mendapatkan pelajaran baru tentang etika dan tatakrama dalam mencari ilmu, seperti orang-orang terdahulu yang mencari ilmu berjalan kaki dengan ribuan kilo seperti Imam Bukhori, Imam Musli, dan para ulama lainnya, mereka mendatangi guru-guru mereka untuk mencari kebenaran ilmu tersebut.

Ketiga, jika sekolahan menjadikan program secara khusus maka ini akan mendorong dan membantu murid-murid yang akan belajar dan mencari ilmu pengetahuan dengan terlebih dahulu mempelajari tatakrama dan kesopanan dalam mencari ilmu. Sehingga tidak ada informasi atau berita guru dan murid melakukan hal yang tidak terpuji, maka hal ini sangat bagus diterapkan dan memiliki karakter yang unggul.

Jika tidak dilakukan pun tidak mengapa karena sistem pendidikan di Indonesia sudah terbentuk dan sudah berjalan bertahun-tahun dengan proses belajar mengajar yang sampai sekarang kita rasakan. Meskipun tidak terprogram khusus setidaknya guru sudah menanamkan nilai-nilai kesopanan kepada murid-murid untuk menjadi pribadi dan berkarakter mulia terhadap guru-guru mereka.

Berdasarkan pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan guru dan murid memiliki persamaan dalam mencari ilmu dan informasi pengetahuan dan tidak membedakan baik yang sudah mengenyam pendidikan tinggi atau belum, karena sejatinya ilmu akan datang kepada siapa saja dan akan terus berkembang untuk memajukan pengetahuan orang tersebut.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Arief Bahtiar Rifai
Arief Bahtiar Rifai, Lahir di Lebak Banten 12 Januari 1991. Saat ini aktif sebagai pengajar di Al Azhar Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals