Peluncuran Buku SPK: Belajar Kehidupan

Man may come, man may go, but SPK must go on forever!


Salah satu agenda Kopi Darat ke-2 Sahabat Pena Kita (SPK) di IAIN Tulungagung 27 Januari 2019 ialah peluncuran buku Belajar Kehidupan dari Sosok Manusia Inspiratif: Perjuangan, Kesederhanaan, dan Cinta. Naskah buku itu merupakan pilihan dari antara sekian himpunan tulisan wajib bulanan SPK. Jauh hari sebelum kopdar dilaksanakan Panitia telah menyusun rangkaian acara kopdar tersebut dengan mencatat nama saya sebagai petugas peluncuran buku itu.

Pagi itu saya tiba di Tulungagung setelah tiga hari menghadiri Rakernas 2 Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) di Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh. Kembali ke Jogja dengan pesawat Garuda transit di Jakarta,  langsung ke stasiun untuk naik KA malam demi menghadiri Kopi Darat di IAIN Tulungagung.

Setelah mandi dan sarapan bersama soto ayam Tulungagung dan minum teh kami segera bergegas ke kampus IAIN Tulungagung basecsmp Prof. Ngainun Naim sebagai shahibul bait.

Pagi itu saya menerima satu eksemplar buku Belajar Kehidupan yang disunting oleh sahabat Syahrul; nama bekennya Syahrul al-Makassari. Sebelum naik cetak semua peserta juga telah melihat rancangan cover buku tersebut via grup WA sebagai hasil musyawarah mufakat tentang tata warna, tulisan, dan pilihan hurufnya. Finalisasi desain cover dan desain isi dilakukan oleh M. Chairul Anwar. Buku ini terbit atas kerjasama dengan Penerbit Edulitera Malang.

Mengingat padatnya rangkaian acara kopdar di IAIN Tulungagung 27 Januari 2019 ini, sungguhpun untuk peluncuran buku dialokasikan waktu 15 menit, saya menggunakan waktu sekitar tujuh menit saja. Para peserta tampak sudah tidak sabar menanti presentasi dua nara sumber utama yang datang dari kota Malang dan dari Tulungagung, yang telah ada di tengah-tengah mereka.

Sesuai dengan judul buku yang diluncurkan, saya antarkan buku ini kepada para hadirin dengan mengutip kata-kata bijak Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantoro, “Jadikanlah setiap orang sebagai gurumu.” Harapan saya, pertama, agar para pembaca menaruh perhatian kepada setiap sosok insan inspiratif yang dikupas dalam buku ini. Kedua, agar setiap anggota SPK saling menimba ilmu satu dari yang lain melalui buku yang diluncurkan itu.

Selanjutnya saya introduksi bahwa buku Belajar Kehidupan ini terdiri atas empat bagian. Pertama, belajar cinta dari sosok ibu, meliputi beberapa tulisan. Ketepatan urutan pertama adalah buah pena sahabat dan guru kita almarhum Hernowo Hasim, “Daimah (Ibu yang Membaca)”. Berikutnya tulisan sahabat Syahrul, “Semmi (Ibu Rumah Tangga tanpa Rumah)”; Sri Lestari Linawati, “Bu Dullah (IRT Pejuang Keutuhan Rumah Tangga)”; Laili Fauziah, “Ibu (Orang Terbaik Sepanjang Masa)”: Febry Suprapto, “Ibu dan Guruku (Penumbuh dan Pembangkit Semangat Bacaku)”; Gunawan. “Bakri Murthalib & Siti Nuraeni (Orang Tuaku Pahlawanku)”; Eka Sutarmi, “Katijah (Nenekku Inspirasiku)”; dan Ng. Tirto Adi Mp, “Muka`iyah (Emakku Inspirator Literasiku).”

Hernowo Hasim menulis, “Ibu tidak pernah menyampaikan pesan atau nasihat kepadaku agar aku membaca. Beliau hanya mencontohkan bagaimana keasyikan membaca itu. Waktu aku masih SD, aku suka dibelikan komik oleh ibuku.”

Syahurul menuturkan bahwa mamaknya hanya perempuan biasa yang tidak tamat Sekolah Dasar, namun kepasrahannya menjalani takdir, kesabarannya dalam berjuang, keikhlasannya mendidik anak-anak, dan kesetiaannya membersamai Bapak menempatkannya bagai cahaya bagi anak-anaknya.

Bagian kedua, belajar ketangguhan dari sosok ayah. Hadir di sini tulisan sahabat Much Choiri, Amie Primarni, Anilla Febriaty Hermanda, Didi Junaedi, Hidayatun Mahmudah, Ngainun Naim, Rita Audriyanti, Syaiful Rahman, dan Agus Hariono.

Much Choiri antara lain menulis petuah Bapaknya, “Bangun awal, shalat malam, dan belajar; pagi itu penuh berkah, pikiran bersih, dan hati bening.”

Hidayatun Mahmudah menulis, “Mengalah yang diajarkan Bapak bukan berarti sebuah kekalahan. Namun mengalah untuk bisa selalu berproses memperbaiki diri menuju perubahan yang lebih baik, untuk kemaslahatan agama, diri, keluarga, dan umat.”

Bagian ketiga, belajar keteladanan dari sosok guru. Penulis yang hadir di sini sahabat Haidar Musyafa, Muhammad Makmun Rasyid, M. Arfan Muammar, Abdul Azis Tatapangarsa, M. Taufiqi, Joyojuwoto, dan saya sendiri.

Haidar Musyafa menulis tentang Shaleh Darat sebagai guru ulama Nusantara. Kiai Haji Shaleh Darat adalah seorang ulama yang cerdas merangkul orang awam, mubaligh yang piawai merangkul dengan bahasa yang mudah dipahami. Seorang ulama perangkul, bukan pemukul; pendidik, bukan pembidik.

Bagian keempat, merengkuh inspirasi dari sosok penebar manfaat. Di sini berhimpun penulis Abdisita S, Abdul Halim Fathani, Ahmad Fahrudin, Bahrus Surur-Iyunk, Gunarto, Husni Mubarrok, Nunung Nurrohmatul Ummah, Ir. Zulfa, Budiyanti Anggit, Eni Setyowati, Moch. Charis Hidayat, dan Muhammad Abdul Aziz.

Abdisita S menulis, “Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. (Santri yang Mengabadikan Cinta Guru dalam Tulisan”; Abdul Halim Fathani menulis, “Abdul Jalil (Dari Petani Menjadi “Pengembang” Pendidikan)”; Ahmad Fahrudin menulis, “Habibi (Sang Putra Angin)”; Bahrus Surur-Iyunk menulis, “Haji Mustari Ahmad (Berdakwah dengan Bahasa Orang Pinggiran)”; Gunarto menulis, “Muhammad Abduh Tuasikal (Engineering yang Menjadi Ulama)”; Husni Mubarrok menulis, “Ustadz Adzi (Sang Pendobrak Jiwa Literasi)”; Nunung Nurrohmatul Ummah menulis, H. Abdul Malik Karim Amrullah (Sebuah Perjalanan Hidup dalam Jihad)”; Ir. Zulfa menulis, “Dr. Muhammad Azhar, M.Ag. (Sang Mujaddid Bagiku)”; Budiyanti Anggit menulis, Abdul Khakim (Sosok Ayah dengan Sembilan Anak)”; Eni Setyowati menulis, “Sahabat Pena Kita (Terima Kasih untuk Inspiratorku)”; Moch. Charis Hidayat menulis, “Sutikno (Bisikan Kehidupan dari Mbah No)”, dan Muhammad Abdul Aziz menulis, “Pak Dihya (Meneladani Awal Perjumpaan)”.

Usai sesi seminar, anggota Sahabat Pena Kita bermusyawarah untuk menentukan langkah-langkah ke depan. Di antara keputusan rapat yang penting ialah mengusahakan legalitas organisasi SPK dengan mendaftarkannya ke Notaris agar SPK dapat berkiprah lebih berdaya.

Kedua, meningkatkan mutu tulisan wajib bulanan agar naskah tersebut dapat diterbitkan oleh penerbit mayor.

Ketiga, mempertimbangkan penambahan anggota baru, untuk melanjutkan dan mengembangkan ide-ide besar Sahabat Pena Kita.

Waktu semakin sore dan  sebagian besar anggota SPK sudah berkemas-kemas untuk kembeli ke kampung halaman dengan energi literasi yang menggebu. Rapat pun belum sempat merencanakan Kopdar 3 SPK bulan apa dan di mana, tetapi semua sudah seia sekata sampai berjumpa pula.

Man may come, man may go, but SPK must go on forever!

SAHABAT PENA KITA

Sahabat Pena Kita
Rumah singgah bersama
Mengasah daya cipta
Mengabdi untuk bangsa.

Mari bergandeng tangan
Bergerak beriringan
Singkirkan s’gala rintangan
Wujudkan karya idaman.

Kepadamulah kami percayakan
Estafet literasi di negeri ini
Kepadamulah kami amanatkan
Estafet literasi di negeri ini.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals