Memilih Pemimpin dalam Perspektif Hadis

Menurut hadis Nabi Muhammad saw. diperlukan kesadaran secara individu maupun kelompok untuk menjadi pemimpin


nu.or.id

Tidak lama lagi bangsa Indonesia memiliki hajat lima tahunan yakni pemilihan presiden dan lembaga lainnya. Setidaknya hal ini memerlukan kesadaran dari seluruh rakyat Indonesia untuk berpartisipasi. Sehingga dalam pemilihan ini pemerintah menjadikan hari libur nasional. Dengan demikian diharapkan beragam partisipasi masyarakat atas pemilihan umum ini berjalan dengan baik dan lancar.

Pemilihan umum merupakan bagian dari mencari pemimpin dan wakil pemimpin. Hal ini setidaknya menjadikan pemilihan umum akan menghasilkan potret kehidupan lima tahunan yang akan datang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian maka jika pemimpin yang dipilih adalah bagian dari kehendak rakyat maka kepentingan secara luas akan menjadi sebuah kebutuhan.

Menurut hadis Nabi Muhammad saw. diperlukan kesadaran secara individu maupun kelompok untuk menjadi pemimpin. Setidaknya setiap pribadi dari manusia harus dapat memimpin keluarganya masing-masing sesuai kemampuan manusianya. Oleh karenanya bagi ummat Islam menjadi pemimpin merupakan sebuah hal yang biasa karena sudah menjadi kebiasaan seseorang walaupun ranahnya yang lebih kecil.

Tanggung jawab itu sebenarnya adalah agar menjadikan diri dan keluarga sukses. Ukuran kesuksesan dalam hal ini tidak hanya untuk kepentingan akhirat yang masih jauh melainkan juga atas kehidupan di dunia. Tentu saja ukuran sukses tidaknya bisa tergantung masing-masing individu dan kelompoknya dalam tataran ini dengan keluarganya. Dengan demikian maka setiap orang mengaku Islam harus sukses dalam kehidupannya.

Kebahagiaan yang terwujud atas kesuksesan pribadi seseorang akan tercermin pula dalam kehidupan secara sosial kemasyarakatan. Tidak ada orang sukses itu sendiri tanpa bantuan orang lain. Ada orang lain yang mengorbankan di sisi kehidupannya dalam hal ini. Seorang laki-laki yang sukses dibaliknya ada seorang perempuan atau istri dan anak-anaknya yang tangguh.

Oleh karenanya peranan keluarga menjadi penting dalam menggapai kesuksesan termasuk dalam memimpin. Hal ini setidaknya mereka dapat menjadikan konflik dan hal-hal kurang baik berubah ke kebaikan tanpa banyak orang yang tahu. Pengalaman berkeluarga tersebut menjadi penting dalam memaknai kepemimpinan ke depan.

Hal di atas akan menjadi sebuah kematangan individu dalam mengolah kebersamaan dalam perbedaan. Anak dan isteri dalam rumah tangga saja sering berbeda pikiran satu dengan lainnya. Hal terpenting dalam hal ini adalah menyatukan perbedaan ke kebersamaan untuk mencapai utuhnya bahtera rumah tangga. Ego-ego pribadi dan sektarian ditinggalkam demi kebersamaan di antara mereka. Dengan kematangan inilah menjadikan seseorang dapat teruji dalam kepemimpinan secara publik.

Tidak ada pemimpin yang lahir secara instan. Sebagaimana halnya dengan Nabi Muhammad saw. yang tidak saja sukses dalam kehidupan rumah tangganya juga sukses sebagai kepala negara atau masyarakat dan pemimpin agama. Kepemimpinan yang dilakukan tidak saja diakui oleh ummatnya sendiri melainkan juga diakui umat agama lain. Bahkan seorang ahli sejarah kenamaan dari Amerika, Michael H. Hart menyebutnya sebagai orang pertama sangat berpengaruh di jagad raya seisinya sampai saat ini.

Alasannya cukup menyengangkan dengan kehidupan yang sederhana, dan kehidupannya lurus-lurus tidak menyimpang dari tatanan sosial serta Tuhan. Demikian juga dipercaya oleh masyarakat serta prestasi lainnya dalam kehidupannya. Dengan meladani sosok dan kehidupan beliau mala akan menjadikan manusia  menuju sukses.

Perjuangan keras Muhammad saw. tidaklah mudah untuk diikuti semua manusia. Beliau terlahir dengan kondisi yatim karena ayahnya meninggal sebelum beliau lahir. Demikian juga selang beberapa tahun ibunya juga meninggalkannya. Hal inilah kemudian menjadikannya pribadi yang tangguh dan dapat menjauhkan segala rintangan yang ada. Kemandirian dan ketangguhan menjadi kunci suksesnya. Demikian kenyataan kehidupan dalam peribadi yang sukses itu.

Dalam kehidupan berkeluarga, Muhamad pun banyak tauladannya.Setidaknya ketika Beliau diangkat menjadi utusan Allah swt. Siti Khadijah binti Khuwailid menjadi sosok terpenting. Hal ini terkait erat dengan keyakinannya atas apa yang dialami suaminya. Sehingga sebagai suami, Muhammad semakin mantab dalam menerima risalah kenabian. Dengan demikian, sosok kesuksesan seseorang butuh sosok yang teguh dan berjuang secara bersama-sama.

Belajar dari pengalaman di atas, maka untuk menjadi seorang pemimpin setidaknya secara sosial harus disiapkan dengan baik. Teori ini adalah sebagai pijakan semua orang baik sebagai pimpinan di dunia bisnis maupun yang lainnya seperti sosial kemasyarakatan.

Walaupun terdapat teori lain yang menyatakan bahwa seorang pemimpin akan lahir secara genetik artinya sebagai bawaan sejak lahir. Demikian juga terkadang pemimpin lahir secara ekologik artinya, mereka memilki bakat dan diasah dalam kehidupan kesehariannya.

Tentunya ketiga teori ini kemudian dilengkapi dengan teori gabungan di atas yang dikenal dengan kontigensi. Teori ini menyatakan untuk menjadi pemimpin diharuskan menjadi bakat memimpin, pendidikan yang diperolehnya dan perannya sendiri dalam mengembangkan di ranah sosialnya. Dengan demikian, tidak ada pemimpin yang lahir dari ruang hampa dengan manusia lainnya. Artinya, pemimpin dibentuk dengan pengalaman sendiri, dan masyarakat serta pengetahuan yang dimilikinya.

Beban berat sebagai pemimpin sebagaimana dalam hadis di atas adalah tanggung jawabnya. Setiap pemimpin harus mempertanggungjawabkannya. Oleh karenanya dalam konteks ini harus memiliki progres atas segala hal terkait kepemimpinannya. Pemimpin harus merelakan waktu dan tenaganya dalam melakukan kebaikan demi tercapainya tujuan bersama dalam sebuah organisasi atau institusi.

Hal lain yang perlu ditekankan dalam konteks ini adalah mempermudah urusan atau dalam konteks pemimpin adalah birokrasi yang sederhana. Untuk itulah, maka jangan sampai seorang pemimpin mempersulit bawahannya atau masyarakat. Prinsip lain dalam hadis adalah larangan untuk bersikap otoriter. Sebagaimana Nabi mengatakan sebaik-baik pemerintahan adalah pemerintahan yang tidak otoriter. Oleh karenanya, seorang pemimpin harus mendengar dari masyarakat dan mengaplikasikannya dalam kebijakan yang dapat mempermudah urusan mereka.

Untuk mengakhiri tulisan ini, dikutip hadis yang artinya “ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengindikasikan keistimewaan pemimpin jika mampu menjadikan pola kepemimpinannya yang baik seperti adil dan sebagaimana yang tergambar di atas, maka Allah swt. akan menempatkannya ke tempat yang istimewa. Semoga bangsa Indonesia akan mampu mendapatkan pemimpin yang sesuai hadis Nabi saw. dan menjadikan bangsa Indonesia maju dan sejahtera. Amin.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals