Ketika Tuhan Diajak Pemilu

berbeda pilihan boleh, namun jangan sampai Islam digunakan untuk alat menyerang muslim lainnya hanya karna beda pilihan politik


islami.co

Sabtu pagi 24 Februari 2019 kereta dari Gambir Bhima jurusan akhir Yogyakarta tiba pkl 04:45 subuh. Tak langsung beranjak keluar dari gedung utama stasiun, beberapa penumpang langsung wudhu dan nampak harmonis ke mesjid stasiun dan menyusun shaf.

Mereka sepakat berjamaah bersama tanpa bertanya terlebih dahulu tentang “mazhabmu apa?, ormasmu apa?, atau pilihanmu di pilpres siapa?..” Mereka dengan khidmat menyediakan waktu untuk bersambung rasa dengan penciptanya.

Dari tugu ke kontrakan yang berjarak sekitar 3 km saya putuskan berjalan kaki dengan pertimbangan jalanan pagi yang masih temaram belum begitu banyak kendaraan dan masih segar. Sangat bagus untuk menikmati nuansa lain kota Jogja.

Tampak di beberapa titik lokasi berbagai warna baliho menghiasi pinggir jalan dan terotoar. Beberapa baliho terpampang foto dua pasang orang beriringan. Dua-duanya menampilkan dua orang berkopiah hitam. Dua-duanya dikenal dan menyatakan diri sebagai muslim, dan dua-duanya mengakui cinta Indonesia.

Sebelumnya tak ada yang aneh, hingga kemudian teringat puisi Neno Warisman tertanggal 21 Februari pada moment Malam Munajat 212. Serta dua Ibu-ibu yang berkampanye dengan door to door di Karawang mensosialisasikan tema kekalahan dan ketertindasan ajaran Islam jika salah satu paslon menang.

Belum lepas memandangi spanduk pinggir jalanan, terlintas di fikiran bahwa kedua pasangan adalah muslim dan dua-duanya didukung oleh ormas muslim. Lalu kenapa sampai terbersit pikiran bahwa Islam akan kalah jika salah satu paslon menang. Kenapa tidak sebut saja Ormas Islam versi mereka yang dikhawatirkan kalah?. Itu lebih fair dan jujur ketimbang harus mencaplok kepercayaan sesama muslim.

Masih belum dapat memahami pola pikir mereka, saya terus berjalan dan merenungkannya. Barangkali otak saya yang belum sampai atau kurang dalam membaca buku. Tapi hal ini tetap mengganggu karena keutuhan dan kekeluargaan bangsa rasanya lenyap tergantikan keresahan yang terus-menerus.

Mungkin saya adalah sebagian orang yang resah dengan kondisi media yang merepresentasikan gambaran bangsa yang berada di ambang keretakan. Tiap hari atau mungkin tiap menit disuguhi oleh content baru yang mengadu domba dan membuat sesak dada. Diputuskanlah berpaling dari isu politik dengan mencari siraman rohani.

Ketika niat hati ingin mendapat siraman rohani penyejuk jiwa lewat ceramah agama, ternyata malah hasilnya berbalik 180 derajat. Bukan siraman rohani yang didapat, malah kemarahan dan kebencian yang muncul sebagai hidangan mimbar-mimbar dakwah. Dan yang paling tidak terduga adalah hal itu keluar dari mulut orang yang disebut sebagai ulama. Sembari ngelus dodo kata orang Jawa, telinga ini terus disuguhi hidangan kata yang tak pantas dan kurang bijak. Padahal di tengah situasi yang membutuhkan momongan seharusnya mereka meraka menjadi juru damai.

Lantas, apa yang mendorong orang-orang ini untuk naik pentas. Mungkin mereka fanatisme keagamaannya bagus, namun tidak didukung kebijaksanaan spritual maupun intelektual. Bahkan beberapa sosok Guru Bangsa yakni Buya Syafi’i Ma’arif menyebut puisi Neno Warisman sebagai hal yang tidak beradab.

Argumen Prof. Syafi’i Maarif tersebut disampaikannya saat menghadiri konferensi pers persiapan acara “Doa dan Ikrar Anak Bangsa untuk Indonesia” di Aula Panti Trisula Perwari di Gondangdia, Jakarta Pusat, Kamis 28 Februari 2019.

Sebenarnya Buya ingin menyampaikan, bahwa berbeda pilihan boleh, namun jangan sampai Islam digunakan untuk alat menyerang muslim lainnya hanya karna beda pilihan politik. Jika yakin kepada kebenaran, maka sampaikan dengan cerdas dan bijak, karena kita tak pernah tahu apakah ada pihak yang menginginkan dan berkepentingan terhadap teradu-dombanya bangsa.

Yogyakarta 2 Maret 2019

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Barir
Muhammad Barir, S.Th.I., M.Ag. adalah redaktur Artikula.id. Ia telah menulis beberapa karya, diantaranya adalah buku Tradisi Al Quran di Pesisir.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals