Keagungan Shalat

Dalam shalat Muslim pasrah ke haribaan Tuhan dalam segala urusan dan kebutuhan-kebutuhannya yang tiada henti.


Shalat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Shalat arti dasarnya doa. Shalat ialah ibadah mahdhah, yakni ibadah yang telah ditentukan tata cara, syarat, dan rukun, serta waktunya, diawali dengan ucapan takbir dan diakhiri dengan ucapan salam. Sebelum menunaikan shalat Muslim membersihkan diri dengan bersuci, baik dengan berwudhu, mandi maupun tayamum.

Allah swt berfirman dalam Al-Quran (ditulis artinya),

Wahai orang yang beriman, bila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku. Usaplah kepalamu dengan air dan cucilah kakimu sampai ke mata kaki. Bila kamu sedang dalam keadaan junub, bersihkanlah dengan mandi penuh. Akan tetapi bila kamu sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang kembali dari jamban, atau kamu menyentuh perempuan dan kamu tidak menemukan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang bersih, dan usaplah mukamu dan tanganmu dengan itu. Allah tidak akan menyulitkan kamu, tetapi hendak membuat kamu bersih dan hendak menyempurnakan karunia-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur. (QS 5:6).

Dengan takbir, Allahu akbar, Muslim menghadap kepada Allah swt dalam rukuk dan sujud dengan penghayatan bahwa Allah Maha Besar dan segala yang selain Allah kecil. Hati, pikiran, dan perasaan tertuju kepada Allah swt dalam kekhusyukan doa. Dengan salam, Muslim memulai kembali interaksi dengan sesama manusia dengan menebar doa dan permohonan kepada Allah swt untuk keselamatan, dan kerahmatan, dan keberkahan hidup dari hadirat-Nya.

Dalam shalat Muslim pasrah ke haribaan Tuhan dalam segala urusan dan kebutuhan-kebutuhannya yang tiada henti. Pada saat seperti ini Muslim merasakan makna wujud dirinya sebagai hamba yang mesti patuh dan tunduk kepada Tuhannya. Mereka merasakan adanya keharusan menjaga kebersihan dan kesucian jiwa, karena Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan membersihkan diri.

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; demikianlah diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang pertama berserah diri.” (QS 6:162-163).

Rasulullah saw mewasiyatkan shalat kepada umatnya pada akhir hayat beliau. Hal itu karena shalat merupakan ibadah yang akan diperiksa dan diperhitungkan pertama kali pada hari kiamat.

Rasulullah saw bersabda, “Perbuatan seorang hamba Allah yang mula-mula diperiksa dan diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka akan baik pula semua amalnya, dan jika buruk atau rusak, maka akan buruk pula amal lainnya. (HR Thabrani).

Shalat merupakan perkara besar. Nabi Ibrahim as memohon kepada Allah agar beliau dan anak keturunannya senantiasa setia melaksanakan shalat. “Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, juga anak-anak keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku. Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orangtuaku, dan orang-orang beriman, pada hari diadakan perhitungan.” (QS 14:40-41).

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman,

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS 29:45).

Fahsya` adalah amal yang jelek, sedangkan munkar adalah sesuatu yang tidak dikenal oleh syariat. Ibnu Mas’ud dan sahabat yang lain berkata bahwa di dalam shalat itu terdapat sesuatu yang bisa mencegah dan menghentikan kemaksiatan kepada Allah swt. Siapa yang shalatnya tidak dapat memerintahnya pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka shalatnya tersebut justru tidak akan menambah kecuali semakin jauh dari Allah swt.

Abu Hurairah berkata bahwa seseorang datang menemui Nabi Muhammad saw dan berkata, ”Fulan melakukan shalat malam, tetapi di pagi harinya ia mencuri.” Maka Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya ia akan dihalangi oleh shalatnya dari hal-hal yang engkau sebutkan.” (HR Ahmad).

Shalat yang fungsional ialah yang dilaksanakan dengan khusyuk hati.

Peliharalah selalu semua shalat dan shalat pertengahan; dan berdirilah di hadapan Allah dengan sekhusyuk hati. Jika kamu takut ada musuh, shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan, tetapi bila sudah aman, berdzikirlah kepada Allah sebagaimana Ia mengajarkan kamu apa yang tidak kamu ketahui. (QS 2:238-239).

Shalat menenangkan jiwa dan membersihkan hati.

Dirikanlah shalat pada kedua ujung hari dan mendekati malam hari. Segala perbuatan baik menghilangkan yang buruk. Itulah peringatan bagi mereka yang ingat akan Tuhan. (QS 11:114).

Bicaralah kepada hamba-hamba-Ku yang beriman, supaya mereka mendirikan shalat dan menafkahkan rezeki yang Kami berikan, dengan sembunyi-sembunyi atau secara terbuka, sebelum datang suatu hari, ketika sudah tak ada lagi tawar-menawar dan teman-temanan. (QS 14:31).

Shalat adalah untuk mengingat Allah swt yang membuahkan ketenangan dan ketenteraman hati.

“Sungguh, Akulah Allah: tiada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS 20:14).

Sungguh, manusia diciptakan serba gelisah; bila ditimpa bahaya berkeluh kesah, dan bila menerima kekayaan kikir, kecuali orang yang tekun mengerjakan shalat; mereka yang tetap setia mengerjakan shalat. (QS 70:19-23).

Shalat adalah tiang agama, tali pengikat keyakinan, puncak segala upaya ‘penghampiran’ kepada Allah swt. Shalat merupakan suatu bentuk hubungan antara makhluk dengan Khaliknya. Seorang manusia menemukan kejujuran ikhwalnya pada saat ia berdiri menghadap Tuhannya dalam perenungan yang mendalam, melaksanakan kewajiban terhadap-Nya, dan mendambakan anugerah serta memohon petunjuk-Nya.

Dalam shalat seorang Muslim memuji Tuhan Allah dan mengakui-Nya sebagai pengatur alam semesta: segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Dalam shalat Muslim mengakui Allah sebagai Dzat Yang Maha Pengasih tak pilih kasih, Maha Penyayang tak pandang sayang. Dalam shalat Muslim mengakui Allah sebagai Dzat yang menguasai hari pembalasan. Dalam shalat Muslim mengikrarkan diri untuk menyembah Allah semata dan kepada-Nya semata ia memohon pertolongan. Dalam shalat Muslim memanjatkan doa agar senantiasa dibimbing Allah dalam jalan yang lurus; yakni jalan orang-orang yang memperoleh anugerah nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai Allah maupun orang-orang yang tersesat.

Rasulullah saw meriwayatkan firman Allah dalam hadis qudsi, “Aku (Allah) membagi shalat (yakni al-fatihah) antara Aku dan hamba-Ku, masing-masing separuh, dan baginya apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan alhamdu lillahi rabbil-‘alamin, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Jika ia mengucapkan: ar-rahmanir-rahim, Allah berfirman, “hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Jika ia mengucapkan: maliki yaumiddin, Allah berfirman, ”hamba-Ku telah memuliakan dan pasrah kepada-Ku.” Jika ia mengucapkan: iyyaka na’budu wa`iyyaka nasta’in, Allah berfirman, “Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku; baginya apa yang ia minta.” Dan jika ia mengucapkan: ihdinash-shirathal-mustaqim, shirathal-ladzina an’amta ‘alaihim ghairil-maghdhubi ‘alaihim waladh-dhallin, Allah berfirman, “Ini untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta.” (HR Muslim).

Shalat adalah untuk mengingat Allah.

Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS 20:14).

Shalat mencegah mukmin dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.

Innash-shalata tanha ‘anil-fahsya` wal-munkar. (QS 29:45).

Shalat menghindarkan Muslim dari gelisah, keluh kesah, dan putus asa.

Sungguh, manusia diciptakan serba gelisah; bila ditimpa bahaya berkeluh kesah, dan bila menerima kekayaan kikir, kecuali orang yang tekun mengerjakan shalat; mereka yang tetap setia mengerjakan shalat (QS 70:19-23).

Shalat yang khusyuk mengantarkan mukmin pada keberuntungan.

Qad aflahal-mu`minun. Alladzina hum fii shalatihim khasyi’un. (QS 23:1-2).

Shalat merupakan salah satu jalan atau cara untuk memohon pertolongan kepada Allah. Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan dengan shalat; ini sungguh berat, kecuali bagi mereka yang khusuk.  (QS 2:45).

Meninggalkan shalat menumbuhkan pada diri manusia benih kecenderungan memperturutkan hawa nafsu yang berujung kehancuran.

Sesudah mereka, menyusul suatu golongan yang meninggalkan shalat dan memperturutkan hawa nafsu. Mereka menghadapi kehancuran. (QS 19:59).

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis qudsi, “Aku (Allah) hanya akan menerima shalat dari seseorang yang rendah hati karena keagungan-Ku, tidak ribet pada ciptaan-Ku, tidak terus-menerus durhaka kepada-Ku; menghabiskan waktu siangnya untuk mengingat-Ku, menyayangi orang-orang miskin, orang dalam perjalanan yang membutuhkan uluran tangan dan para janda serta mengasihi orang yang kena musibah… Aku akan melindunginya dengan kemuliaan-Ku…” (HQR Al-Bazzar).

Abu Hurairah berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Bagaimana pendapat kamu sekalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang di antara kamu, lalu ia mandi lima kali setiap hari di sungai itu, masih adakah kotoran yang tersisa padanya?” Para sahabat menjawab, ”Tidak akan ada kotoran yang tersisa sedikit pun padanya.” Lalu beliau bersabda, ”Seperti itu pulalah shalat lima waktu yang dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Usman bin Affan berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Tidaklah seorang Muslim didatangi shalat fardhu, lalu ia membaguskan wudhunya, kekhusyukannya, dan rukuknya, melainkan hal itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama ia tiak melakukan dosa-dosa besar. Dan itu berlaku sepanjang waktu.” (HR Muslim).

Semoga Allah melimpahkan keinsyafan dan kekuatan lahir dan batin kepada kita untuk melakukan shalat dengan sebaik-baiknya.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Terima kasih Prof., uraiannya ttg shalat. Mungkun jika berkenan perlu dijelaskan lagi ttg caranya mebgingat Allah. Betapa sulirnya mengingat sesuatu yg belum pernah dilihat atau ketenu. Mengingat sesuatu yg pernah dilihat saja kadang sulit, apalagi thd sesuatu yg belum pernah dilihat. Selain itu, seringkali ada pertanyaan, mengapa harus menghadap kiblat, mengapa jumlah raka’atnya diatur sedemikian itu, dzuhur dan ashar 4 rakaat, maghrib 3, isyak 4 dan subuh 2 rakaat saja. Juga ada pertanyaan, mengapa dhuhur dan ashar bacaarnya lembut atau sirri, sementara lainnya jahr. Disebutnya bhw shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tapi pada kenyataannya betapa banyak orang shalat tapi masih nipu, hasur, permusuhan, dan bahkan juga korupsi. Hal demikian sering dipertanyakan di tengah masyarakat. Semoga Prof. Chirzin berkenan memberi jawaban, terima kasih..

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals