Mengurai Konflik Etno-Religius dengan Pengalaman Keberagamaan Lokal

Pengalaman-pengalaman yang bersifal lokal regional ini bisa menjadi acuan dalam memecahkan persoalan konflik-konflik sosial keagamaan berbasis etnis.


Keberagaman
Keberagamaan-lokal (Sumber: sejuk.org)

Dalam laporan Pusat Studi Agama dan Demokrasi Paramadina, kekerasan etnis dan agama berskala besar yang terjadi pada awal transisi demokrasi kini sudah menurun. Tapi kasus-kasus intoleransi dan kekerasan bernuansa agama berskala kecil masih terus terjadi. Kasus-kasus tersebut kini disertai naiknya dua fenomena yang makin mengkhawatirkan: politisasi sentimen anti-Tionghoa serta politisasi isu penodaan agama.

Lantas, bagaimana mengurai dan menyelesaikan masalah-masalah konflik etnis yang dibalut agama ini? Barangkali diskusi yang diketuai oleh Ahmad Suaedi yang bertajuk “Interfaith Harmony and Ethno-Religious Cohesion” menjadi jawaban. Diskusi yang diadakan oleh ISRL pada 04 Oktober 2020 ini banyak mengangkat pengalaman-pengalaman keberagamaan lokal, bagaimana mereka menyelesaikan konflik-konflik etnis dan agama.

Baca Juga: Memahami Pluralisme dalam Wacana Indonesia Damai

Subandri Simbolon, misalnya, menulis artikel “Cross-Ethnic Social Cohesion of the Pontianak-Singkawang Society: Challenges and Expectations.” Subandri mengkaji kohesi sosial lintas etnis yang dibangun di wilayah Pontianak-Singkawang. Kohesi sosial menekankan adanya hubungan yang kuat antara kelompok etnis-pemerintah. Pontianak-Singkawang menjadi lokus yang menarik karena sejarah konflik dan upaya perdamaian yang pernah terjadi di kedua wilayah tersebut.

Dengan menggunakan pendekatan etnografi, Subandri mengumpulkan memori kolektif masyarakat tentang konflik masa lalu dan kerjasama lintas etnis. Dalam penelitiannya, ia menemukan pergolakan sosial yang muncul seringkali mengkhawatirkan tingginya kerentanan sosial akibat sejarah konflik yang melanda masyarakat. Namun, di balik kerentanan tersebut, kesadaran akan pentingnya membangun masyarakat yang damai mulai muncul di berbagai kalangan dengan interaksi sosial yang tampak alami. Interaksi sosial ini akhirnya mulai melahirkan ruang pertemuan baru yang menjadi wadah kohesi sosial lintas etnis.

Tristiadi Ardi Ardani dan Aris Juana Yusuf menulis tema “Strategi Koping Individu dalam Mengatasi konflik Umat Beragama.” Strategi Koping Individu merupakan respons individu untuk mengatasi masalah. Respons tersebut sesuai dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan untuk mengontrol, menoleransi dan memitigasi efek negatif dari situasi yang dihadapi.

Tristiadi mencoba menggali hubungan kecerdasan spiritual dengan strategi koping dalam menghadapi konflik sektarian yang berlokasi di Malang, Jawa Timur. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hipotesis yang mengemukakan adanya keterkaitan antara kecerdasan spiritual dengan strategi koping dapat diterima. Dengan kata lain kecerdasan spiritual berperan sebagai faktor pendukung strategi coping dalam menghadapi konflik sektarian. Tristiadi sampai pada kesimpulan: semakin tinggi kecerdasan spiritual seseorang, maka semakin baik koping individu tersebut dalam menghadapi konflik sektarian.

Baca Juga: Masa Depan Keberagaman di Indonesia: Melacak Dua Wajah Agama Sebagai Upaya Merajut Keberagaman

Ali Sodiqin menemukan fenomena unik yakni keberadaan komunitas minoritas Jawa Tondano (Jaton) dengan identitas Jawa-Islam di tengah masyarakat Minahasa-Kristen sejak tahun 1831 tanpa adanya konflik sosial. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa etnis Jaton bias tetap eksis disebabkan oleh kemampuan tokoh agama dan tokoh adat dalam melakukan strategi outward-looking dan inward-looking. Strategi outward-looking dilakukan melalui asimilasi budaya yang melibatkan perluasan identitas etno-religius dengan menerima etnis lain dengan tetap mempertahankan identitas keislamannya sehingga terbentuk identitas baru Jawa-Tondano dari pencampuran etnis Jawa dan Minahasa.

Sedangkan inward looking dilakukan melalui peleburan budaya etnik dan pembentukan tradisi agama Islam menjadi identitas etno-religius Jaton. Kedua strategi tersebut berfungsi sebagai cara untuk mendapatkan dukungan dan mengelola potensi konflik, serta mencegah dominasi dan diskriminasi dari mayoritas.

Pengalaman-pengalaman yang bersifal lokal regional ini bisa menjadi acuan dalam memecahkan persoalan konflik-konflik sosial keagamaan berbasis etnis. Meskipun dalam praktiknya, konflik-konflik yang terjadi tidaklah disebabkan oleh penyebab tunggal, setidaknya, gambaran dari para peneliti ini bisa memberikan gambaran bahwa masing-masing konflik yang terjadi bisa diselesaikan dengan berbagai macam tindakan dan strategi sesuai dengan situasi yang melingkupi konflik tersebut.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Abd. Halim

Master

Abd. Halim, STh.I., M.Hum. adalah dosen di IAIN Surakarta dan IIQ An-Nur Yogyakarta. Ia merupakan penulis Buku "Problem Solving ala Nabi, Belajar dari Kearifan Nabi Muhammad dalam Memecahkan Masalah".

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals