Menginstal Ulang Nasionalisme Kita

Kemerdekaan yang diperoleh bangsa ini, bukan hadiah manis dari negara lain. Kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan semangat tanpa kenal lelah para pejuang. Merdeka !


Hari ini (17/8) merupakan hari yang bersejarah bagi seluruh masyarakat Indonesia. Republik ini telah genap berusia 74 tahun, usia yang tidak bisa dibilang muda lagi. Ibarat manusia, usia tersebut menggambarkan puncak kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Pada usia tersebut, sudah selayaknya bangsa Indonesia mampu bersaing pada pusaran deras arus globalisasi dan era industri 4.0.

Kemerdekaan yang diperoleh bangsa ini, bukan merupakan hadiah manis dari negara lain atau para penjajah. Kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan semangat tanpa kenal lelah para pejuang, kucuran keringat deras, linangan air mata, dan tetesan darah yang menganak sungai. Segenap waktu, pikiran, tenaga, bahkan nyawa dicurahkan dan didarmabaktikan para pejuang demi terhirupnya udara segar kemerdekaan.

Perjuangan tersebut dijiwai semangat nasionalisme yang mengakar dan mendarah daging. Semangat yang bercirikan kecintaan yang tinggi terhadap bangsa dan negara, sehingga berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk merebut dan mengembalikan ke pangkuan ibu pertiwi. Mengutip pendapat Ernest Renan bahwa dalam nasionalisme terkandung keinginan untuk bersatu dan bernegara. Nasionalisme merupakan keinginan besar untuk mewujudkan persatuan dalam bernegara.

Nasionalisme juga mampu menyingkirkan sejauh-jauhnya sikap fanatik kesukuan, warna kulit, bahasa, dan lainnya yang berlebihan. Nasionalisme mampu menyatukan bangsa Indonesia yang ber-bhineka tunggal ika menjadi satu komando perjuangan demi tegaknya kemerdekaan dan negara yang berdaulat. Pada akhirnya diidamkan terbentuknya satu wadah bersama yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka tak mengherankan hingga kini slogan “NKRI Harga Mati” yang dicetuskan oleh almarhum KH. Moeslim Rifa’i Imampuro, akrab dipanggil Mbah Liem, pengasuh pondok pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, cukuplah menjadi cambuk dan semangat pemersatu bangsa. 

Adapun dalam konteks Islam, perjuangan tersebut dijiwai semangat hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari iman). Disebutkan dalam atsar Khalifah Umar bin Khatab sebagaimana dikutip Syeikh Ismail Haki dalam kitab Tafsir Ruhul Bayan juz 6 halaman 442 menyatakan: “Seandainya tidak ada cinta tanah air, hancurlah negara yang terpuruk. Dengan cinta tanah air, negara akan berjaya”. Melalui semangat tersebut semua lini satu barisan dan satu tujuan untuk merengkuh udara bebas kemerdekaan.

Kini 74 tahun sudah Indonesia merdeka, saatnya kemerdekaan ini diisi dengan sebaik-baiknya. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dalam pidato kenegaraannya memperingati HUT RI Ke-74 di Gedung MPR/DPR/DPD RI Senayan, Jakarta (16/8) mengangkat tema “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Tema tersebut seakan melegitimasi bahwa keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul akan berbanding lurus dengan kemajuan bangsa Indonesia. Melalui SDM yang unggul berbagai sektor kehidupan akan dioptimalkan pemanfaatannya bagi kesejahteraan rakyat. Sehingga rakyat Indonesia benar-benar mampu merasakan menjadi bangsa yang merdeka, dibuktikan dengan adanya pemerataan kesejahteraan.

Salah satu kutipan pidato tersebut berbunyi: “Kita butuh ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat kita bisa melompat dan mendahului bangsa lain. Kita butuh terobosan-terobosan, jalan pintas yang cerdik, yang mudah, yang cepat. Kita butuh SDM-SDM unggul yang berhati Indonesia, berideologi Pancasila. Kita butuh SDM unggul yang toleran, yang berakhlak mulia. Kita butuh SDM yang unggul yang terus belajar bekerja keras, berdedikasi”.

Maka sudah seyogyanya seluruh generasi penerus bangsa ini, generasi penghirup udara segar kemerdekaan, utamanya para generasi muda milenial agar mampu memanfaatkan momentum HUT RI yang Ke-74 ini untuk menginstal kembali spirit nasionalisme yang mulai agak mengendur. Apalagi pasca Pilpres 2019 bulan April kemaren, terpampang begitu jelas seakan negara ini terbagi menjadi dua kubu dan kekuatan besar, kubu Jokowi dan kubu Prabowo.

Jika dibiarkan berlarut-larut, maka dikhawatirkan akan terjadi perang saudara. Lalu hal tersebut diperuncing dengan para pendukungnya yang begitu gencar saling serang dan tebar hoaks untuk mengunggulkan pasangan yang didukungnya. Sehingga konflik horizontal antar pendukung menjadi hal yang tidak terhindarkan. Bahkan, ditakutkan konflik tersebut berlanjut sampai ke anak cucu.

Belum lagi hal tersebut diperparah dengan adanya tren kecenderungan sebagian masyarakat yang mudah terpengaruh oleh paham-paham radikal, ekstrimis, dan paham lain yang mengancam eksistensi negara. Maka nasionalisme bangsa ini perlu benar-benar diinstal kembaliagar setiap masyarakat menyadari bahwa kita sebagai bangsa, persatuan dan persaudaraan adalah mahligai tak ternilai yang lebih penting dari segalanya. Maka pertemuan Jokowi-Prabowo di Stasiun Lebak Bulus MRT beberapa waktu lalu (13/7), menjadi mata air segar di tengah prahara negeri ini, mendinginkan suasana dan ditunggu masyarakat demi tegaknya persatuan dan kesatuan. 

Eksistensi 4 pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 yang bersifat final perlu dijaga dan dirawat bersama. Melalui pilar tersebut energi nasionalisme, energi untuk mencintai tanah air tempat kita dilahirkan dan dibesarkan akan selalu terpatri dengan kuat dan kokoh. Sehingga paham-paham dan tindakan-tindakan yang mengancam eksistensi NKRI dengan sendirinya akan terminimalisir dan diharapkan mampu berkurang, padam, atau bahkan mati dengan sendirinya.

Di pundak para generasi mudalah, SDM unggul diharapkan mampu mengisi kemerdekaan yang dilandasi spirit nasionalisme. Begitu pentingnya peran pemuda Bung Karno pernah berkata: “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Apalagi diperkirakan tahun-tahun ini hingga tahun 2030 merupakan tahun di mana Indonesia mengalami bonus demografi. Yaitu suatu fenomena di mana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar.

Semoga dengan terinstalnya kembali nasionalisme kita di momentum HUT RI yang Ke-74 ini, semua lini satu tujuan dan satu barisan untuk mengampanyekan pentingnya mencintai negara ini sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Hal tersebut merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi, karena pada hakikatnya persaudaraan, persatuan, perdamaian, dan ketenteraman negara adalah dambaan semua rakyat. Mari mengisi kemerdekaan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing, sepanjang tidak mencederai konsensus bersama 4 pilar kebangsaan para pendahulu kita yang sudah final. Merdeka!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals