Media dan Agama: Otorisasi yang Berubah di Saat Corona Melanda

Masyarakat kita adakalanya lebih senang mengkaitkan dan mengasosiasikan cara berpikir tertentu terhadap suatu kejadian yang secara logis sulit dicerna.


Ilustrasi: Unsere Zeitung

Mencermati tulisan saya sebelumnya, saya melihat wabah Corona untuk saat ini sebagai trending topic yang diperbincangkan seantero dunia. Oleh karenanya, saya juga ingin memulai tulisan ini dengan mengikuti beragam pendapat para netizen; Di antara mereka ada yang menganggap bahwa adanya Corona disebabkan oleh konspirasi kelompok tertentu. Kelompok netizen ini kemudian memviralkan anggapan tersebut dengan mengunggah sebuah judul novel, The Eyes of Darkness, yang ditulis oleh Dean Koontz tahun 1981.

Menurut saya, sesuatu -jika telah tersebar di Internet, yang sebelumnya tidak terpikir dan boleh jadi tidak menarik akan menjadi sebaliknya, bahkan menjadi bahan perbincangan yang tiada habisnya. Dalam konteks ini, seolah adanya Corona disebabkan oleh “konspirasi-konspirasi” tadi diyakini begitu saja oleh sebagian warganet, walaupun faktanya belum tentu benar. Yang saya khawatirkan adalah ketika terbiasa “mengkonsumsi” sesuatu yang tidak bisa dipastikan kesahihan informasi itu, kita secara tidak sadar justru telah masuk kepada “lingkaran setan” yang bernama hoaks.

Demikian “heboh” penyebaran corona, ketika kita melihat pemberitaan di beragam media, baik televisi maupun online, sesungguhnya hal itu telah memancing “kegelisahan” yang sebelumnya tidak pernah kita rasakan. Bagaimana tidak, dunia yang dulunya sibuk luar biasa, dengan adanya Corona seolah semua bertekuk lutut. Kepadatan transportasi udara langsung senyap begitu saja, demikian juga dengan keriuhan tranportasi laut ketika kapal-kapal pesiar dilarang berlabuh di berbagai belahan dunia. Tidak sampai di situ, hal lain yang membuat kira mengerutkan dahi, yakni dilaksanakannya “liburan berjamaah” semua tingkat pendidikan dari mulai PAUD hingga Perguruan Tinggi di negeri ini.

Baca juga: Ijtihad Kolektif di Akar Rumput yang Mendebarkan

Namun begitu, di saat pandemi Corona menghantui jagat raya, masyarakat kita justru adakalanya lebih senang mengkaitkan dan mengasosiasikan cara berpikir tertentu terhadap suatu kejadian yang secara logis sulit dicerna. Seperti yang saya paparkan di atas, fenomena Corona ini di sebagian masyarakat dianggap sebagai hal yang menakutkan, sehingga diorientasikan dengan beberapa hal yang sering beredar di tengah masyarakat, semisal desas-desus, misteri bahkan penggunaan teori konspirasi pun kerap menjadi “bumbu penyedap” yang siap disuguhkan sebagai konsumsi masyarakat itu sendiri, terutama melalui media internet. Perkembangan internet yang dinikmati di seantero dunia saat ini seakan telah menjadi “orkestrasi” kepanikan terhadap penyebaran Corona.

Pembacaan saya terhadap pemberitaan yang ada, selain digunakannya teori konspirasi oleh para netizen. Hal yang tidak kalah penting adalah isu invasi perang dagang Amerika terhadap Cina. Isu tersebut muncul barangkali karena situasi global yang kian memanas. Adapun yang membuat isu ini menarik karena ada aspek ekonomi di dalamnya. Sebagaimana diketahui, ekonomi merupakan salah satu bagian krusial dalam suatu negara.

Baca juga: Urgensi dan Dampak Lockdown Bagi Sektor Maritim Nasional

Wajar saja, isu ini seakan menjadi justifikasi pembuktian seteru antara Amerika dan Cina. Sehingga untuk melumpuhkan seterunya, Amerika mengambil langkah dengan menjajal “ekspor” virus ke Cina, dan itulah yang membuat Cina lumpuh, pusat-pusat ekonomi di sana menjadi porak-poranda. Yang menjadi pertanyaan, apakah memang demikian faktanya? Silakan pembaca sendiri yang menyimpulkannya.

Berangkat dari wawasan di atas, jika diperbolehkan, saya akan menyebut situasi sekarang sebagai “Coronaisasi” global. Suatu pandangan yang menurut saya mungkin agak absurd, ketika semua pihak tertuju dan terfokus pada Corona, yang karenanya penyebaran wabah tersebut di seantero dunia telah menghentikan separuh aktivitas sosial, terutama ekonomi masyarakat dunia.

Apabila saya mengacu pada konsep yang diajukan Foucault, maka Corona saat ini telah menjadi narasi diskursif yang dikonstruksi demikian rupa seolah kita bergantung padanya dan memiliki “banyak rupa”. Apakah ia bagian dari bangunan konspirasi tertentu ataukah ia merupakan bagian dari proyek besar invasi perdagangan Amerika terhadap Cina. Sampai di sini, saya tidak akan berpolemik terlalu jauh mengenai kedua hal tersebut. Sekali lagi silakan pembaca berpikir kritis terhadap “premis” yang saya ajukan tadi. Jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’ terserah pembaca.

Baca juga: Youtube dan Kuasa Agama: Sabda Michel Foucault

Sebagai perspektif akhir tulisan ini, saya akan mengajukan pandangan yang mungkin sedikit berbeda. Konteks yang saya maksud adalah: di saat “Coronaisasi” melanda, saya melihat adanya otoritas agama yang bergeser. Secara spesifik, maksud dari otoritas agama adalah para pemuka agama (dalam hal ini: ustadz, da’i, penceramah) -yang sebagian di antara mereka menyampaikan kepada audiensnya fenomena Corona muncul karena ada selubung kejahatan yang diakibatkan oleh konspirasi kelompok tertentu, akibatnya masyarakat kita memiliki kerancuan berpikir dan begitu percaya terhadap paparan yang mereka sampaikan.

Bagi saya, inilah ketimpangan otoritas agama yang dibangun selama ini. Seolah mereka memiliki legitimasi kuat pengetahuan dan informasi terhadap opini yang dibangun, dan barangkali mereka belum siap menyampaikan itu di hadapan audiens. Apabila hal ini dilakukan terus-menerus dikhawatirkan masyarakat kita akan terbiasa berada di area yang masih menjadi kontroversi dan menjadi masyarakat yang “tidak sehat” cara berpikirnya.

Padahal yang diperlukan di tengah gejolak pandemi Corona saat ini adalah sebuah konstruksi sosial yang sehat dengan mendorong penyebaran informasi yang shahih dan akurat. Para tokoh yang otoritas agamanya “diakui” di masyarakat tentu saja harus bisa mentransformasikan pengetahuannya secara komprehensif, mereka harus benar-benar menguasai isu-isu yang UpToDate dan informasi yang disampaikan diperoleh dari sumber yang valid, bukan hanya qiila-waqaala (katanya).

Saya meyakini kemampuan new media (internet) sekarang, di satu sisi menyebabkan munculnya otoritas agama baru, di saat yang sama ia menjadi pemegang otoritas tunggal di masyarakat. New media tersebut berkelindan di tengah pencarian identitas masyarakat terhadap informasi dan pengetahuan secara instan, dan dipercaya kebenarannya. Sehingga masyarakat terbawa kepada arena virtual yang dimungkinkan dapat merubah pemahaman ekspresi keagamaan secara cepat juga. Yang agak merepotkan jika eksistensi otoritas agama offline dibawa ke ranah virtual, padahal platform seperti facebook, twitter, bahkan youtube tidak memberlakukan fungsi diseminasi teologis formal yang membosankan sebagaimana dilaksanakan di masjid mauun majelis taklim.

Baca juga: Jangan Buru-Buru Ingin Menjadi Juru Dakwah!

Pendapat lain yang bisa saya kemukakan adalah bahwa video ceramah dan bentuk-bentuk dakwah lain seperti leaflet, brosur dan sumber-sumber lain telah menggeser pola-pola interaksi sosial melampaui ruang dan waktu. Sedangkan hal lain yang patut menjadi perhatian kita di saat situasi sekarang adalah sejauh mana internet bisa mengedukasi masyarakat kita dalam menyikapi pandemi Corona, hal itu tentu saja akan menjadikan masyarakat kita memiliki immune pengetahuan dan sikap yang lebih bijak untuk melangkah lebih sehat dan kuat.

Dengan  begitu gencarnya magnitude berita-berita di media sosial, saya kira Pemerintah sudah dengan sigap bertindak dengan dibuatnya Gugus Tugas Covid-19 untuk menindaklanjuti pandemi wabah ini. Berangkat dari semua itu, diharapkan semua lapisan masyarakat harus mengedepankan sikap kedewasaan dalam memperoleh informasi secara sahih. Masyarakat kita perlu penyadaran dan kesadaran aksesbilitas informasi yang benar dan komprehensif. Di samping itu, perlunya kemampuan dalam memfilter informasi yang beredar dan menghindari menyebar informasi yang tidak diketahui sumbernya.

Para pemegang “otoritas” agama kiranya juga perlu juga secara cerdas menyampaikan keseimbangan informasi agar nantinya konstruksi persepsi audiens terhadap pandemi Corona semakin baik. Informasi yang baik yang dimaksud tentunya yang mencerdaskan masyarakat, bukan menambah kalut, panik, bahkan ketidakpastian. Melalui tulisan ini, apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, saya hanya berharap mudah-mudahan situasi semakin kondusif dan semakin tercerahkan. []

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Lukis Alam

Master

Dr. Lukis Alam SS.,M.Eng.,MSI adalah Dosen tetap di Institut Teknologi Nasional Yogyakarta, mengajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Ia lulusan berpredikat Cumlaude program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta & Magister Studi Islam UII Yogyakarta. Pendidikan S1 Bahasa & Sastra Arab ia selesaikan di UIN Sunan Kalijaga (2005), S2 Information Technology Engineering ia tuntaskan di UGM (2007), S2 Studi Islam ia selesaikan tahun 2015 dari UII Yogyakarta, sedangkan S3 ia selesaikan di tahun 2019. Selain mengajar ia aktif di Adpisi (Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam) dan Penggiat di CITRUS (Center of Religion Transparency Studies & Societies).

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals